Pasuruan, Bhirawa
Bulan suci Ramadan 1447 Hijriah menjadi momentum emas bagi Dinas Pendidikan (Dispendik) Kabupaten Pasuruan untuk memoles karakter generasi muda. Lewat program Pondok Ramadan, ribuan siswa SD hingga SMP se-Kabupaten Pasuruan diajak menyelami nilai-nilai akhlakul karimah selama tiga hari penuh.
Secara simbolis, kegiatan tersebut dibuka oleh Wakil Bupati Pasuruan, HM Shobih Asrori dari Aula Dinas Pendidikan Kabupaten Pasuruan, Selasa (24/2).
Menurut wakil bupati yang akrab disapa Gus Shobih, bahwa urusan mencetak masyarakat yang saleh tidak bisa dilakukan secara instan. “Kesalehan itu harus dipupuk sejak dini. Inilah pondasinya. Apalagi, menambah kesalehan masyarakat adalah visi utama saya bersama Pak Bupati Rusdi,” ujar Gus Shobih di hadapan para pendidik.
Gus Shobih berpesan agar seluruh partisipan menjalani kegiatan ini dengan hati yang riang. “Ikuti dengan seksama dan senang. Kalau hati senang, manfaatnya pasti akan lebih meresap ke dalam diri,” papar Gus Shobih.
Kepala Dispendik Kabupaten Pasuruan Tris Krisni Astuti, melalui Kabid Pembinaan SD, M Syamsudin, menambahkan pelaksanaan Pondok Ramadan kali ini dibuat bergelombang.
Untuk jenjang SMP, kegiatan digeber mulai 26 hingga 28 Februari. Sementara untuk jenjang SD, menyusul pada 27 hingga 29 Februari 2026. Menariknya, Dispendik memberikan lampu hijau bagi sekolah yang ingin menerapkan sistem menginap.
“Kalau mau menginapkan anak didik, silakan. Kami perbolehkan dan serahkan tanggung jawab sepenuhnya ke lembaga masing-masing. Mau pakai sistem pulang-pergi pun tidak masalah,” imbuh Syamsudin.
Agenda di dalam pondok pun dipastikan padat dan bervariasi. Tidak hanya duduk mendengarkan ceramah, para siswa bakal diajak mempraktikkan langsung nilai-nilai ibadah. Mulai dari tadarus Al-Qur’an, salat Dhuha dan Zuhur berjamaah hingga aksi nyata berupa bakti sosial dan santunan.
Tak ketinggalan, atmosfer kompetisi juga dihadirkan lewat lomba-lomba Islami untuk membakar semangat para siswa.
Syamsudin menekankan bahwa guru dan tenaga kependidikan tidak boleh hanya jadi penonton. “Semua harus terlibat. Guru dan staf juga wajib menyemarakkan. Jadi, aura Ramadhan benar-benar terasa di lingkungan sekolah,” kata Syamsudin. [hil.wwn]


