Ramallah, Bhirawa
Presiden Palestina Mahmoud Abbas, Senin (23/3), memperingatkan situasi bahaya di Tepi Barat dan Yerusalem Timur dan menyerukan penyelesaian perjanjian gencatan senjata Gaza fase kedua.
Rencana otoritas Israel untuk menerapkan proyek “Israel Raya” menimbulkan ancaman bagi seluruh kawasan dan dunia, merusak seluruh proses politik, serta melanggar resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan hukum internasional, kata Abbas dalam percakapan telepon dengan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto, menurut kantor berita Palestina WAFA.
Seraya menyerukan sikap internasional untuk memaksa Israel menghentikan kebijakan destruktifnya, Abbas menekankan perlunya konferensi internasional komprehensif untuk mencapai perdamaian, stabilitas, dan keamanan di kawasan, termasuk mengakhiri pendudukan serta memungkinkan rakyat Palestina untuk meraih kebebasan dan kemerdekaan mereka.
Abbas menyambut baik rencana perdamaian Gaza dan Resolusi Dewan Keamanan PBB 2803 untuk menghentikan perang dan meringankan penderitaan rakyat Palestina, serta menambahkan, “kami juga menyambut baik partisipasi Indonesia dalam mendukung stabilitas dan rekonstruksi di Jalur Gaza”.
Gaza merupakan bagian tak terpisahkan dari Negara Palestina, kata Abbas, seraya mendesak penghentian pelanggaran Israel yang menargetkan warga sipil di Gaza.
Otoritas kesehatan di Gaza pada Senin menyatakan jumlah korban tewas sejak 7 Oktober 2023 telah meningkat menjadi 72.263 jiwa, dengan 171.944 orang luka-luka.
Mereka menambahkan bahwa sejak gencatan senjata mulai berlaku pada Oktober 2025, jumlah korban tewas mencapai 687 jiwa, dengan 1.845 orang luka-luka. [ant.kt]



