25 C
Sidoarjo
Sunday, February 8, 2026
spot_img

Kota Pasuruan Rayakan HUT ke-340, Tegaskan Identitas Budaya dan Gotong Royong sebagai Fondasi Pembangunan


Oleh:
Hilmi Husein, Kota Pasuruan

Pemerintah Kota (Pemkot) Pasuruan, memperingati Hari Jadinya yang ke-340 dengan menggelar kirab budaya sebagai penegasan komitmen merawat sejarah, identitas lokal dan semangat gotong royong di tengah dinamika pembangunan nasional.

Kirab budaya tersebut di mulai dari depan Kantor Wali Kota Pasuruan dan berakhir di Taman Harmoni. Iring-iringan menjadi simbol penghormatan terhadap perjalanan panjang Kota Pasuruan sebagai salah satu daerah dengan sejarah penting di Nusantara.

Peringatan tersebut turut ditandai dengan pembacaan pataka oleh Ketua DPRD Kota Pasuruan, HM Toyib, yang mengangkat kembali nilai-nilai perjuangan pahlawan nasional Untung Surapati.

Sosok tersebut dinilai merepresentasikan keberanian, kemandirian serta perlawanan terhadap ketidakadilan, yang relevan sebagai fondasi pembangunan daerah di era modern.

Wali Kota Pasuruan, H Adi Wibowo menyebut usia 340 tahun sebagai momentum refleksi bersama, tidak hanya bagi pemerintah daerah, namun juga seluruh elemen masyarakat.

“Banyak capaian yang sudah diraih, tapi tantangan pembangunan ke depan masih besar. Karena itu, pembangunan tidak bisa dilakukan sendiri, melainkan membutuhkan kolaborasi semua pihak,” ujar Mas Adi, sapaan akrabnya.

Mas Adi menegaskan, semangat rukun dan gotong royong harus menjadi landasan utama pembangunan daerah.

“Peringatan hari jadi tidak semata menjadi agenda seremonial, tetapi ruang bersama untuk memperkuat kebersamaan dan partisipasi publik,” jelas Mas Adi.

Dalam rangka merawat identitas kota, Pemkot Pasuruan juga menggelar sarasehan terkait Peraturan Wali Kota tentang pakaian khas daerah yang digali dari nilai historis dan terinspirasi dari sosok Untung Surapati.

Berita Terkait :  Seribu Siswa SMPN 1 Kedungawaru Membatik Ciprat di Alun-Alun Kota Tulungagung

Pakai khas yang dimaksud bernama Suro Wiro Aji Busono. Busana itu dimaknai sebagai representasi keberanian, kewibawaan dan martabat masyarakat Kota Pasuruan.

Nama tersebut merujuk pada nilai keberanian (suro/wiro) dan martabat tinggi (aji) yang melekat pada sejarah lokal.

Pemkot Pasuruan berharap busana khas tersebut bisa mampu menumbuhkan kembali kecintaan masyarakat terhadap akar budaya di tengah arus modernisasi.

“Busana ini adalah bahasa tanpa kata yang mencerminkan kebanggaan terhadap asal-usul dan cinta pada tanah kelahiran,” kata Mas Adi.

Penggunaan busana tersebut juga selaras dengan falsafah Jawa ajining rogo soko busono, yang menekankan bahwa kehormatan seseorang tercermin dari sikap dan penampilannya.

Pemerintah berharap nilai tersebut dapat menjembatani tradisi leluhur dengan semangat inovasi generasi masa kini.

Peringatan Hari Jadi ke-340 Kota Pasuruan mengusung tema ‘Guyub Rukun Bareng-Bareng Mbangun Pasuruan Kutho Anugrah’.

Tema itu menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, akademisi, pelaku usaha dan masyarakat.

“Tema ini dinilai sejalan dengan agenda pembangunan nasional yang mendorong kolaborasi lintas sektor untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik dan kemandirian ekonomi daerah,” papar Mas Adi.

Tak hanya itu, Pemkot Pasuruan juga menetapkan nama baru bagi sejumlah ruang publik, yakni Taman Harmoni dan Gedung Groedo, yang diambil dari nilai filosofi dan tokoh lokal.

Melalui peringatan ke-340 tersebut, Kota Pasuruan menegaskan komitmennya untuk terus berpijak pada kearifan lokal sebagai bagian dari pembangunan berkelanjutan. Sekaligus memperkuat daya saing daerah di tingkat nasional.

Berita Terkait :  Karnaval Kota Lama, Angkat Harmoni Budaya Jawa-Madura

“Penamaan ini diharapkan menjadi pengingat akan karakter kepemimpinan dan nilai luhur yang pernah membawa kemajuan bagi Kota Pasuruan,” tegas Mas Adi. [hil.gat]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru