26 C
Sidoarjo
Monday, February 9, 2026
spot_img

Berbasis Mikrokontroler, Mahasiswa Untag Ciptakan Alat Pengering dan Pemisah Gabah


Surabaya, Bhirawa
Mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) membuat inovasi untuk sektor pertanian melalui alat berbasis mikrokontroler yang mampu memisahkan sekaligus mengeringkan gabah secara otomatis menggunakan sensor suhu dan kelembapan.

Inovasi mahasiswa Program Studi Teknik Elektro Fakultas Teknologi Elektro dan Informatika Cerdas (FTEIC) Untag Surabaya tersebut berawal dari permasalahan nyata di lapangan, dimana proses pengeringan gabah masih bergantung pada cuaca dan tenaga manual sehingga berisiko menurunkan kualitas hasil panen. Senin, (9/2)

Mahasiwa FTEIC Untag Surabaya, Nur Ahmad Justine Ivana, mengukapkan alat dirancang menggunakan sistem kontrol otomatis dengan sensor suhu dan kelembapan sebagai parameter utama pengeringan, heater sebagai sumber panas dalam sistem pengeringan gabah yang dirancang.

“Sistem bekerja secara real-time untuk jaga kestabilan suhu dan mempercepat proses pengeringan gabah nantinya menghasilkan tingkat kekeringan lebih merata dibanding metode tradisional, serta alat mengintegrasikan mekanisme pemisahan gabah dan ampas menggunakan prinsip perbedaan massa jenis dengan bantuan aliran udara blower, proses pascapanen menjadi lebih efisien, cepat, serta berpotensi menekan kerugian petani akibat kadar air yang tidak stabil,” tuturnya.

Lanjut Justine mengukapkan ide penelitian berawal dari kepedulian atas kondisi petani Indonesia terutama pada musim hujan, dengan alat pemanas padi, gabah bisa langsung dikeringkan setelah panen sehingga kualitasnya tetap terjaga dan petani tidak merugi.

“Saya harap Inovasi seperti dapat menjadi kontribusi nyata perguruan tinggi dalam mendukung modernisasi sektor pertanian serta ketahanan pangan nasional,” ucap Justine.

Berita Terkait :  Ciputra Film Festival Ke-4, Wadah Ekspresi Sineas Global

Sementara itu, Dosen Pembimbing, Lutfi Agung Swarga mengatakan Inovasi dirancang menjawab tantangan nyata yang dihadapi para petani di daerah Jawa Timur.

“Inovasi dinilai selaras dengan program ketahanan pangan yang dicanangkan oleh pemerintah, kami dari kampus memberikan dukungan penuh terhadap pengembangan teknologi yang dapat diimplementasikan langsung di berbagai lini, mulai dari industri, pertanian, hingga peternakan,” pungkas Lutfi.

Lutfi menambahkan walapun masih tahap awal pengembangan, saya optimis teknologi ini akan terus disempurnakan supaya segera digunakan secara luas oleh masyarakat, pengembangan diharapkan mampu meningkatkan efisiensi pasca-panen dan memperkuat kemandirian pangan di tingkat desa,” imbuhnya. [ren.kt]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru