Caption foto : INTI Jatim saat ziarah di makam Gus Dur di Tebuireng, Jombang, Sabtu (07/03). n arif yulianto/bhirawa.
Jombang, Bhirawa
Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) Jawa Timur (Jatim) menggelar kegiatan silaturahmi kebangsaan di Kabupaten Jombang. Salah satu kegiatannya adalah ziarah ke makam Presiden ke-4 RI, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur di Tebuireng, Jombang, Sabtu (07/03). Gus Dur juga dikenal sebagai tokoh pluralisme.
Kegiatan bertajuk Memori Masyarakat Tionghoa Terhadap Gus Dur ini bertujuan untuk memperkuat nilai toleransi, kebangsaan, serta mempererat persaudaraan lintas budaya dan agama.
Selain ziarah ke makam Gus Dur, rangkaian kegiatan juga diisi dengan kunjungan budaya ke Klenteng Hong San Kiong di Gudo, dan mengunjungi Museum Wayang Potehi.
Rombongan juga melakukan anjangsana kepada Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Tebuireng, Jombang, KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin.
Ketua Pengurus Daerah INTI Jatim, Stefanus Budy mengatakan, kegiatan tersebut merupakan upaya mempererat silaturahmi kebangsaan sekaligus mengenang jasa Gus Dur bagi masyarakat Tionghoa di Indonesia.
Dia menjelaskan, kegiatan ini diikuti sekitar 45 peserta berasal dari Surabaya, sekitar 20 orang dari Jombang, dan enam orang dari Malang.
“Rangkaian kegiatannya meliputi ziarah ke makam Gus Dur, anjangsana ke pimpinan Pondok Pesantren Tebuireng, serta wisata budaya ke Klenteng Hong San Kiong di Gudo dan workshop Museum Wayang Potehi,” kata Stefanus Budy.
Stefanus menilai, sosok Gus Dur memiliki peran penting dalam membuka ruang kebebasan bagi masyarakat Tionghoa di Indonesia.
Dia menuturkan, kebijakan dan pemikiran Gus Dur mendorong terciptanya kehidupan masyarakat yang lebih inklusif dan menghargai keberagaman.
“Bagi kami, Gus Dur adalah tokoh kemanusiaan dan tokoh pluralisme,” tuturnya.
“Beliau berani membuka sekat-sekat di antara anak bangsa sehingga masyarakat Tionghoa bisa lebih bebas mengekspresikan budaya, termasuk merayakan Imlek dan menggunakan identitas budaya secara terbuka,” imbuhnya.
Stefanus menambahkan, nilai yang paling diingat dari ajaran Gus Dur yakni pentingnya menjadi pribadi yang bermanfaat bagi sesama tanpa memandang latar belakang agama maupun etnis.
Setelah rangkaian kegiatan, rombongan INTI Jatim melanjutkan melaksanakan agenda sosial dengan membagikan sekitar 1000 paket makanan berbuka puasa masyarakat di Alun-Alun Jombang.
Ketua panitia kegiatan, Phoa Anditya, menerangkan, kunjungan ke Klenteng Hong San Kiong menjadi bagian dari pengenalan budaya Tionghoa, terutama dalam momentum perayaan Tahun Baru Imlek dan Cap Go Meh.
Peserta diperkenalkan dengan seni pertunjukan wayang potehi yang menjadi salah satu warisan budaya Tionghoa di Indonesia.
“Di sana kami juga melihat workshop wayang potehi. Menariknya, ternyata ada banyak santri yang belajar kesenian ini,” ujarnya.
“Hal itu menjadi contoh nyata bagaimana budaya bisa menjadi jembatan persaudaraan,” ungkapnya.
Dia menjelaskan, kegiatan mengenang Gus Dur memiliki makna khusus bagi komunitas Tionghoa. Salah satu alasannya yakni, karena tokoh tersebut dianggap sebagai salah satu inisiator yang mendorong lahirnya organisasi INTI pasca reformasi 1998.
“Harapannya kegiatan seperti ini tidak terputus. Kami ingin terus merawat memori tentang Gus Dur sekaligus memperkuat kerukunan lintas agama, budaya, dan suku di Indonesia,” tutupnya.(rif.hel).


