Surabaya, Bhirawa
Universitas Kristen (UK) Petra Surabaya mengadakan Seminar internasional “From Farm to Fork” untuk membedah peran krusial logistik dalam menjaga kualitas pangan dan menekan angka food loss maupun food waste di Gedung Radius Prawiro, Kampus UK Petra.
Jerman dikenal miliki pengelolaan rantai pangan unggul dan layak menjadi percontohan, sebab menurut data UNEP Food Waste Index Report tahun 2024, total food waste di Indonesia mencapai lebih dari dua kali lipat dibandingkan Jerman, itu menjadikan Indonesia sebagai negara dengan jumlah sampah makanan rumah tangga terbanyak di Asia Tenggara, Kamis (19/2).
Narasumber dari MĂĽnster School of Business, Prof. Michael Dircksen, menyampaikan bahwa Pengelolaan sisa pangan atau Food Loss Management ialah cara merencanakan dan mengatur seluruh perjalanan makanan mulai dari sawah hingga ke pedagang suoaya bahan pangan yang kita makan tidak terbuang percuma sebelum sampai ke tangan konsumen.
“Sebagai negara kepulauan, Indonesia menghadapi tantangan geografis yang memicu ketimpangan infrastruktur antar wilayah, penanganan bahan pangan belum seragam, dan struktur pasar yang kompleks, yang mana faktor tersebut menciptakan risiko distribusi yang lebih tinggi dan memperbesar peluang terjadinya food loss,” jelasnya.
Lanjut Prof. Michael mengukapkan Indonesia dan Jerman memiliki karakteristik geografis dan infrastruktur yang sangat kontras, dari seminar ini menawarkan perspektif berharga mengenai bagaimana tata kelola yang baik dan inovasi logistik dapat meminimalkan pemborosan pangan. “Berharap seminar memberi pemahaman tepat supaya sistem pangan di Indonesia menjadi lebih rapi dan efisien,” pungkasnya.
Sementara itu, Ketua Program Studi Teknologi Pangan, Dr. Renny Indrawati, S.TP., M.Si., M.Nat.Sc., menjelaskan kualitas makanan tidak cuman ditentukan oleh bahan atau cara memasak, tetapi oleh cara penyimpanan, pengangkutan, dan distribusinya.
“Fenomena ini adalah masalah besar pada Food Supply Chain, atau jalur perjalanan makanan dari hulu yaitu sawah atau kebun sampai ke hilir perut kita, perjalanan tersebut melibatkan beberapa pihak, mulai dari petani, pengepul/pabrik, distributor, pedagang, hingga konsumen, Jika satu pihak saja mengalami kendala atau lambat dalam perjalanannya, maka makanan yang dikirim bisa rusak atau busuk sebelum sampai ke konsumen, itu juga bisa menjadikan sebagai food loss,” ungkapnya.
Renny berharap para perserta setelah mengikuti seminar ini menambah pengetahuan supaya sistem pangan kedepan lebih baik dan tidak terbuang sia-sia sebelum sampai ke piring kita,” imbuhnya. [ren.wwn]

