29.5 C
Sidoarjo
Thursday, October 22, 2026
spot_img

Refleksi Hari Santri Nasional, Santri Penjaga Moral dan Garda terdepan Generasi Emas Indonesia

Oleh :
Ahya M Maghfur Arifin
Kepala SMK Manbail Futuh Jenu Tuban

Hari Santri Nasional bukan sekadar perayaan sejarah, apalagi seremoni tahunan yang berhenti pada apel, sarung, dan lantunan selawat. Ia harus menjadi momentum untuk menguji kembali peran santri di tengah persoalan bangsa yang kian kompleks. Ketika korupsi masih menjadi ancaman, ketimpangan sosial belum terselesaikan, ruang publik dipenuhi kebisingan informasi, dan kemajuan teknologi tidak selalu diikuti kematangan moral, pertanyaan mendasarnya adalah: sanggupkah santri menjadi bagian dari solusi?

Tema Hari Santri Nasional 2026, “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”, mengandung mandat yang jauh lebih besar daripada kebanggaan identitas. Ia menuntut kontribusi nyata. Indonesia Emas 2045 tidak akan lahir hanya dari pertumbuhan ekonomi dan kecanggihan teknologi, tetapi dari manusia yang berilmu, berintegritas, mandiri, dan memiliki keberpihakan terhadap kepentingan bersama.

Indonesia memiliki modal besar berupa bonus demografi, kekayaan sumber daya alam, dan tradisi sosial yang kuat. Namun, modal tersebut bukan jaminan keberhasilan. Bonus demografi dapat berubah menjadi beban apabila generasi mudanya tidak memperoleh pendidikan bermutu dan kesempatan kerja yang layak. Kekayaan alam pun dapat menjadi sumber ketimpangan apabila pengelolaannya tidak berpihak pada kepentingan rakyat.Persoalan lain tidak kalah serius yaitu. melemahnya kepercayaan publik, politik yang kerap lebih sibuk mempertahankan kekuasaan daripada memperjuangkan kepentingan masyarakat, serta praktik korupsi yang menggerogoti keadilan.

Di ruang digital, kebenaran semakin sering dikalahkan oleh sensasi, manipulasi, dan emosi. Masyarakat dapat terbelah bukan karena perbedaan fakta, melainkan karena perbedaan informasi yang mereka percayai.Tantangan tersebut bukan alasan untuk tenggelam dalam pesimisme, tetapi peringatan bahwa pembangunan bangsa tidak cukup diukur melalui angka pertumbuhan. Kualitas sebuah negara juga ditentukan oleh karakter warganya, mutu pendidikannya, dan kemampuan institusinya menegakkan keadilan.

Berita Terkait :  PG Ngadirejo Kediri Targetkan 65 Ribu Ton Gula di Musim Giling 2024

Laporan Indonesia Learning Poverty Brief Bank Dunia dan UNESCO Institute for Statistics edisi April 2024 mencatat bahwa 53 persen anak Indonesia pada usia akhir sekolah dasar belum mencapai kecakapan membaca yang memadai setelah memperhitungkan anak yang tidak bersekolah. Angka ini menggunakan data dasar sebelum penutupan sekolah akibat pandemi dan bukan gambaran langsung kondisi 2026, tetapi tetap menjadi peringatan tentang pentingnya memperkuat kemampuan literasi.

Bagi dunia pesantren, fakta tersebut semestinya menjadi bahan introspeksi sekaligus panggilan pengabdian. Pesantren tidak boleh hanya menghasilkan pribadi yang saleh secara individual, tetapi juga generasi yang cakap membaca persoalan, menguasai ilmu pengetahuan, dan mampu memperbaiki keadaan.Tantangan pertama adalah menyatukan kedalaman agama dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Santri memiliki kekuatan pada tradisi keilmuan, pembentukan akhlak, kedisiplinan, dan kehidupan komunal. Namun, kekuatan tersebut harus terus dikembangkan agar tidak terpisah dari perkembangan sains, teknologi digital, kecerdasan buatan, kewirausahaan, dan kebutuhan dunia kerja.

Mempelajari kitab kuning dan menguasai teknologi bukanlah dua pilihan yang saling meniadakan. Keduanya justru dapat saling menguatkan. Ilmu agama memberikan orientasi etik, sementara sains dan teknologi menyediakan perangkat untuk menyelesaikan persoalan kehidupan. Tanpa ilmu, semangat keagamaan berisiko kehilangan daya jawab. tanpa moral, kecanggihan ilmu dapat kehilangan arah.Tantangan kedua adalah menghadapi era post-truth, ketika keyakinan emosional sering lebih menentukan pendapat publik daripada fakta yang dapat diuji. UNESCO menegaskan pentingnya literasi media dan informasi untuk menghadapi misinformasi, disinformasi, ujaran kebencian, dan risiko teknologi digital. Santri yang aktif di media sosial harus mampu membedakan pengetahuan dari opini, kritik dari fitnah, serta perbedaan pendapat dari permusuhan.Kefasihan mengutip dalil tidak otomatis menjadikan seseorang bijaksana dalam menggunakan informasi. Santri perlu membangun tradisi tabayyun, memeriksa sumber, menguji bukti, memahami konteks, dan menahan diri sebelum menyebarkan kabar.

Berita Terkait :  Serah Terima Jabatan dan Pisah Sambut Kepala Bakorwil

Di tengah masyarakat yang mudah tersulut, kemampuan memverifikasi informasi merupakan bagian penting dari tanggung jawab moral.Tantangan ketiga adalah krisis keteladanan dan integritas. Bangsa ini tidak kekurangan orang cerdas, tetapi kecerdasan tanpa kejujuran dapat menjadi alat untuk membenarkan penyimpangan. Pendidikan agama kehilangan daya transformasinya apabila nilai yang diajarkan tidak tercermin dalam perilaku. Santri harus berani menolak korupsi, manipulasi, intoleransi, dan penyalahgunaan kekuasaan, termasuk ketika pelakunya berasal dari lingkungan sendiri.Tantangan keempat adalah ketimpangan ekonomi dan keterbatasan kesempatan. Santri tidak boleh hanya dipersiapkan menjadi pencari kerja, tetapi juga perlu didorong menjadi pencipta lapangan kerja, pengembang teknologi, penggerak koperasi, pelaku industri kreatif, dan inovator sosial. Kemandirian ekonomi penting agar pesantren dan masyarakat di sekitarnya tidak selalu bergantung pada bantuan dari luar.

Al-Ghazali, dalam Ihya’ Ulumuddin, menempatkan ilmu dan pembentukan akhlak sebagai unsur penting dalam kehidupan manusia. Ilmu tidak semestinya berhenti pada penguasaan pengetahuan, tetapi harus membimbing tindakan menuju kebaikan.

Pemikiran ini relevan bagi santri masa kini: keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari banyaknya hafalan atau gelar, melainkan juga dari kejujuran, tanggung jawab, dan manfaat yang dihasilkan.Sementara itu, Ibnu Khaldun dalam Al-Muqaddimah menjelaskan bahwa kehidupan masyarakat dan tegaknya peradaban berkaitan erat dengan solidaritas sosial atau ‘ashabiyah.

Dalam konteks Indonesia, gagasan ini mengingatkan bahwa kemajuan bangsa tidak mungkin dibangun melalui individualisme dan persaingan tanpa batas. Solidaritas harus diwujudkan dalam kerja sama, kepedulian terhadap kelompok rentan, dan kesediaan memperjuangkan kepentingan bersama.

Berita Terkait :  Satpol PP Kota Malang Siap Dukung dan Sukseskan Mujahadah Kubro

Dari tradisi pemikiran nasional, Ki Hadjar Dewantara menawarkan prinsip ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Di depan memberi teladan, di tengah membangun kemauan, dan di belakang memberikan dorongan. Prinsip ini menegaskan bahwa pendidikan sejati bekerja melalui keteladanan dan pemberdayaan, bukan sekadar instruksi.

Ketiga perspektif tersebut bertemu pada satu Kesimpulan, manusia terdidik bukan hanya manusia yang mengetahui kebenaran, melainkan manusia yang menjadikan pengetahuannya sebagai kekuatan untuk memperbaiki kehidupan. Selamat Hari Santri Nasional 2026. Sudah selayaknya Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas.

————- *** ————–

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img
spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!