28.2 C
Sidoarjo
Sunday, October 11, 2026
spot_img

Manfaatkan Kotoran Sapi, ITS Kembangkan Energi Alternatif di Margorukun Papua Barat


Surabaya, Bhirawa – Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengembangkan energi alternatif berbasis potensi lokal melalui pembangunan plant reaktor biogas berkapasitas 10 meter kubik di Margorukun, Distrik Oransbari, Kabupaten Manokwari Selatan, Papua Barat.

Fasilitas dibangun Tim 8 Ekspedisi Patriot (TEP) ITS memanfaatkan kotoran sapi sebagai bahan baku biogas untuk kebutuhan memasak, sumber energi listrik, hingga pupuk organic, Tim 8 TEP ITS terdiri atas Ayu Nur Lestari, S.Tr.T., M.T., Febriyati, S.Tr.T., Moch. Fauzan Surya Earlyansyah, S.Si., Lalu Muhammad Sapriandi, S.P., dan Jinan Elvaretta Aqilah Setyabudi, S.Tr.T., pengembangan biogas mendapat perhatian Menteri Transmigrasi Republik Indonesia, Dr. Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara, yang meninjau langsung pembangunan plant reactor, Sabtu (10/10).

Ketua Tim 8 TEP ITS, Dr. Ir. Arief Abdurrakhman, S.T., M.T., mengatakan reaktor berkapasitas 10 meter kubik dirancang mengolah kotoran sapi menjadi energi alternatif yang dapat dimanfaatkan masyarakat, dan selain sebagai bahan bakar memasak, biogas berpotensi dikembangkan sebagai sumber listrik, sedangkan hasil pengolahan lainnya dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik.

“Dengan penggunaan kompor biogas menjadi alternatif bahan bakar untuk kegiatan memasak sehari-hari, sebelumnya masih menggunakan kompor minyak tanah untuk memenuhi kebutuhan tersebut,” ucapnya.

Lanjut Arief kotoran sapi yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal kini dapat diolah menjadi sesuatu yang lebih berguna, penggunaan kompor biogas dinilai membantu mengurangi ketergantungannya terhadap minyak tanah.

Berita Terkait :  Diperpusip Situbondo Gelar Pameran Perpustakaan

“ITS mendorong pemanfaatan potensi lokal sebagai sumber energi alternatif yang dapat menunjang kebutuhan rumah tangga sekaligus membuka peluang pengembangan energi listrik, diharapkan mampu memastikan teknologi biogas di Margorukun terus dimanfaatkan dan dikembangkan masyarakat secara mandiri dan berkelanjutan,” tuturnya.

Menteri Transmigrasi Republik Indonesia, Dr. Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara mengukapkan program tidak boleh berhenti pada pembangunan teknologi semata. “Potensi lokal harus dimanfaatkan memperkuat kemandirian masyarakat, dan melalui Tim Kader Patriot, pengetahuan serta teknologi yang dibawa terus dikembangkan oleh masyarakat secara mandiri dan berkelanjutan,” ucapnya.

Ke depan, tambah Iftitah akan pemanfaatan biogas ini harus segera diarahkan tidak hanya untuk kebutuhan memasak, tetapi juga menuju konversi energi listrik. [ren.wwn]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!