Surabaya, Bhirawa
Meski capaian Bangga Kencana (Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana) di Jawa Timur mengalami tren positif, namun provinsi ujung pulau Jawa inimasih dihadapkan pada fenomena 3900 perkawinan anak yang beresiko pada kenaikan stunting dan perceraian.
Simpulan ini muncul Rapat Evaluasi Program Bangga Kencana Tahun 2025 yang digelar Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN melalui Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Timur , Jumat (27/2).
Forum ini menjadi ajang konsolidasi dan penguatan sinergi antara perwakilan provinsi dengan OPD KB di 38 kabupaten/kota se-Jatim.
Kegiatan yang berlangsung di Surabaya tersebut dihadiri Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Timur sekaligus Plt Deputi Bidang Penggerakan dan Peran Serta Masyarakat Kemendukbangga/BKKBN, Maria Ernawati, Pj Kepala Perwakilan BKKBN Jatim Sukamto, Sekretaris BKKBN Jatim Ghana Renaldi Pasca Surya, serta jajaran ketua tim kerja. Hadir pula moderator Prof. Lutfi Agus Salim dan seluruh Kepala OPD KB kabupaten/kota.
Dalam sambutannya, Maria Ernawati menegaskan rapat evaluasi ini tidak sekadar menilai capaian, tetapi juga merumuskan langkah strategis pelaksanaan Program Bangga Kencana tahun berjalan. Menurutnya, sejumlah indikator kinerja di Jawa Timur menunjukkan hasil menggembirakan.
“Capaian ini lahir dari sinergi kuat antara perwakilan provinsi dan OPD KB kabupaten/kota. Kolaborasi menjadi kunci keberhasilan pengelolaan Program Bangga Kencana di Jawa Timur,” ujarnya.
Ia menjelaskan, terdapat dua fokus utama yang menjadi perhatian, yakni stabilitas demografi dan pembangunan keluarga berbasis siklus hidup. Stabilitas demografi di Jatim dinilai terjaga dengan Total Fertility Rate (TFR) berada di angka 1,96 atau di bawah angka pengganti.
Sementara pembangunan keluarga dilakukan melalui pendampingan berbasis siklus hidup, mulai dari balita, remaja hingga lansia. Seluruh intervensi tersebut, kata dia, telah memenuhi target yang ditetapkan.
Pada aspek percepatan penurunan stunting, Jawa Timur mencatat angka 14,7 persen, lebih rendah dibanding rata-rata nasional 19,8 persen. Capaian ini dinilai sebagai bentuk komitmen daerah dalam mendukung target nasional.
Maria juga menekankan penguatan delapan fungsi keluarga, mulai fungsi keagamaan, sosial budaya, cinta kasih, perlindungan, reproduksi, pendidikan, ekonomi, hingga pembinaan lingkungan. Ia menyoroti persoalan sampah rumah tangga yang mencapai sekitar 60 persen dari total sampah harian, sehingga edukasi pengelolaan sampah berbasis keluarga menjadi isu strategis.
“Jika pondasi keluarga kuat, maka ketahanan keluarga akan kokoh. Dari keluarga yang kuat akan lahir generasi berkualitas,” tegasnya.
Selain itu, persoalan perkawinan anak turut menjadi perhatian. Berdasarkan data yang dipaparkan, tercatat sekitar 3.900 kasus perkawinan anak di Jawa Timur. Pernikahan di bawah usia 19 tahun dinilai berisiko terhadap meningkatnya stunting, perceraian dan rapuhnya ketahanan keluarga.
Sebagai langkah intervensi, BKKBN memperkuat program Sekolah Orang Tua Hebat (SOTH), Bina Keluarga Remaja, serta pendampingan keluarga berisiko. Upaya ini diharapkan mampu menekan angka perkawinan anak sekaligus meningkatkan kesadaran perencanaan kehidupan berkeluarga.
Rapat evaluasi ini juga dirangkaikan dengan momen purna bakti Maria Ernawati sebagai Kepala Perwakilan BKKBN Jatim. Melalui forum tersebut, BKKBN Jatim bersama OPD KB 38 kabupaten/kota berkomitmen menyelaraskan strategi agar pelaksanaan Program Bangga Kencana 2025 semakin efektif dan berdampak langsung bagi masyarakat. [fir.gat]


