Kota Kediri, Bhirawa
Upaya pengendalian banjir di Kota Kediri memasuki fase baru. Pemerintah Kota Kediri memastikan akan meninjau ulang master plan drainase pada 2026 dengan menggunakan data primer hasil survei lapangan, menyusul masih seringnya genangan air terjadi saat hujan berintensitas tinggi.
Melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (Dinas PUPR), review master plan drainase tersebut dilakukan sebagai respons atas keluhan masyarakat terkait banjir yang masih menggenangi sejumlah ruas jalan. Master plan lama dinilai perlu diperbarui agar sesuai dengan perkembangan kondisi Kota Kediri.
Kepala Dinas PUPR Kota Kediri, Endang Kartika Sari, mengatakan penyusunan master plan drainase baru akan difokuskan pada penentuan debit air berbasis data lapangan. Berbeda dari sebelumnya yang menggunakan data sekunder, kajian kali ini akan dilakukan melalui survei langsung.
“Untuk pengendalian banjir, kita akan melakukan review master plan drainase untuk menentukan debit air. Master plan sebelumnya disusun menggunakan data sekunder. Di 2026 ini kita susun menggunakan data primer melalui survei langsung di lapangan,” ujar Endang, Minggu (11/1).
Ia menjelaskan, kajian tersebut meliputi pengukuran dimensi saluran, pemetaan aliran air, serta pembaruan data curah hujan. Data ini akan menjadi dasar dalam menentukan kapasitas drainase yang mampu mengantisipasi hujan hingga 10 tahun ke depan.
Kajian master plan drainase direncanakan mulai dilaksanakan pada 2026 dan ditargetkan rampung pada pertengahan tahun. Dari hasil kajian tersebut, Dinas PUPR akan memetakan saluran-saluran yang dimensinya sudah tidak sesuai untuk kemudian direhabilitasi secara bertahap.
Sejumlah titik rawan genangan menjadi perhatian, di antaranya perempatan Reco Pentung di Jalan Kilisuci dan kawasan Jalan Joyoboyo. Di Jalan Pattimura, saluran utama dinilai relatif memadai, namun persoalan masih ditemukan pada jalur penunjang.
“Di Jalan Panglima Sudirman, tahun 2026 ini akan kita selesaikan sampai ke saluran di sisi Ramayana. Crossing-nya akan kita perbesar untuk mengurai genangan yang terjadi di Jalan Pattimura,” jelasnya.
Menurut Endang, genangan di kawasan tersebut dipicu oleh crossing drainase di samping Ramayana yang posisinya terlalu rendah dan berdimensi kecil. Dinas PUPR berencana memperbesar saluran menggunakan box cover agar aliran air lebih lancar.
Selain itu, penanganan drainase juga dilakukan di Jalan Dr. Saharjo untuk mengurangi genangan yang berdampak ke kawasan Lirboyo dan Jalan Veteran. Untuk proyek di Jalan Panglima Sudirman, Pemkot Kediri mengalokasikan anggaran sekitar Rp6 miliar. Sementara penanganan drainase di Jalan Dr. Saharjo disiapkan anggaran sebesar Rp1,2 miliar.
Endang menegaskan, review master plan drainase diharapkan menjadi pijakan agar penanganan banjir di Kota Kediri tidak lagi bersifat reaktif. Dengan basis data primer dan pemetaan lapangan, Dinas PUPR ingin memastikan setiap pembangunan drainase benar-benar menjawab persoalan aliran air perkotaan. [van,nov.kt]

