33 C
Sidoarjo
Sunday, February 15, 2026
spot_img

Jadi Contoh Pertanian Modern, Kebun Edukasi Eptilu Dongkrak Produktivitas Cabai hingga Rutin Panen


Surabaya, Bhirawa
Jadi salah satu percontohan pertanian modern berbasis hortikultura di Indonesia, Kebun Edukasi Eptilu (F3/Fresh From Farm) di Desa Mekarsari, Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut, Jawa Barat, berkembang melalui perpaduan metode alami dan teknologi.

Sehingga kawasan ini mampu menghasilkan komoditas pertanian seperti cabai dan tomat dengan kualitas unggul serta produksi yang melimpah.

Namun, keberhasilan tersebut tidak lepas dari penerapan teknologi tepat guna, pengelolaan irigasi yang baik, serta sistem budidaya modern yang diterapkan secara konsisten di lahan pertanian Eptilu.

Owner Eptilu, Rizal Fahreza, mengungkapkan kebun edukasi ini sengaja dirancang sebagai ruang pembelajaran bagi petani maupun masyarakat umum. Di lokasi tersebut diterapkan dua model pertanian sekaligus, yakni metode alami dan pertanian berbasis teknologi.

“Supaya pengunjung bisa melihat langsung perbedaannya. Pertanian alami seperti apa hasil dan pertumbuhannya, dan yang menggunakan teknologi seperti apa perkembangannya,” terangnya, Minggu (15/2).

Sementara itu, perbedaan hasil terlihat jelas pada budidaya cabai rawit. Tanaman yang dibudidayakan secara alami memiliki masa tanam sekitar delapan bulan, terdiri dari empat bulan masa pertumbuhan dan empat bulan masa produksi. Kondisi daun cenderung kecil, keriting dan mudah menguning.

Adapun cabai rawit yang ditanam menggunakan teknologi mampu bertahan hingga dua sampai tiga tahun. Tanaman tumbuh lebih tinggi, bahkan mencapai lebih dari 1,5 meter, dengan daun lebar berwarna hijau segar serta buah cabai yang lebih besar dan panjang.

Berita Terkait :  Festival RaMe Dukung Pelaku UMKM Kabupaten Lamongan

Rizal menjelaskan, teknologi budidaya tersebut diadaptasi dari Amerika Serikat dan sistem penanaman dilakukan di dalam greenhouse. Sedangkan penyiraman tanaman diatur melalui aplikasi digital yang dapat dikendalikan menggunakan ponsel.

Untuk pembangunan greenhouse yang berkapasitas sekitar 4 ribu tanaman itu mendapat dukungan Bank Indonesia sejak 2022. Hasilnya, produktivitas meningkat signifikan dengan kualitas panen yang lebih stabil.

Greenhouse tersebut telah memasuki dua siklus tanam, pada penanaman pertama, tanaman mampu bertahan hingga tiga tahun. Bahkan, setelah tiga bulan masa tanam awal, panen sudah dapat dilakukan secara rutin setiap pekan.

“Setiap minggu bisa panen, dan sekali panen hasilnya di atas satu ton,” kata Rizal.

Produksi cabai, tomat dan komoditas hortikultura lainnya awalnya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sekitar.

Namun karena hasil yang melimpah, Eptilu kini mampu memperluas pasar melalui kerja sama antar daerah, sehingga produk pertanian mereka dapat dipasok hingga ke DKI Jakarta dan Banten.

Selain menjual produk segar, Eptilu juga mengembangkan berbagai produk olahan untuk meningkatkan nilai tambah hasil panen. Langkah ini menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem pertanian terpadu dari hulu hingga hilir.

Sejak berdiri pada 2019, Eptilu terus menunjukkan perkembangan pesat. Dari awalnya hanya mengelola lahan seluas 5 hektare, kini area pertanian yang dikelola telah berkembang menjadi sekitar 75 hektare.

Transformasi Eptilu menjadi bukti bahwa penerapan teknologi, edukasi, dan kolaborasi mampu menghadirkan wajah baru pertanian Indonesia yang lebih modern, produktif dan berkelanjutan. [riq]

Berita Terkait :  LMI Raih Top Human Capital Award 2025 #3 Stars dari Top Business

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru