Surabaya, Bhirawa – Dosen Program Studi S-1 Seni Rupa, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) mengadakan pameran tunggal seni keramik bertajuk “Jatuh Cinta: Totalitas Sebuah Pengabdian” di Studio Matahati Ceramics, Batu.
Pluhan karya dipamerkan sudah menjangkau pasar luar negeri itu, tersimpan cerita keteguhan hati dan perjuangan seorang maestro seni keramik dalam menembus keterbatasan, Rabu (7/10).
Dosen Seni Rupa FBS Unesa Muchlis Arif mengatakan proses membentuk lempung tanah liat bukan sekadar aktivitas menciptakan benda seni, tetapi media untuk membangkitkan gairah hidup sekaligus membangun ruang edukasi yang inklusif.
“Tetangga saya itu kan guru, beliau bawa muridnya untuk belajar di rumah, ngajar di teras, dari sana semakin dekat dengan medium keramik dan merasa ada gairah untuk bisa hidup lagi,” jelasnya.
Muchlis menceritakan Titik balik bermula dari ujian kesehatan berat akibat penyakit autoimun pada era 2000-an yang sempat membatasi penglihatan, kemampuan bicara, dan ruang geraknya.
“Alih-alih menyerah pada keadaan, saya justru menjadikan teras rumahnya sebagai ruang perjumpaan dan awal mula mendalami medium tanah liat secara total, melalui teras rumah sederhana, mulai membuka pintu bagi siapa saja yang ingin belajar mengenali keramik, mulai dari anak-anak di lingkungan sekitar, praktisi, hingga kelompok berkebutuhan khusus.
Lanjut Muchlis mengukapkan pilihan menekuni seni keramik secara konsisten diakuinya sebagai sebuah “jalan sunyi” yang berliku, awalnya seni keramik belum mendapat perhatian luas dari ekosistem seni rupa, dengan keteguhan pendirian dan komitmennya sebagai seorang pendidik, terus merawat ruang belajar tersebut hingga tumbuh menjadi wadah perjumpaan lintas kelompok masyarakat.
“Sifat tanah liat membumi dimanfaatkannya untuk mempertemukan seni dengan pendidikan, pengembangan sumber daya manusia, dan penguatan nilai-nilai kemanusiaan, dulu sunyi, sendiri, nggak ada teman, tetapi sekarang kan sampai ketemu begini gara-gara lempung,” ucapnya.
Sekarang puluhan tahun setelah melewati masa-masa sunyi di teras rumahnya, dedikasi dan keteguhan Muchlis Arif mendapat pengakuan tertinggi dari negara, pameran tunggal “Jatuh Cinta: Totalitas Sebuah Pengabdian” menjadi bukti nyata bagaimana seorang akademisi Unesa mampu mengubah keterbatasan menjadi karya monumental yang memberi dampak dan inspirasi luas bagi dunia seni rupa Indonesia. [ren.wwn]






