“Seluruh komponen masyarakat, termasuk organisasi kemahasiswaan seperti PMII, harus mengambil peran aktif”
Purwokerto, Bhirawa
Anggota Komisi VII DPR RI Siti Mukaromah mengajak kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) meningkatkan kepedulian terhadap persoalan kesehatan mental remaja yang dinilai kian mengkhawatirkan dan membutuhkan perhatian bersama.
“Persoalan kesehatan mental anak dan remaja hari ini adalah hal yang sangat serius dan penting. Ini tidak bisa dianggap biasa,” kata Siti Mukaromah saat ditemui usai membuka Konferensi Cabang XL PMII Purwokerto di Gedung Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Rabu petang.
Menurut dia, situasi nasional maupun internasional yang tidak stabil turut memberi dampak terhadap kondisi psikologis generasi muda.
Oleh karena itu, kata dia, mahasiswa sebagai bagian dari gerakan intelektual dan sosial harus peka terhadap dinamika tersebut.
“Kita tidak bisa memungkiri situasi hari ini, baik nasional maupun internasional. PMII sebagai bagian dari gerakan mahasiswa harus melihat itu sebagai persoalan yang perlu disikapi dengan gerakan positif, entah melalui konsolidasi, edukasi, maupun aksi sosial,” kata legislator asal Daerah Pemilihan Jawa Tengah VIII (Banyumas dan Cilacap) itu.
Berdasarkan data, kata dia, dalam satu tahun terakhir terdapat 115 kasus bunuh diri anak di Indonesia, yang mayoritas terjadi pada anak di bawah usia 15 tahun.
Menurut dia, angka tersebut menjadi alarm keras bagi seluruh elemen bangsa.
“Banyak faktor penyebabnya, mulai dari broken home, persoalan sosial, ekonomi, pendidikan, hingga bullying (perundungan) dan kekerasan. Anak-anak ini sering kali merasa sendirian dan tidak memiliki tempat untuk bercerita,” kata perempuan yang akrab disapa Erma itu.
Dia mengatakan, persoalan kesehatan mental tidak bisa hanya dibebankan kepada keluarga atau pemerintah semata.
Menurut dia, seluruh komponen masyarakat, termasuk organisasi kemahasiswaan seperti PMII, harus mengambil peran aktif.
Terkait dengan hal itu, dia mendorong agar momentum konferensi cabang tersebut dimanfaatkan untuk merumuskan agenda konkret, termasuk pembentukan sukarelawan atau pendamping sebaya yang peduli terhadap isu kesehatan mental di lingkungan kampus maupun masyarakat.
“Kita berharap PMII Purwokerto bisa melahirkan volunteer-volunteer yang siap membantu pendampingan anak-anak dan remaja. Nanti mereka juga bisa didampingi oleh psikolog agar penanganannya tepat,” katanya.
Menurut dia, pengalaman menunjukkan banyak anak yang semula mengalami perundungan atau tekanan berat dapat bangkit ketika mendapatkan pendampingan dan dukungan yang tepat.
Dalam hal ini, kata dia, kesadaran bahwa mereka tidak sendiri menjadi titik balik yang sangat berarti.
Lebih lanjut, dia menegaskan penguatan mental generasi muda merupakan fondasi penting untuk mewujudkan Generasi Emas 2045 yang tangguh, berdaya saing, dan siap memimpin bangsa di berbagai sektor.
“Kalau mental mereka kuat, mereka tidak mudah putus asa. Mereka bisa bangkit, bahkan membantu teman-temannya yang mengalami hal serupa. Inilah yang kita harapkan dari kader-kader PMII,” kata Erma. [ant.kt]


