27 C
Sidoarjo
Tuesday, February 17, 2026
spot_img

Sisi Lain dari MBG: Transformasi Sistem Pangan

Oleh :
Siti Aminah
Dosen FISIP-Universitas Airlangga

Dibalik debat dan aksi-aksi penolakan berbagai kalangan tentang kemanfaatan dan keberlanjutan program MBG (Makan Bergizi Gratis), ada sisi yang perlu dipahami bersama apapun alasannya. Dengan berbagai isu yang muncul tetap ada rasionalisasi kebijakan makan di sekolah tetap harus dijamin keberlanjutannya. Di sebagian besar dunia, anak-anak banyak yang kehilangan kesempatan belajar karena kemiskinan, diskriminasi, kualitas pendidikan yang buruk, atau kelaparan. Beberapa intervensi diperlukan untuk mengurangi hambatan-hambatan ini, menciptakan lingkungan sekolah yang aman bagi anak-anak untuk belajar sekaligus mengakses layanan kesehatan dan gizi. Di negara ini, problemnya lebih serius dan kompleks sekali daripada sekadar mengintegrasikan pendidikan dan kesehatan dan persoalan menyediakan makanan di sekolah.Problem itu antara lain, penyalahgunaan anggaran makan siang dan efisensi anggaran di sektor lain untuk menyelamatkan sekolah sebagai platform yang bermanfaat untuk mengintegrasikan pendidikan dan kesehatan.

Mengintegrasikan Pendidikan dan Kesehatan
Berinvestasi dalam nutrisi, kesehatan, dan pendidikan selama masa kanak-kanak pertengahan (usia 5-9 tahun), dan mempertahankannya hingga masa remaja, akan membantu anak-anak mencapai potensi penuh mereka dan menjadi orang dewasa yang produktif sekaligus memutus siklus kekurangan gizi antar generasi. Namun, di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah ke bawah investasi dalam pendidikan jauh melebihi investasi dalam kesehatan dan nutrisi meskipun penyakit, kelaparan, dan kekurangan gizi mengganggu pendaftaran sekolah, kehadiran reguler, dan pembelajaran.

Analisis ekonomi mengidentifikasi sekolah sebagai platform yang hemat biaya untuk memberikan paket layanan kesehatan dan gizi esensial yang terintegrasi kepada anak-anak sekolah. Intervensi yang diberikan melalui sekolah seringkali memberikan lebih banyak peluang untuk menjangkau anak-anak daripada yang diberikan melalui fasilitas kesehatan, terutama di daerah pedesaan.

Mengintegrasikan mekanisme penjangkauan komunitas dalam sistem pendidikan lebih lanjut meningkatkan kesehatan di kalangan anak-anak bagi keluarga yang rentan pangan. Secara khusus dalam konteks kemanusiaan, pemberian makanan di sekolah dapat membatasi konsekuensi negatif terhadap kesehatan, gizi, dan pendidikan sehingga menurunkan hambatan untuk mengakses dan menyelesaikan pendidikan, terutama untuk anak perempuan. Memasukkan sumber makanan lokal dalam makanan sekolah juga mendorong konsumsi makanan yang beragam sekaligus meningkatkan pembangunan ekonomi lokal.

Berita Terkait :  Aktivitas Wisata dan Tahapan Pilkada Kota Batu, Jadi Perhatian Tekan Tingginya Laka Lantas

Sejumlah besar bukti menunjukkan bahwa program makanan sekolah sangat penting bagi siswa, terutama siswa berpenghasilan rendah, dengan manfaat yang terdokumentasi dengan baik. Bahkan makanan sekolah dipandang meringankan kerawanan pangan dan kemiskinan Makanan sekolah merupakan komponen penting dari jaring pengaman sosial di banyak negara. Beberapa penelitian menemukan peningkatan ketahanan pangan melalui partisipasi dalam program makan siang sekolah. Misalnya, ketersediaan sarapan sekolah mengurangi ketahanan pangan rendah dan ketahanan pangan sangat rendah di antara anak-anak sekolah dasar.

Ada problem besar dimana situasi dan konteks gizi anak-anak sekolah pada setiap sekolah dan lokasi/tempat sekolah berbeda. Tergantung pada konteks, situasi gizi, dan sumberdaya manusia, keuangan, dan infrastruktur yang tersedia, paket layanan berbasis sekolah yang terintegrasi dapat mengatasi tantangan kesehatan dan gizi secara sinergis dan meningkatkan efisiensi biaya. Paket tersebut dapat mencakup pemberian makanan di sekolah, baik dalam bentuk camilan siang hari atau makanan hangat, di samping komponen kesehatan dan nutrisi pelengkap seperti pengobatan cacingan, vaksinasi, suplementasi, kesehatan seksual dan reproduksi, kebun sekolah, pendidikan nutrisi, serta air, sanitasi, dan kebersihan.

Transformasi Pangan
Hasil riset menunjukkan bahwa menerima makan siang sekolah gratis atau dengan harga diskon mengurangi kerawanan pangan, angka obesitas, dan kesehatan yang buruk (Chaudhary, Sudzina, Mikkelsen, 2020). Selain itu, standar nutrisi makanan sekolah yang baru berdampak positif pada pemilihan dan konsumsi makanan siswa, terutama buah dan sayuran dan transisi dari masa kanak-kanak ke masa remaja sering dikaitkan dengan perubahan pola makan yang tidak sehat. Oleh karena itu, penting untuk menanamkan kebiasaan makan sehat sejak dini dan khususnya fokus pada periode transisi masa kanak-kanak. Pola makan sehat selama usia sekolah dasar mengurangi risiko masalah kesehatan terkait nutrisi yang menjadi perhatian utama anak sekolah, yaitu obesitas, karies gigi, dan kurangnya aktivitas fisik (WHO, 2003; 2020).

Berita Terkait :  Bantu Kebutuhan Air Bersih Warga, Perum Perhutani Kabupaten Bondowoso Salurkan Bantuan Pipa Air

Sebagai gambaran universal, dalam konteks meningkatnya kemiskinan anak, para pembuat kebijakan telah meluncurkan program makan siang gratis universal di sekolah-sekolah negeri di seluruh negeri, termasuk California, Maine, Minnesota, New Mexico, Colorado, Vermont, dan Michigan. Alasannya, karena makanan yang ditawarkan tersedia secara universal, bahkan anak-anak yang biasanya tidak memenuhi syarat untuk bantuan berbasis pendapatan pun menerima dukungan. Para pendukung program makan siang gratis universal menyoroti program-program ini sebagai cara yang sederhana, efisien, dan efektif untuk mengatasi kesenjangan kelaparan dan gizi yang saat ini merusak keberhasilan siswa di seluruh negeri.

Negara-negara lain memimpin dalam mengatasi kesenjangan ketahanan pangan, antara lain: India, Estonia, Finlandia, Brasil, Wales, dan Skotlandia memperkenalkan berbagai rencana yang memastikan anak-anak usia sekolah memiliki akses ke makanan bergizi berkualitas baik. Dengan semakin banyaknya bukti manfaat pendekatan ini, AS berisiko tertinggal jika gagal menerapkan program-program ini secara lebih luas. Dalam surveigGlobal program makan sekolah 2024, terdapat 17 negara dan pemerintahnya menanggapi survei tersebut dengan melaporkan bahwa mereka tidak memiliki kegiatan pemberian makan di sekolah skala besar di negara tersebut. Di antara negara-negara tersebut, ada 13 negara menugaskan koordinator untuk mengisi formulir singkat mengenai kegiatan yang telah dilakukan atau yang diantisipasi di masa mendatang terkait dengan pemberian makan di sekolah. Negara-negara tersebut adalah Albania, Komoro, Denmark, Guinea Ekuatorial, Indonesia, Kiribati, Libya, Montenegro, Norwegia, Pakistan, Palestina, Papua Nugini, dan Samoa.

Seiring waktu, mereka yang terlibat dalam kajian ilmiah, kebijakan, dan advokasi pangan telah memperoleh apresiasi yang lebih dalam untuk memahami sistem pangan secara holistik. Pengmbangan dan penguatan sistem pangan tidak parsial, mencakup semua unsur (lingkungan, manusia, input, proses, infrastruktur, institusi, dll.) dan aktivitas yang berkaitan dengan produksi, pengolahan, distribusi, penyiapan, dan konsumsi makanan, serta hasil dari aktivitas ini, termasuk hasil sosial-ekonomi dan lingkungan” (HLPE, 2017). Ini mencakup semua proses-dari pertanian hingga sampai meja makan serta tempat pembuangan sampah (Ingram, 2011).Dengan demikian, seiring meningkatnya kesadaran akan aspek lingkungan dan sosial dari sistem pangan, fokus penelitian, kebijakan, dan advokasi semakin meluas untuk mencakup upaya transformasi sistem pangan.

Berita Terkait :  Lolos Terbanyak di Indonesia, 1.338 Murid Jatim akan Bertanding di OSN Tingkat Provinsi

Transformasi tersebut melibatkan pergeseran mendasar dalam struktur dan orientasi sistem untuk memastikan bahwa sistem pangan tidak hanya menyediakan pola makan sehat dan pendapatan yang adil di sepanjang rantai nilai pangan, tetapi juga mencapai hasil ini dengan cara yang berkelanjutan secara lingkungan (Dengerink dkk., 2022). Karena itu, transformasi sistem pangan dapat dibingkai menjadi lima tujuan, antara lain: (1) memastikan akses terhadap makanan sehat bagi semua orang; (2) mendukung mata pencaharian yang kuat di seluruh sistem pangan; (3) melestarikan lahan yang masih utuh sambil memulihkan area yang terdegradasi; (4) mempromosikan produksi pangan yang berkelanjutan secara lingkungan; dan (5) membangun sistem pangan yang tangguh yang memastikan ketahanan pangan dan gizi baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang (Ruggeri Laderchi dkk., 2024).

Penutup
Keberlangsungan program makan di sekolah memerlukan ketangguhan moral dari semua pelaku penyedia makan siang itu. Selain ada kebijakan kebijakan fiskal yang menjamin program-program pelayanan publiktetap berjalan. Tidak ada sektor yang dialihkan anggarannya untuk sektor tertentu.

Semua program di sektor kesehatan dan pendidikan itu penting. Namun sektor infrastruktur yang menunuang masa depan anak-anak bangsa juga penting. Membangun jembatan, memperbaiki jalan yang berlubang dan rusak, menyediakan kelengkapan belajar dan mengajar bagi siswa dan guru dengan layak di semua wilayah Indonesia yang masih terpencil, terluar dan kondisi infrastruktur belajar yang belum memadai.

————– *** —————

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru