25 C
Sidoarjo
Monday, March 9, 2026
spot_img

Dampak Perang dalam Dunia Kesehatan

Oleh :
Oryz Setiawan
Alumni Fakultas Kesehatan Masyarakat (Public Health) Unair Surabaya.

Perang Iran versus Amerika-Israel sudah berlangsung hampir memasuki dua pekan. Di tengah suasana Bulan Suci Ramadhan, tampaknya tanda-tanda mereda belum juga menemui titik terang. Namun demikian dampak langsung bagi negara-negara dunia juga sudah mulai terasa terutama di Indonesia. Dominasi impor berbagai komoditas bahan pokok termasuk sektor energi dan pangan menjadi faktor krusial yang sangat berpengaruh langsung memantik gejolak sosial. Fenomena panic buying sudah mulai muncul terutama pada pembelian bahan bakar minyak (BBM) dimana stok cadangan BBM di Indonesia hanya 20 hari apalagi menjelang momen lebaran dan arus mudik-balik sehingga ketahanan energi harus benar-benar disiapkan secara matang. Memang harus diakui bahwa dampak perang dan konflik geopolitik global terhadap dunia kesehatan di Indonesia bersifat multidimensional, memengaruhi dari sisi rantai pasok medis hingga beban penyakit masyarakat. Meskipun tidak terlibat konflik bersenjata langsung, Indonesia merasakan dampak tidak langsung yang signifikan, terutama pada sektor ketahanan kesehatan. Berbagai macam program kesehatan sangat terkait erat dengan komponen pembiayaan kesehatan terutama di sektor layanan kesehatan.

Setidaknya terdapat beberapa dampak perang dalam dunia kesehatan di Indonesia antara lain : Pertama, adanya potensi gangguan rantai pasok alat kesehatan (medis) dan ketersediaan obat-obatan yang notabene adalah dominasi ketergantungan terhadap luar negeri. Selain itu faktor perang dagang dan konflik global menyebabkan gangguan pada rantai pasok global. Hal ini berakibat pada rumitnya perizinan dan hambatan dalam industri alat kesehatan (alkes) dalam negeri yang pada akhirnya akan menyebabkan kelangkaan kritis alat pelindung diri (APD), obat-obatan, dan komponen medis. Oleh karena itu problem ini mengakibatkan penundaan perawatan pasien, peningkatan biaya operasional dapat mencapai 25 miliar dollar per tahun, serta risiko keselamatan akibat ketergantungan pada sumber rantai pasok yang kian terbatas. Kedua, memicu ekskalasi terjadinya inflasi atas biaya layanan kesehatan. Konflik global berkontribusi pada kenaikan harga kebutuhan medis. Potensi terjadinya lonjakan biaya impor bahan baku terhadap obat-obatan dan alat-alat kesehatan dimana proporsi impor bahan baku mencapai 90 persen. Dengan kata lain sebagai besar bahan baku komponen komoditas kesehatan masih sangat tergantung dari impor.

Berita Terkait :  Alun-alun Probolinggo Kembali Dibuka, Pemkot Ingatkan Soal PKL dan Perawatan

Ketiga, terjadinya inflasi medis yang tinggi. Inflasi medis di Indonesia yang jauh melampaui rata-rata global. Faktor utamanya meliputi ketergantungan (90%) pada impor bahan baku obat, adopsi teknologi medis mahal, dan peningkatan penyakit kronis. Kenaikan ini membebani industri asuransi dan meningkatkan risiko finansial bagi masyarakat sehingga kondisi sosial ekonomi masyarakat kian tertekan terutama pada kelompok masyarakat menengah kebawah. Keempat, proyeksi kenaikan harga berlanjut. Kondisi tersebut dipicu oleh kombinasi faktor inflasi, tekanan geopolitik, dan peningkatan biaya produksi, terutama pada komoditas emas, pangan, dan barang teknologi. Jika kenaikan tidak terkendali maka akan berakibat jauh lebih buruk. Selain itu juga berdampak pada terjadinya krisis kesehatan mental dan sosial. Kejadian nun jauh di sana, saat ini adanya kemajuan teknologi dan digitalisasi yang kian masif kian mendekatkan diri dengan masyarakat dunia tak terkecuali Indonesia.

Konflik internasional memengaruhi kesehatan mental masyarakat, terutama terkait ketidakpastian ekonomi dan rasa takut akan eskalasi global. Informasi perang tentu memiliki dampak tidak langsung terhadap kesehatan mental masyarakat Indonesia. Meskipun tidak terlibat secara fisik, ketegangan geopolitik ini menimbulkan kecemasan dan rasa stres psikologis. Dalam dunia psikologi, terdapat fenomena terjadinya peningkatan kecemasan akibat berita (Doomscrolling) dimana terjadinya paparan terus-menerus terhadap berita perang dan kehancuran, terutama melalui media sosial, menimbulkan kecemasan akut, ketakutan, dan stres. Selain itu juga rentan memicu perasaan stres terkait ketidakpastian sosial ekonomi dimana konflik ini mengancam akan menaikkan harga minyak dunia, yang berdampak pada pengurangan subsidi BBM di Indonesia yang pada akhirnya akan terjadi kenaikan harga kebutuhan pokok dan lainnya. Secara keseluruhan, perang jelas tidak ada yang diuntungkan karena daya rusak persenjataan begitu dahsyat. Adu kecanggihan teknologi senjata dalam peperangan akan menciptakan ketakutan dan kecemasan yang luar biasa bagi negara-negara yang berkonflik langsung maupun yang tidak berkonflik. Oleh karena itu dalam konfigurasi dan dunia kesehatan, akibat ketidakpastian global yang memaksa Indonesia meningkatkan kemandirian ketahanan kesehatan terutama di sektor ketersediaan farmasi dan alkes, serta meningkatkan kewaspadaan terhadap krisis kesehatan global.

Berita Terkait :  Bupati Ponorogo Berangkatkan Truk Air untuk Enam Desa Terdampak Kekeringan

———— *** ————-

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow
spot_img

Berita Terbaru

error: Content is protected !!