Pemberian materi mengenai Penyakit tidak menular, faktor resiko dan bagaimana cara dalam penyampaian hasil skrining
Disampaikan juga mengenai etika untuk merahasiakan hasil skrining pasien
Surabaya, Bhirawa
Universitas Negeri Surabaya (Unesa) melalui tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) melaksanakan kegiatan pelatihan dan pemberdayaan kader posyandu di Aula Puskesmas Lontar, Surabaya, pada Jumat (9/10/2026). Kegiatan ini mengusung tema “Peningkatan Kapasitas Kader dalam Skrining Penyakit Tidak Menular (PTM) dan Aktivitas Fisik sebagai Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS)”.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program PKM berjudul “Penguatan Deteksi Dini Penyakit Tidak Menular (PTM) melalui Pemberdayaan Kader Puskesmas Berbasis GERMAS Aktivitas Fisik” yang dilaksanakan oleh tim dosen Fakultas Kedokteran Unesa bekerja sama dengan Puskesmas Lontar Surabaya.

Pemberian door prize untuk kader yang aktif menjawab saat simulasi kasus.
Sebanyak 50 kader posyandu mengikuti kegiatan ini. Jumlah peserta tersebut bertambah dari rencana awal karena banyak kader baru yang membutuhkan pembekalan mengenai deteksi dini PTM, khususnya keterampilan melakukan skrining faktor risiko serta memberikan edukasi kesehatan kepada masyarakat berdasarkan hasil pemeriksaan.
Ketua tim PKM, Nur Ilahi Anjani, S.Ked., M.Kes., menjelaskan bahwa kader memiliki peran strategis dalam mendukung upaya promotif dan preventif di tingkat masyarakat. Kader tidak hanya membantu pelaksanaan skrining, tetapi juga menjadi penghubung antara tenaga kesehatan dan masyarakat dalam menyampaikan informasi kesehatan serta mendorong perubahan perilaku hidup sehat.
“Peningkatan kapasitas kader menjadi penting agar kegiatan skrining tidak berhenti pada pengukuran saja. Kader juga perlu memahami cara menyampaikan hasil skrining secara sederhana dan tepat, memberikan edukasi sesuai faktor risiko yang ditemukan, serta mengarahkan masyarakat kepada tenaga kesehatan apabila hasil pemeriksaan memerlukan evaluasi lebih lanjut,” menjadi salah satu pesan utama dalam kegiatan ini.
Pelatihan dilaksanakan melalui penyampaian materi, demonstrasi, simulasi, praktik, dan diskusi interaktif. Materi mencakup pengenalan PTM dan faktor risikonya, prosedur skrining di posyandu, serta edukasi kesehatan berdasarkan hasil pengukuran.
Dalam sesi keterampilan skrining, kader mendapatkan pembekalan mengenai pengukuran tekanan darah, berat badan, tinggi badan, perhitungan indeks massa tubuh (IMT), lingkar perut, serta identifikasi faktor risiko perilaku, seperti kebiasaan merokok dan kurangnya aktivitas fisik. Pembekalan ini diharapkan membantu kader melakukan pencatatan secara lebih terstruktur dan mendukung pelaksanaan deteksi dini PTM di lingkungan masyarakat.
Aspek penting lainnya adalah kemampuan kader dalam mengomunikasikan hasil skrining kepada masyarakat.
Kader didorong untuk memberikan informasi yang mudah dipahami, menjelaskan pentingnya pengendalian faktor risiko, dan menyampaikan anjuran perilaku hidup sehat tanpa menetapkan diagnosis medis. Apabila ditemukan hasil yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut, masyarakat diarahkan kepada tenaga kesehatan Puskesmas Lontar sesuai prosedur yang berlaku.
Selain penguatan keterampilan skrining, kegiatan ini mengintegrasikan edukasi aktivitas fisik sebagai bagian dari GERMAS. Peserta mengikuti praktik aktivitas fisik sederhana yang dapat diterapkan dalam kegiatan posyandu maupun aktivitas masyarakat sehari-hari. Kader juga mendapatkan pengenalan mengenai pemanasan, gerakan inti dengan intensitas yang sesuai, pendinginan, serta prinsip keamanan saat melakukan aktivitas fisik.
Integrasi skrining dan aktivitas fisik tersebut menjadi salah satu fokus program. Hasil skrining diharapkan dapat menjadi pintu masuk untuk memberikan edukasi yang lebih relevan dengan kondisi masyarakat, termasuk pentingnya aktivitas fisik secara teratur dalam membantu mengendalikan faktor risiko hipertensi, diabetes melitus, obesitas, dan penyakit kardiovaskular.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pembukaan, sambutan, dan pre-test untuk mengukur pengetahuan awal peserta. Selanjutnya, peserta mengikuti penyampaian materi mengenai PTM dan skrining di posyandu, simulasi keterampilan, serta praktik aktivitas fisik. Kegiatan ditutup dengan sesi tanya jawab, post-test, dan dokumentasi bersama.
Melalui evaluasi pre-test dan post-test, tim PKM akan menilai perubahan pengetahuan peserta setelah mengikuti pelatihan. Evaluasi keterampilan juga menjadi bagian penting untuk melihat kesiapan kader dalam mendukung skrining, menyampaikan edukasi berdasarkan hasil pengukuran, dan memfasilitasi aktivitas fisik yang aman.
Pelaksanaan program ini diharapkan dapat memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi dan fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama dalam meningkatkan kualitas layanan promotif dan preventif. Keterlibatan 50 kader, termasuk kader baru, menjadi peluang untuk memperluas jangkauan edukasi kesehatan dan memperkuat keberlanjutan kegiatan pencegahan PTM di masyarakat.
Ke depan, pemberdayaan kader diharapkan tidak hanya meningkatkan pengetahuan dan keterampilan individu, tetapi juga mendorong penerapan alur pelayanan yang lebih terintegrasi, mulai dari skrining faktor risiko, pencatatan hasil, edukasi kesehatan, hingga fasilitasi aktivitas fisik dan tindak lanjut bersama tenaga kesehatan.
Melalui program ini, Unesa bersama Puskesmas Lontar Surabaya berupaya mendukung penguatan layanan kesehatan primer serta mewujudkan masyarakat yang lebih sadar terhadap risiko PTM dan aktif menerapkan perilaku hidup sehat.
Kegiatan ini sekaligus menjadi bentuk kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS), khususnya melalui penguatan peran kader sebagai penggerak kesehatan di tingkat komunitas. wwn






