Oleh :
Paso Deka Dewanto
Widyaiswara BPSDM Provinsi Jawa Timur dan Ketua DPW APWI Provinsi Jawa Timur
Tanggal 21 September 2026 bukan sekadar hari peringatan bagi para Widyaiswara. Hari Widyaiswara Nasional (HWN) ke-26 dan HUT Asosiasi Profesi Widyaiswara Indonesia (APWI) ke-6 seharusnya menjadi ruang untuk bertanya dengan jujur: setelah begitu banyak kelas, pelatihan, modul, dan sertifikat, apakah kehadiran Widyaiswara benar-benar telah mengubah cara ASN bekerja?
Pertanyaan itu terasa semakin penting ketika birokrasi sedang bergerak cepat. Digitalisasi, kecerdasan buatan, tuntutan pelayanan publik, perubahan regulasi, dan ekspektasi masyarakat membuat kompetensi ASN mudah usang. Pengetahuan yang hari ini terasa baru, beberapa bulan kemudian bisa tertinggal. Dalam situasi seperti ini, Widyaiswara tidak cukup hanya menjadi orang yang paling siap berdiri di depan kelas. Ia harus menjadi orang yang mampu membantu peserta berubah.
Momentum itu terlihat kuat dalam Jambore Nasional APWI ke-4 di Mataram, 19-21 September 2026, yang dirangkai dengan puncak HWN ke-26 dan HUT APWI ke-6. tercatat kegiatan tersebut diikuti 200 peserta dari berbagai daerah, menampilkan 170 karya inovasi dan kreativitas. Pertemuan ilmiahnya menerima 101 artikel dan naskah, dan 98 dinyatakan lolos seleksi. Angka-angka itu menunjukkan energi intelektual Widyaiswara masih besar. Tantangannya adalah memastikan energi tersebut tidak berhenti menjadi karya yang dipamerkan, melainkan menjelma menjadi perubahan nyata dalam birokrasi.
Di titik inilah makna profesi Widyaiswara sedang bergeser. Dulu, ukuran keberhasilan sering berpusat pada proses: materi selesai, jam pelajaran terpenuhi, peserta hadir, evaluasi dilaksanakan, dan sertifikat diterbitkan. Semua itu tetap penting. Namun birokrasi hari ini membutuhkan ukuran yang lebih jauh: apa yang berubah setelah peserta kembali ke tempat kerja? Apakah cara mengambil keputusan menjadi lebih baik? Apakah pelayanan menjadi lebih cepat? Apakah inovasi lahir? Apakah kinerja organisasi meningkat?
Gubernur Jawa Timur, Hj Khofifah Indar Parawansa, dalam video ucapan selamatnya, pada puncak Jambore Nasional Widyaiswara, mengingatkan bahwa Widyaiswara sebagai penggerak inovasi dan kinerja ASN unggul untuk birokrasi yang adaptif dan berdaya saing global menuju Indonesia Emas 2045.
Peringatan ini sekaligus menegaskan bahwa peran strategis Widyaiswara dalam menyiapkan ASN yang mampu menjawab perubahan dan tuntutan pelayanan publik. Widyaiswara bukan sekedar mentransfer pengetahuan, tapi juga membangun kompetensi, karakter dan budaya belajar aparatur agar birokrasi semakin adaptif, inovatif dan berorientasi pada hasil.
Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal pada puncak Jamnas mengingatkan bahwa keberhasilan pembelajaran aparatur tidak cukup dilihat dari jumlah pelatihan atau jumlah peserta, tetapi dari perubahan perilaku, peningkatan kinerja, dan manfaat bagi organisasi serta masyarakat. Pesan ini seharusnya menjadi cermin bagi dunia kewidyaiswaraan. Sebab kelas yang hidup belum tentu melahirkan organisasi yang berubah. Peserta yang memperoleh nilai tinggi belum tentu berani memperbaiki prosedur yang tidak efektif. Sertifikat kelulusan juga tidak otomatis menjadi sertifikat perubahan.
Karena itu, masa depan Widyaiswara ada pada kemampuan mengubah desain pembelajaran dari content driven menjadi problem driven. Pembelajaran tidak lagi dimulai dari pertanyaan, “materi apa yang harus saya sampaikan?”, melainkan “masalah apa yang harus mampu diselesaikan peserta setelah belajar?” Perbedaannya tampak sederhana, tetapi dampaknya besar. Yang pertama menempatkan materi sebagai pusat. Yang kedua menempatkan perubahan kinerja sebagai tujuan.
Kepala LAN Muhammad Taufiq juga menegaskan bahwa tantangan kompetensi berubah sangat cepat sehingga pengembangan kompetensi harus bergeser dari pola pelatihan tradisional menuju pembelajaran yang adaptif dan berdampak. Ini berarti Widyaiswara harus berani keluar dari kenyamanan sebagai penyampai pengetahuan. Perannya berkembang menjadi fasilitator, coach, mentor, kurator pengetahuan, perancang pengalaman belajar, penggerak inovasi, bahkan mitra strategis organisasi dalam memecahkan masalah.
Kehadiran kecerdasan buatan semakin mempertegas perubahan itu. Hari ini peserta dapat memperoleh penjelasan konsep, ringkasan regulasi, contoh kasus, bahkan rancangan presentasi dalam hitungan detik. Jika nilai utama Widyaiswara hanya menyampaikan informasi, sebagian fungsi itu mudah ditandingi teknologi. Tetapi AI belum menggantikan kemampuan manusia membaca suasana kelas, menggali pengalaman, menantang asumsi, menumbuhkan keberanian, dan mendampingi proses perubahan. Di sanalah ruang Widyaiswara justru semakin penting.
Maka kompetensi Widyaiswara masa depan tidak cukup mengajar di kelas. Ia membutuhkan literasi digital, analisis data, pemahaman kebijakan, design thinking, coaching, komunikasi, riset, dan kecakapan membangun jejaring pembelajaran. Lebih dari itu, ia harus peka terhadap realitas birokrasi. Widyaiswara yang berbicara tentang inovasi tetapi jauh dari persoalan lapangan akan kehilangan daya pengaruh; yang mampu menghubungkan teori dengan problem nyata akan membuat pembelajaran relevan.
Data SIWI LAN RI menunjukkan profesi ini tersebar di kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah. Ini adalah modal jejaring pengetahuan yang besar. Praktik baik dari satu daerah bisa dipelajari daerah lain, inovasi bisa direplikasi, bahkan kegagalan dapat menjadi pelajaran bersama. APWI perlu mengubah jejaring itu menjadi ekosistem pembelajaran nasional.
Usia 26 tahun HWN dan enam tahun APWI juga mengingatkan perjalanan panjang profesi ini. Organisasi Widyaiswara bermula dari IWI yang didirikan di Yogyakarta pada 21 September 2000, lalu bertransformasi menjadi APWI pada 2020. Sejarah itu bukan sekadar angka usia. Di dalamnya ada tanggung jawab untuk terus relevan. Sebab profesi tidak dihormati karena lamanya berdiri, tetapi karena besarnya manfaat yang terus diberikan.
Karena itu, peringatan HWN ke-26 dan HUT APWI ke-6 sebaiknya tidak berhenti pada ucapan selamat, spanduk, atau seremoni. Ia harus menjadi janji profesi: bahwa setiap pembelajaran harus meninggalkan jejak perubahan. Setelah kelas selesai, harus ada sesuatu yang berbeda yaitu cara berpikir yang lebih terbuka, keberanian mengambil keputusan, pelayanan yang lebih manusiawi, proses kerja yang lebih sederhana, atau inovasi yang benar-benar hidup.
Widyaiswara Indonesia tidak sedang kehilangan peran. Justru perannya sedang naik kelas. Dari mengajar menuju mengubah. Dari menyampaikan materi menuju membangun kemampuan. Dari mengejar selesainya pembelajaran menuju memastikan lahirnya dampak. Pada akhirnya, ukuran terbesar seorang Widyaiswara bukan berapa banyak orang yang pernah duduk di kelasnya, melainkan berapa banyak perubahan baik yang tumbuh setelah mereka meninggalkan kelas itu.
————– *** ————–


