Jakarta, Bhirawa
Anggota Komisi X DPR RI Reni Astuti mendukung langkah pemerintah mempertahankan pelaksanaan pembelajaran tatap muka, dibandingkan dengan menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) untuk menghemat energi di tengah dinamika global.
Menurut Reni, hingga saat ini model pembelajaran tatap muka masih menjadi metode paling optimal dalam mendukung proses belajar mengajar karena interaksi langsung antara guru dan siswa berperan penting dalam pembentukan karakter, pemahaman materi, serta perkembangan sosial peserta didik.
“Sekolah tatap muka tetap menjadi pilihan terbaik saat ini karena memberikan pengalaman belajar yang lebih utuh, baik dari sisi akademik maupun pembentukan karakter,” kata dia di Jakarta, Kamis.
Dia mengatakan hal tersebut sebagai respons terhadap pemberitaan yang berkembang terkait dengan kebijakan sekolah daring yang sempat digulirkan pemerintah beberapa waktu lalu.
Ia mengingatkan setiap keputusan yang diambil pemerintah harus melalui proses kajian yang komprehensif, berbasis data, serta mempertimbangkan dampak jangka panjang bagi peserta didik.
“Dalam membuat kebijakan, dalam hal ini sektor pendidikan, kita tidak boleh mengambil keputusan secara terburu-buru. Semua kebijakan harus melalui kajian yang mendalam agar tidak menimbulkan dampak negatif bagi siswa,” ujar Reni.
Oleh karena itu, ia mendukung pembatalan wacana pembelajaran jarak jauh yang dilakukan oleh Mendikdasmen Abdul Mu’ti pada Rabu (25/3).
Ia mengingatkan bahwa inovasi dalam pendidikan tetap diperlukan, namun harus diimplementasikan secara terukur dan tidak mengorbankan kualitas pembelajaran.
Ia mendorong pemerintah melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk tenaga pendidik, orang tua, dan pakar pendidikan dalam setiap perumusan kebijakan.
Ia berharap, setiap kebijakan pendidikan yang diambil benar-benar berpihak pada kepentingan terbaik peserta didik serta mampu meningkatkan kualitas pendidikan nasional secara berkelanjutan.
“Tujuan utama pendidikan adalah mencetak generasi yang unggul. Oleh karena itu, setiap kebijakan harus benar-benar matang dan berorientasi pada masa depan anak-anak kita,” kata dia.
Sebelumnya, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menegaskan bahwa kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung di sekolah setelah rangkaian libur Idul Fitri.
Ia mengatakan wacana penerapan kegiatan belajar mengajar secara hibrida (daring dan luring) dibatalkan karena mempertimbangkan aspek akademik dan penguatan pendidikan karakter para murid.
“Sesuai hasil rapat lintas kementerian pada 23 Maret, pembelajaran di sekolah dilaksanakan sebagaimana biasa dengan pertimbangan akademik dan penguatan pendidikan karakter,” kata dia.[ant.kt]


