32 C
Sidoarjo
Wednesday, October 7, 2026
spot_img

MUTUN 2026 di Tebuireng Bedah Kitab Tadrij al-Masa’id fi Takhrij al-Maqashid

Jombang, Bhirawa – Ma’had Aly Hasyim Asy’ari menggelar kegiatan bedah kitab Tadrij al-Masa’id fi Takhrij al-Maqashid karya Dr. H. Anang Firdaus, M.Pd.I. Kegiatan ini merupakan rangkaian agenda MUTUN 2026 dan diselenggarakan di Lobby Ma’had Aly Hasyim Asy’ari, Tebuireng, Jombang, Selasa (6/10/2026).

Hadir dua narasumber utama, yakni Dr. H. Anang Firdaus, M.Pd.I., selaku Wakil Mudir Bidang Akademik Ma’had Aly Hasyim Asy’ari sekaligus penulis kitab, serta Prof. Dr. H. Wahidul Anam, M.Ag., Rektor UIN Syekh Wasil Kediri.

Diskusi dipandu oleh Muhammad Habib Yusra, S.F.U., mahasantri M2 sebagai moderator.  Acara ini juga dihadiri oleh Mudir Ma’had Aly Hasyim Asy’ari KH. Achmad Roziqy, Lc., M.H.I., jajaran idariyyin, para mahasantri, dan peserta MUTUN 2026.

Dr. Anang Firdaus menjelaskan, kitab Tadrij al-Masa’id fi Takhrij al-Maqashid pada awalnya disusun sebagai bahan pembelajaran internal bagi para mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari.

Setelah melalui berbagai diskusi dengan sejumlah ulama dan akademisi, kitab itu kemudian dipandang layak untuk dikaji lebih luas melalui forum bedah kitab.

“Rencananya kitab ini untuk kalangan sendiri awalnya, karena masih berbentuk draft. Akan tetapi ketika berbincang dengan Dr. Muhyiddin Awwamah, Dr. Ubayd minta agar kitab ini saja yang dibedah,” ujarnya.

Sebelum diterbitkan dan digunakan sebagai bahan ajar, kitab itu telah melalui proses telaah dan memperoleh sejumlah masukan dari para ahli. Salah satunya Sayyid Abdul Majid al-Ghury yang memberikan beberapa catatan terkait penyajian kitab, di antaranya mengenai gaya bahasa dan sistematika penulisan.

Berita Terkait :  Bersama 150 Mahasiswa, BLDF Tanam 6.208 Bibit Pohon di Situs Trowulan

Berdasarkan masukan tersebut, naskah yang sebelumnya memiliki pembahasan cukup panjang kemudian diringkas agar lebih sesuai sebagai materi pembelajaran.

Selain itu, juga menyarankan agar kitab ajar dilengkapi dengan skema dan bagan sehingga pembaca lebih mudah memahami alur pembahasan secara sistematis.

Dr. Anang menyampaikan, kitab tersebut telah dipresentasikan kepada Dr. Muhyiddin ‘Awwamah, seorang ulama hadis asal Turki yang memiliki perhatian besar terhadap kajian hadis.

Pada pertemuan tersebut, salah satu masukan yang diberikan berkaitan dengan pembahasan mengenai bagaimana menyikapi dan berinteraksi dengan hadis dha’if.

Masukan tersebut masih dalam tahap pengembangan dan belum sepenuhnya dimasukkan ke dalam kitab.

Penulis juga berusaha mendapatkan pandangan dari ulama hadis lainnya, termasuk Syaikh Mamduh dari Mesir agar karya tersebut semakin matang dan memperoleh penguatan dari berbagai perspektif keilmuan hadis.

Sebagai penutup, Dr. Anang Firdaus menjelaskan bahwa konsep maqashid nabawiyah dapat menjadi pendekatan untuk memperluas cakupan kajian hadis sekaligus memperdalam pemaknaan terhadap pesan-pesan yang terkandung di dalamnya.

Dengan pendekatan tersebut, nilai dan spirit hadis dapat dikontekstualisasikan dengan berbagai pendekatan kontemporer berdasarkan persoalan dan fenomena yang berkembang di masyarakat saat ini.

Prof. Dr. H. Wahidul Anam, M.Ag. menyampaikan setuju terhadap masukan Dr. Muhyiddin ‘Awwamah mengenai pentingnya penambahan pembahasan terkait cara berinteraksi dengan hadis dha’if.

Menurut dia, aspek utama dalam kajian ilmu hadis adalah pembahasan mengenai otentisitas hadis.

Berita Terkait :  KAI Buka Rekrutmen Eksternal untuk Lulusan SLTA, D3, dan D4/S1

Dia mengungkapkan kekagumannya terhadap kisah yang disampaikan Prof. Dr. H. Said Agil Husin Al Munawwar ketika bertanya kepada gurunya, Syaikh Yasin al-Fadani mengenai status dua hadis.

Pada kisah tersebut, Syaikh Yasin al-Fadani memilih untuk melakukan verifikasi melalui mimpi dengan menyampaikan bahwa beliau akan bertemu Rasulullah untuk memastikan kebenaran hadis tersebut.

Setelah dilakukan pengecekan, hadis yang sebelumnya dinilai bermasalah berdasarkan kajian sanad ternyata benar merupakan hadis Nabi.

Hal itu sesuai dengan pendapat Imam al-Ghazali yang mengatakan bahwa dalam ilmu hadis, mimpi dapat menjadi salah satu sarana memperoleh inspirasi dan pengetahuan. [rif.kt]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!