Pasuruan, Bhirawa
Gelombang kekecewaan melanda insan olahraga Kota Pasuruan. Ratusan massa yang tergabung dalam GM FKPPI bersama para pelatih dan atlet mendatangi Kantor Wali Kota Pasuruan di Jalan Pahlawan, Senin (2/3).
Mereka menagih janji, bonus prestasi Porprov 2025 yang cair tak sesuai kesepakatan. Aksi tersebut dipicu oleh realisasi nilai penghargaan medali yang terjun bebas dari angka yang dijanjikan sebelumnya.
Massa membawa berbagai atribut protes sebagai simbol perlawanan atas kebijakan yang dinilai mencekik kesejahteraan atlet tersebut.
Ketua GM FKPPI Pasuruan, Ayi Suhaya, dalam orasinya menegaskan kondisi para pejuang olahraga saat ini sangat memprihatinkan. Bagaimana tidak, persiapan selama 1,5 tahun dengan biaya mandiri yang tak sedikit justru hanya dibalas dengan pemangkasan bonus secara sepihak.
“Latihan dilakukan 1,5 tahun dengan biaya besar. Tapi apa yang diberikan kepada atlet yang mengharumkan nama daerah sama sekali tidak sebanding,” teriak Ayi Suhaya dengan nada tinggi dari depan kantor Wali Kota Pasuruan.
Data yang dihimpun menunjukkan penurunan nilai bonus yang sangat mencolok. Untuk kategori medali emas, janji awal senilai Rp30 juta per keping hanya terealisasi Rp10 juta saat pencairan.
Kondisi serupa menimpa peraih perak dan perunggu yang nilainya dipangkas lebih dari 50 persen. Tentusaja, kebijakan itu memicu alarm bahaya bagi masa depan olahraga Kota Pasuruan. Bila aspirasi ini terus diabaikan, dipastikan akan terjadi eksodus besar-besaran atlet potensial ke daerah lain yang lebih menghargai keringat mereka.
“Mas Wali Kota harus tahu nasib atlet kita. Jika tidak segera diperhatikan, mereka bisa lari ke luar daerah yang menawarkan bonus lebih manusiawi,” kata Ayi Suhaya
Keluhan serupa datang dari perwakilan pelatih, Wahyu. Ia membeberkan beratnya beban operasional selama pembinaan di sasana yang selama ini banyak ditalangi secara mandiri.
Ia mendesak Pemkot Pasuruan segera mengembalikan skema bonus sesuai kesepakatan awal demi menjaga martabat olahraga di Kota Pasuruan. [hil.wwn]


