Oleh:
Wiwieko Dh, Kab. Tulungagung
Jemari tangan berkuku runcing berwarana hitam itu tiba-tiba muncul di alam bawah sadar Maya. Ia pun berteriak histeris. Takut tangan itu akan mencekik leher atau menghempaskan badannya.
Seketika itu pula, Maya terbangun dari mimpi buruknya. Terbangun dari tidur sesaat di ruang kelasnya di SMAN 1 Ngunut.
Itu sepenggal adegan di film pendek Pangilon. Film bergenre horror untuk semua kalangan umur atau kategori aman yang disutradarai David Dhuha. Sineas muda asal Kota Marmer Tulungagung.
David Dhuha mengungkapkan film pendek Pangilon merupakan film edukasi yang sarat pesan kebudayaan, meski dibungkus adegan horor. Khususnya tentang warisan budaya Kerajaan Majapahit di Tulungagung.
“Kami ingin membuat film yang tidak hanya menghibur, tapi juga memberi tuntunan edukatif. Banyak generasi muda yang mulai lupa soal sejarah dan asal-usulnya. Lewat Pangilon, kami ingin mengajak penonton memahami diri melalui refleksi budaya,” ujarnya.
Pangilon dalam bahasa Jawa mempunyai arti mengaca atau bercermin. David berharap melalui film Pangilon yang didukung penuh oleh Kementerian Kebudayaan RI melalui Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI bersama Loopz Creative Production dapat mengajak penonton untuk bercermin tentang siapa diri mereka.
“Dari mana berasal, dan bagaimana jejak budaya membentuk identitas,” imbuhnya.
Syuting film Pangilon lebih banyak berlokasi di situs Tulungrejo. Salah satu situs peninggalan Kerajaan Majapahit yang berada di Kecamatan Karangrejo Kabupaten Tulungagung. Selain juga di lokasi SMAN 1 Ngunut, di mana sebagian besar para pemeran utamanya bersekolah di sana.
Seperti Anggi Lasika yang berperan sebagai Maya dan Mizha Adil Liya sebagai Meta.
Situs Tulungrejo merupakan situs peninggalan Kerajaan Majapahit yang menyimpan peninggalan bersejarah penting seperti situs Reco Guru (arca Ratu Suhita), situs Reco Manten serta struktur Umpak dan Yoni tua.
Menariknya, di situs Reco Manten terdapat arca yang menggambarkan sosok pria dan wanita berdampingan. Sosok wanita tersebut memegang darpana atau cermin dan diidentifikasi sebagai Dewi Parwati, selain memiliki penggambaran raut wajah yang mirip dengan arca perwujudan Suhita di situs Reco Guru.
Darpana atau cermin ini yang kemudian menjadi awal kejadian horor dalam alur cerita film pendek Pangilon. Tokoh Maya yang saat bersama gurunya datang ke situs tersebut, tiba-tiba menemukan cermin tua dionggokan lumpur.
Perempuan yang digambarkan sebagai selegram ini tidak memberitahu tentang penemuannya itu. Bahkan ia justru membawa pulang cermin tua itu dengan dimasukkan dalam tas sekolahnya. Padahal, ia sudah diberitahu jika menemukan benda purbakala di sekitar situs dilarang untuk dibawa pulang ke rumah.
Menurut David, selain melibatkan siswa SMAN 1 Ngunut, para pekerja kreatif dalam film tersebut juga berasal dari Tulungagung dan sekitarnya. Termasuk original soundtrack (OST) film-nya yang merupakan karya pencipta lagu dari Tulungagung.
Ia berharap komposisi para pemuda itu dapat mampu merepresentasikan semangat generasi baru dalam memahami sejarah.
“Kami pun berharap dengan film ini bisa menjadi jembatan agar pemuda lebih menghargai sejarah dan budaya lokal,” tuturnya.
Sementara itu, Wakil Ketua Komisi E DPRD Jatim, Jairi Irawan, mengapresiasi karya film pendek Pangilon. Apalagi, ia menonton secara langsung film tersebut saat pemutaran perdana pada Kamis (12/2) siang.
Jairi Irawan menilai film pendek Pangilon merupakan karya kreatif yang menjadi langkah nyata dalam menjaga memori kolektif masyarakat.
“Banyak yang hanya berteori tentang pelestarian budaya. Tapi aksi nyata seperti ini yang perlu dilakukan. Film bisa menjadi media untuk menjaga memory kolektif masyarakat agar tetap terjaga dan bisa dinikmati sepanjang waktu,” paparnya.
Ia pun berharap pula ke depan ada kolaborasi yang lebih luas. Tak terkecuali dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jatim. “Harapannya tentu karya-karya berbasis sejarah lokal semakin berkembang dan memberi dampak positif bagi daerah,” pungkasnya. [wed.gat]

