Perekonomian rumah tangga terasa dihimpit dari berbagai arah. Cuaca ekstrem telah mengurangi pendapatan, menyebabkan penghasilan merosot. Kini ditambah bahan menu “4 Sehat 5 Sempurna,” kompak naik. Terutama harga daging sapi dan daging ayam, melonjak. Diperkirakan semakin membubung hingga memasuki bulan Ramadhan. Sampai ada pedagang di Tangerang tutup lapak. Karena omzet merosot seiring kenaikan harga daging. Ironisnya, ketersediaan daging masih bergantung impor yang sangat besar.
Pedagang dan konsumen (pembeli) sama-sama cermat memantau harga sembako (Sembilan bahan pokok). Ternyata pedagang juga tidak suka harga naik. Karena pasti konsumen akan mengurangi pembelian. Menyesuaikan dengan harga baru. Begitu pula ibu-ibu akan ketat menjaga stablitas pengeluaran rumah tangga. Tetapi gejala “lebih besar pasak dari pada tiang,” selalu mengkhawatirkan. Terutama harga cabai rawit merah semakin pedas, mencapai Rp 90 ribu per-kilogram.
Harga bahan pangan semakin mahal selaras dengan jarak dari sentra produksi. Terutama harga beras medium I mencapai Rp 15.750,- per-kilogram. Naik sebesar Rp 2.000 per-kilogram, setara 17%. Kualitas medium II (paling murah) juga mencapai Rp 15.500,-, sekitar 15%. Sedangkan beras premium super I seharga Rp 17.150 per-kilogram. Serta premium II Rp 16.700,-. HET beras berdasar penetapan Badan Pangan Naasional (Bapanas), terbaru mencapai Rp 13.500,-, khusus pada zona I.
Kenaikan HET beras mulai berlaku 22 Agustus 2023. Naik Rp 1000,- sebagai konsekuensi kenaikan harga gabah (Rp 6.500,- per-kilogram). Sekaligus respons desakan petani, karena ongkos ke-pertani-an yang makin mahal. HET paling rendah di zona I, meliputi Jawa, Sumatera, Lampung, Sumsel, Bali, NTB, dan Sulsel. Sedangkan pada II rata-rata lebih mahal sekitar Rp 500,- per-kilogram. Disebabkan tambahan ongkos logistic, dan distribusi. Namun biasanya realita harga beras pada zona II selalu di atas Rp 16 ribu sampai Rp 20.000,-
Berdasar catatan PIHPS (Pusat Informasi Harga Pangan Strategis), seluruh bahan pangan rata-rata naik tipis. Kecuali 4 komoditas bahan pangan utama, cabai rawit merah, daging sapi, daging ayam, dan terlur, mencatat kenaikan harga cukup signifikan. Cabai rawit merah, rata-rata nasional mencapai Rp81.000 per-kg. Sebagian daerah di Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Jakarta, sudah mencapai Rp 90 ribu, dan bergerak naik. Sedangkan jenis cabai lainnya, rawit hijau dan merah keriting cenderung stabil, mencapai Rp 50 ribu, dan Rp 47 ribu.
Sembako utama yang lain, daging sapi, dan daging ayam, juga naik. Padahal Bapanas (sekaligus Menteri Pertanian) menetapkan harga daging sapi hidup, senilai Rp 55 ribu per-kilogram. Maka misalnya, harga seekor sapi hidup dengan berat badan 400 kilogram, harganya mencapai Rp 22 juta per-ekor. Harga daging sapi hidup Bapanas sudah mempertimbangan demand yang biasa naik pada bulan Ramadhan sampai Idul Fitri. Bapanas juga menetapkan harga daging sapi di pasar, tidak lebih dari Rp 140 ribu per-kilogram.
Penetapan harga, tidak boleh dilanggar selama Hari Besar Nasional Keagamaan (HBNK). Sehingga pedagang daging ruminansia (karkas sapi potong) dapat memberikan harga ke-ekonomi-an yang wajar ke masyarakat. Beberapa pedagang daging, pedagang cabai, dan pedagang daging ayam, menyatakan tidak suka harga naik. Seluruh pedagang komoditas bahan pangan tidak suka harga naik. Karena menyebabkan omzet turun. Terutama pemilik warung, mengurangi pembelian cabai sampai 50%. Penghasilan juga turun.
Pemerintah aktif memantau ketersediaan pangan, sekaligus memantau pergerakan harga. Maka wajib dicegah spekulasi kenaikan harga Sembako yang meliar, dengan “mengejar” distributor, dan produsen.
——— 000 ———

