27 C
Sidoarjo
Thursday, April 9, 2026
spot_img

Perpustakaan Sekolah Berdampak

Oleh :
Akhmad Faishal
Bekerja sebagai pengelola perpustakaan di SMAN 15 Surabaya

Benarkah literasi masyarakat Indonesia rendah? Pernyataan itu sampaikan olehsalah satu pembicara, narasumber di panggung Rakyat Bersuara yang tayang di iNews TV Selasa lalu (1/4), yakni Ahmad Alimuddin. Ia mengatakan begitu untuk menanggapi opini dari pembicara lain, yakni Ichsanudin Noorsy. Benarkah demikian?

Berdasarkan data statistik yang diambil dari website perpusnas dan badan statistik nasional, angka Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) Indonesia menunjukkan adanya tren peningkatan dari tahun 2023 ke 2024. Dari yang semula 68,19 persen ke 73,52 persen (bps.go.id). Sedangkan, untuk tahun 2025 indeks masih dalam proses pengolahan data. Dan untuk Tingkat Kegemaran Membaca persentase meningkat pesat dari tahun ke tahun dimana pada tahun 2020 angkanya 55,74 lalu pada tahun 2024 menjadi 72,44 persen.

Mungkin, ia pernah membaca hasil data yang dikemukakan oleh UNESCO terkait literasi masyarakat Indonesia. Padahal, data tersebut telah kadaluarsa (sudah sejak 2016 dan tidak diperbarui lagi) dan tidak mungkin lagi mampu menggambarkan kondisi literasi masyarakat kekinian. Berdasarkan data UNESCO yang lama itu dinyatakan dari seribu orang penduduk Indonesia hanya satu yang gemar membaca. Tentu, berdasarkan analisis seorang pustakawan senior dari Dinas Perpustakaan dan Kearsiapan Provinsi Jawa Timur tidak banyak penduduk yang mengisi quisioner itu. Oleh sebab itu, penting bagi siapapun untuk merujuk pada data yang dikemukakan oleh bps.go.id dan perpusnas yang intens tiap tahun melakukan survei mengenai kondisi literasi masyarakat Indonesia. Meski, perlu juga survei tersebut dikritisi oleh siapapun.

Berita Terkait :  Pj Gubernur Jawa Timur Pesankan Semangat Agent of Change Ekosistem Perekonomian

Lantas, apakah kita dapat menilai kondisi literasi masyarakat Indonesia melalui Programme for International Students Assessment atau PISA? Tentu, kita belum dapat menilai kondisi itu dari PISA. Karena, program tersebut lebih layak ditujukan kepada individu-individu yang berusia 15 tahunan. Memang, data tersebut dapat menjadi cerminan bagi mereka dewasa kelak dimana literasi masyarakat dewasa yang rendah tidak terlepas dari generasi muda yang berliterasi rendah juga. Namun, sebagaimana cermin yang mudah pecah, ada kenyataan baru dalam proses kehidupan yang berubah dari remaja ke dewasa.

Lantas, bagaimana kita harus menanggapi pernyataan Ahmad Alimuddin itu? Dengan data tersebut, ia keliru mengatakan bahwa tingkat literasi masyarakat Indonesia itu rendah. Karena, persentase yang ditunjukkan cenderung sedang atau menengah ke atas. Meski, data tersebut belum menyentuh angka 80 persen yang dianggap sebagai angka standart yang menunjukkan kategori tinggi, tetapi setidaknya literasi masyarakat Indonesia tidaklah dapat dimasukkan ke kategori rendah.

Ia mengambil sebuah kesimpulan dengan tidak meliaht data yang telah tersedia. Bahwa, masyarakat Indonesia sekarang bukanlah masyarakat Indonesia sepuluh tahun yang lalu. Kini, masyarakat Indonesia cenderung semakin sering membaca, meski pelan-pelan. Dan bacaan mereka cenderung dalam bentuk artikel atau berita-berita pendek. Masyarakat Indonesia kelihatannya lebih suka dengan artikel atau berita pendek yang mengatakan langsung inti poin permasalahan serta analisanya. Mereka ingin memahami kondisi lingkungan sekitar dengan segera. Itulah, mengapa kencenderungan minat membaca buku semakin berkurang. Sedangkan, untuk membaca artikel dan berita singkat meningkat.

Berita Terkait :  Persentase Tumbuh Capai 95 Persen, PetroChina Sukses Hijaukan 34 Hektare DAS Jambi

Menteri Pendidikan Abdul Mu’ti pun menyoroti perihal bagaimana remaja usia 15 tahunan kesulitan membaca dan memahami teks yang panjang. Sebuah kebiasaan buruk yang akan mereka bawa hingga dewasa kelak. Persentase literasi rendah remaja usia 15 tahunan itu menurut data dari PISA sebesar 75 persen. Itu angka yang besar. Dan tidak mengherankan, Indonesia dalam PISA terletak di ranking 10 besar ke bawah. Bahkan, di area ASEAN Vietnam dan Thailand masih jauh lebih baik daripada Indonesia. Singapura? Saingan mereka bukan di kawasan ASEAN, melainkan ASIA, yakni diatas Jepang dan Korea.

Lantas bagaimana peran kita seharusnya?
Jadikan, tujuan literasi sebagai tujuan utama dalam proses pembelajaran. Lalu, menempatkan perpustakaan sekolah sebagai unsur utama atau sebagai gerbang masuk pertama agar mereka terbiasa dengan membaca buku. Perpustakaan sekolah mulai dari jenjang SD, SMP, hingga SMA/ SMK digerakkan dengan program “30 menit membaca buku”. Katakanlah untuk jenjang SMA, siswa-siswi diperkenalkan dengan sastra, baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri (versi terjemahan). Perpustakaan sekolah dapat menjadikan karya sastra sebagai koleksi utama. Karena, sastra memudahkan mereka untuk menyukai bacaan.

Perpustakaan sekolah dapat menyediakan karya-karya dari penulis tempo dulu hingga sekarang. Dari zaman Multatuli atau Marah Rusli hingga ke Felix K. Nesi atau Tere Liye atau Eka Kurniawan. Mulai dari zaman Ernest Hemmingway atau Mary Shelley hingga ke J.K Rowling.Dengan demikian, kepoloporan perpustakaan sekolah dapat terlihat dengan jelas dalam usaha memperbaiki kondisi literasi masyarakat yang belum maksimal. Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat atau IPLM yang masih diangka 73,52 persen dapat ditingkatkan lagi hingga ke 80 atau 85 persen, kalau generasi mudanya (siswa-siswi) selalu mendapatkan latihan membaca buku terus-menerus selama 30 menit di kelas. Latihan ini akan memberi keuntungan banyak hal bagi mereka ke depan. Yakni, kekayaan pengetahuan atau wawasan mereka menjadi lebih luas. Menggoda mereka untuk terus-menerus menggali ketidaktahuan agar mampu memahami masalah. Dan yang terpenting, saat mereka menjadi pejabat yang memiliki kekuasaan dapat mengeluarkan kebijakan dengan tepat dan jelas. Serta kebijakan yang dikeluarkan nantinya tidak akan bertabrakan dengan aturan yang ada.

Berita Terkait :  Polresta Probolinggo Lakukan Tes Urine Anggota

Tentu, itu tujuan besarnya yang dimulai dari perilaku sejak dini dan kecil. Ada unsur-unsur yang harus dipenuhi terlebih dahulu sebelum menciptakan hal-hal besar dan terasa pengaruhnya. Untuk itu, kemampuan literasi yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia harus ditingkatkan dan dioptimalkan lagi. Meski, kemampuan literasi masyarakat Indonesia tidaklah rendah, tetapi masih dalam taraf yang perlu diperbaiki lagi. Untuk itu, daripada memperbaiki perilaku orang-orang dewasa, tidakkah lebih efektif untuk memperbaiki kemampuan literasi siswa-siswi kita?

Dengan terbiasa membaca buku-buku teks yang panjang itu, melalui sastra, kebiasaan atau kebudayaan yang kita idam-idamkan bakal terwujud. Itulah mengapa Perpustakaan Sekolah tidak boleh sekadar pelengkap saja, melainkan sebagai pilar yang berdampak penting untuk mewujudkannya. Kita dapat mengurangi persentase 75 persen itu melalui program yang telah dijelaskan di atas, yakni “30 menit membaca” yang dimulai sebelum mata pelajaran pertama.*

————- *** —————-

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!