Setiap kali Ramadhan tiba, umat Muslim di Indonesia menyambutnya dengan sukacita. Namun, sukacita itu sering kali ternoda dengan kekhawatiran tahunan: lonjakan harga bahan pokok. Sebagai ibu rumah tangga, saya merasa Ramadhan tahun ini-sebagaimana tahun-tahun sebelumnya-kembali menjadi ajang “permainan” harga oleh oknum pedagang atau distributor yang tidak bertanggung jawab, terutama di pasar tradisional.
Menjelang minggu pertama Ramadhan 2026, harga bahan pangan seperti cabai, bawang merah, telur ayam, hingga daging sapi mulai “pedas”. Berdasarkan pantauan saya di pasar tradisional di daerah, harga daging sapi segar bahkan tembus di atas Rp150.000-Rp160.000 per kilogram, sementara ayam potong merangkak naik. Padahal, permintaan konsumsi rumah tangga meningkat drastis untuk kebutuhan sahur dan berbuka.
Fenomena ini seolah menjadi siklus tahunan yang tidak pernah tuntas diselesaikan. Alasan klasik seperti peningkatan permintaan atau hambatan distribusi sering kali menjadi pembenaran. Namun, kenaikan yang tidak wajar di minggu-minggu awal sering kali membuat masyarakat kecil menjerit. Bukankah bulan suci ini seharusnya menjadi waktu untuk saling berbagi dan meringankan beban, bukan malah dimanfaatkan untuk mengambil keuntungan setinggi-tingginya?
Saya berharap Pemerintah, khususnya Dinas Perdagangan dan Satgas Pangan, tidak hanya melakukan pemantauan, tetapi bertindak tegas di lapangan. Operasi pasar murah harus lebih digencarkan, tidak hanya di pusat kota, tetapi hingga ke pelosok pasar rakyat. Pengawasan terhadap pedagang curang yang sengaja menimbun stok juga harus diperketat.
Kita berharap pemerintah dapat menjamin ketersediaan pasokan dan stabilitas harga agar Ramadan tahun ini tetap terasa khidmat dan berkah, bukan menjadi beban ekonomi bagi masyarakat. Semoga aspirasi ini didengar.
Terima kasih.
Siti Wulandari
Ibu rumah tangga di Surabaya
[Nama Anda]
[Alamat/Kota]
[Nomor Kontak/Email]

