Jakarta, Bhirawa
Anggota Komisi VI DPR RI Christiany Eugenia Tetty Paruntu, meminta PT Pertamina (Persero) memperkuat langkah antisipatif dalam pengadaan dan distribusi energi nasional sebagai respons terhadap ketegangan geopolitik melibatkan Iran dan Amerika Serikat yang kembali memicu lonjakan volatilitas harga minyak dunia.
“Kita tidak boleh lengah. Stabilitas energi adalah fondasi stabilitas ekonomi nasional,” kata Christiany di Jakarta, Selasa.
Eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah bahkan memunculkan kekhawatiran terganggunya jalur distribusi strategis seperti Selat Hormuz yang menjadi salah satu urat nadi perdagangan minyak global.
Dalam asumsi APBN 2026, harga minyak mentah Indonesia (ICP) dipatok sebesar 70 dolar AS per barel, namun perkembangan situasi global berpotensi mendorong harga melampaui angka tersebut dan memberi tekanan serius terhadap fiskal negara.
Ia mengingatkan bahwa Indonesia masih mengimpor minyak mentah, BBM, dan LPG dengan nilai mencapai sekitar 15 miliar dolar AS atau setara lebih dari Rp250 triliun per tahun. Ketergantungan pada pasokan dari kawasan Timur Tengah membuat Indonesia sangat sensitif terhadap gejolak harga global.
Menurut Christiany, setiap kenaikan harga minyak mentah di atas asumsi APBN dapat berdampak langsung pada peningkatan beban subsidi dan kompensasi energi. Jika harga minyak dunia melonjak hingga mendekati 80–100 dolar AS per barel sebagaimana diproyeksikan sejumlah analis global, tekanan terhadap APBN, nilai tukar rupiah, serta inflasi domestik berpotensi meningkat.
Ia juga menyoroti pentingnya menjaga kecukupan stok dan kelancaran distribusi, terutama periode Ramadan dan Idul Fitri di mana konsumsi energi masyarakat meningkat signifikan. Penguatan cadangan operasional, diversifikasi sumber impor, serta optimalisasi kilang domestik dinilai menjadi langkah strategis untuk memitigasi risiko gangguan pasokan.
Menutup pernyataannya, Christiany Eugenia Paruntu menegaskan komitmennya di Komisi VI DPR RI untuk terus mengawal kebijakan ketahanan energi nasional. Ia berharap pemerintah dan Pertamina dapat bersinergi menjaga stabilitas pasokan dan harga energi di Indonesia, sehingga masyarakat tetap terlindungi dari dampak gejolak geopolitik global dan tekanan ekonomi yang lebih luas. [ant.kt]


