Kota Batu, Bhirawa
Adanya kondisi lahan kering di Kota Batu menarik perhatian Pemerintah Kota (Pemkot) setempat untuk memenuhi membuat kebutuhan pupuk bersubsidi bagi petani. Dengan sarana pertanian berbeda seringkali petani mengalami kelangkaan pupùk bersubsidi, dan mendapatkannya dengan harga yang masih tinggi. Pemenuhan pupuk bersubsidi ini penting dilakukan untuk menjaga kelestarian lahan apel yang terus mengalami penyusutan.
Keluhan atas kelangkaan pupuk bersubsidi ini disampaikan para petani apel saat ber?esempatan berdiskusi dengan Wali Kotà Batu pada pekan kemarin. Dan sebagai tindak lanjut, Wali Kota berjanji untuk menyampaikan keluhan petani ini langsung kepada kementerian terkait. Diharapkan ada perhatian lebih terhadap kebutuhan petani, khususnya dalam akses subsidi pupuk yang lebih adil.
”Semoga dengan langkah ini biaa solusi terbaik untuk para petani Kota Batu. Karena ketika petani kuat, Kota Batu juga akan ikut tumbuh,” ujar Nurochman saat dikonfirmasi, Minggu (12/4).
Diketahui, buah apel sebagai ikon Kota Batu saat ini terus mengalami penurunan produksi menyusul semakin berkurangnya jumlah lahan apel. Untuk itu pemkot berupaya agar produksi apel bisa kembali kuat dan mampu mengangkat ekonomi petani.
Saat ini kondisi luas lahan apel Kota Batu yang menurun dari sekitar 3 ribu hektar pada era 1980-an menjadi sekitar 700 hektar pada 2024. Artinya, luasan kebun apel selama kurun waktu tersebut berkurang sebanyak 76%.
Dan salah satu isu utama yang ditemukan di lapangan sebagai penyebab berkurangnya produksi apel adalah keterbatasan subsidi pupuk. Saat ini subsidi pupuk hanya difokuskan pada komoditas tertentu sehingga apel dan tanaman hortikultura belum sepenuhnya terakomodasi.
Dan kebun apel yang masih bertahan di antaranya berada di Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji dimana para petaninya masih tetap konsisten membudidayakan apel jenis Anna dan Manalagi.
Mengetahui hal ini Nurochman menegaskan bahwa keberadaan apel sebagai identitas Kota Batu harus terus dijaga melalui sinergi antara pemerintah dan petani. Untuk itu pemkot menýatakan kesiapannya untuk melakukan pendampingan, penguatan infrastruktur, maupun pengembangan pasar hasil pertanian.
”Kami ingin menggelorakan semangat bahwa Apel Kota Batu itu masih ada dan membanggakan serta dapat menjadi motivasi agar kita semua tetap optimis mempertahankan komoditas apel sebagai salah satu ikon pertanian Kota Batu,” ungkap Nurochman.
Diperlukan upaya bersama untuk meningkatkan produktivitas melalui inovasi, pendampingan, serta penguatan kelembagaan petani. Hal ini diperlukan untuk mengangkat angka pertumbuhan sektor pertanian yang sebelumnya masih berada di kisaran 1,5%. Hal ini bisa dimulai dari perbaikan jalan usaha tani, ketersediaan pupuk bersubsidi, penguatan koperasi, hingga pengembangan bibit apel unggul. [nas.fen]


