Pemkot Surabaya, Bhirawa
Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kota Surabaya menggelar Forum Perangkat Daerah dan Forum Konsultasi Publik di Rumah Bhineka, di Jl Nginden Baru 6 Nomor 28 Surabaya, Rabu (18/2) Sore.
Forum Perangkat Daerah dan Forum Konsultasi Publik ini dihadiri perwakilan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Kota Surabaya, Organisasi Kemasyarakatan, camat, lurah, Kepala Badan Narkotika Nasional Kota Surabaya, Kementerian Agama, Ketua Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB), Forum Anak Surabaya, Danramil Sukolilo dan Danramil Gubeng, Kapolsek Sukolilo dan Kapolsek Gubeng dan stakeholder lainnya.
Menurut Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik, Tundjung Iswandaru ST MM, Forum Perangkat Daerah dan Forum Konsultasi Publik ini rutin digelar setiap tahun untuk menyampaikan kegiatan Bakesbangpol Kota Surabaya tahun 2026 dan rencana kerja tahun 2027.
”Capaian apa saja atau apa yang telah dilakukan Bakesbangpol di tahun 2025. Dan di tahun 2026. Sertaapa yang akan dilakukan 2027 mendatang,” kata Tundjung.
Terkait peran serta masyarakat, Tundjung berharap, masyarakat bisa memberikan masukan yang sifatnya membangun. ”Contohnya terkait anggaran untuk menangani penyalahgunaan Narkoba yang hanya sebesar Rp38 juta yang dinilai sangat kurang. Padahal harus berhadapan dengan Bandar Narkoba yang uangnya tidak adaserinya. Anggaran Rp38 juta ini sangat berat untuk menyelamatkan anak cucu kita sebagai generasi muda dari bahaya Narkoba,” tandasnya.
Ke depan Tundjung berharap, Kota Surabaya ini selalu dalam situasi dan kondisi yang kondusif, tidak ada konflik sosial, tidak ada konflik keagamaan, dan selalu dalam situasi aman.
Sementara itu, Wakil Dekan I Fakultas Ilmu Sosial Politik Univeritas Negeri Surabaya, Dr Harmanto MPd,yang mengkritisi kinerja Bakesbangpol Kota Surabaya mengatakan, kegiatan ini untuk konsultasi publik, bukti dari Bangkasbangpol yang program-programnya di tahun 2026 itu untuk diketahui publik, diharapkan ada saran masukan sehingga program-program di 2026 itu diketahui publik baik dari sisi programnya penganggarannya dan sebagainya, sehingga ada keterbukaan.
”Nah, saya diminta untuk mengkritisi program-program yang sudah bagus seperti apa, kemudian yang masih belum seperti apa, dan kira-kira apa yang harus dilakukan ketika program itu dibuat. Ini kelanjutannya sampai tahun 2030 mau seperti apa, sehingga saya tadi mensarankan sampai dengan tahun 2030 ya,” jelas Dr Harmanto.
Misalnya, lanjut Dr Harmanto, misalnya pendidikan politik bagi generasi muda atau pemilih pemula, kan selama ini dilakukan pada saat Pemilu saja yaitu tahun 2029. Nah, masukkannya jangan hanya menjelang ada Pemilu, tetap harus dimajukan sehingga mulai tahun 2027, 2028, 2029. Supaya tingkat partisipasi pemilih pemula di Kota Surabaya itu naik. Berarti kalau pendidikan politiknya panjang maka warga akan dilihat kinerja Bakesbangpol ini.
Contohnya lagi, misalnya tentang game kebangsaan itu sangat menarik. Kenapa karena anak-anak Gen Z sekarang kalau diceramahi pasti tidak akan mau, tetapi kalau diberikan game, kemudian diminta pendapatnya itu. ”Saya pikir lebih menarik, apalagi ini ada niat dari game ini akan diintegrasikan di sekolah. Saya pikir itu sangat menarik, jangan-jangan nanti malah pendidikan Pancasila nya tidak menarik tapi lebih menarik gamenya,” ujar Dr Harmanto.
Kinerjanya Bakesbangpol itu tidak nampak, misalnya kesadaran toleransi kerukunan itu kan enggak nampak, hal iniberbeda dengan, misalnya teman-teman Dinas Pertamananyang masalah taman itu jelas terlihat ada taman. Dinas yang mengurusi mengurusi banjir kelihatan pokoknya ada banjir atau tidak ada banjir, kinerjanya jelas.
”Tetapi kalau Bakesbangpol yang mengurusi masalah yang tidak nampak. Misalnya, kesadaran, tolerasi, kerukukan itu tolok ukurnya tidak nampak. Tapi kita harus suport. Kenapa, karena itu menjadi tolok ukurnya. Misalnya, selama ini Kota Surabaya itu aman-aman saja. Tapi kita tidak menyangka ketika tiba-tiba ada demo seperti yang terjadi pada Agustus 2025 lalu. Itu yang harus kita jaga, jangan sempai terjadi lagi. Kenapa ? Karena Bakesbangpol itu leading sektornya,” tandasnya Dr Harmanto. [fen.hel]


