Peringatan hari lahir (Harlah) satu abad NU (Nahdlatul Ulama) digelar secara kolosal di kota Malang, Jawa Timur. Stadion Gajayana, dan seantero Malang, bagai berubah menjadi lautan manusia. Duduk bersimpuh sejak subuh, sambil berdzikir. Suasana berubah ketika iring-iringan mobil pelat Indonesia 1, melintas membelah lautan jamaah. Dilanjutkan Presiden Prabowo Subianto, berjalan kaki, menyalami ribuan emak-emak, yang telah berkumpul di lapangan sejak Ahad dinihari, sembari tahajud.
Perhelatan kolosal Harlah NU bagai memantik visi persaudaraan kebangsaan berbagai kelompok masyarakat. Terbukti PD Muhammadiyah Kota Malang, menyediakan properti untuk menampung jamaah NU. Kantor PD, masjid, dan beberapa sekolah Muhammadiyah, dipenuhi warga Nahdliyin. Sekaligus menyediakan 10 ribu porsi kotak konsumsi. Begitu pula majelis GKJW (Gereja Kristen Jawi Wetan) menyediakan gedung Bale Wiyata. Jamaah NU yang sudah berdatangan sejak hari Sabtu, ditampung beristirahat.
Presiden Prabowo Subianto yang memperoleh laporan kebersamaan lintas iman, menyatakan apresiasi. Bersyukur segala bentuk sinergi, kedamaian, dan persatuan tetap terjaga di kalangan elemen bangsa. Terbukti dari penyambutan Katedral, dan gereja HKBP terhadap warga NU sebagai transit, beristirahat sejenak, dan wudlu. Merasa aman dan nyaman. Presiden Praabowo juga meminta elit politik, dan para pemimpin masyarakat, memperhatikan rasa persaudaraan lintas iman. Perbedaan sebagai keniscayaan, menjadi penguat rasa kebangsaan.
Harlah NU diselenggarakan oleh PW-NU Jawa Timur. Dalam catatan, diikuti komponen struktural NU, mulai tingkat anak ranting (level kampung kecil), Ranting (keluarahan dan desa), sampai Cabang (tingkat kabupaten dan kota). Diperkirakan sebanyak 104 ribu orang (yang mendaftar resmi). Tetapi diperkirakan dihadiri lebih dari 200 ribu jamaah. Jalan-jalan di sekitar stadion Gajayana, dipenuhi warga Nahdliyin yang menyemut. Berhasil diantisipasi (dan direspons) oleh TNI dan Polri. Terutama Polda Jatim, dan 3 Polres. Bahkan seluruh Polres, berpartisipasi menyediakan mobil pengawal.
Perayaan Harlah NU terselenggara dua kali, secara Hijriyah pada bulan Rajab. NU lahir di Surabaya pada 16 Rajab tahun 1344 H. Sehingga pada saat perayaan Harlah di Gajayana, Malang (20 Rajab tahun 1447), NU sudah berusia seabad lebih (103 tahun). Penetapan Harlah NU menggunakan kalender Hijriyah, diputuskan dalam Muktamar ke-32, di Makasar. Tetapi PBNU juga adaptif terhadap usulan gen-zi, yang meng-inginkan adanya Harlah secara kalender Masehi, yang diperingati setiap tanggal 31 Januari.
Harlah satu abad NU versi Masehi, sebenarnya sudah dilaksanakan oleh PBNU di stadion GBK, Jakarta. Namun kurang mantap. Karena Rais Aam tidak bisa hadir. Menyebabkan Presiden juga urung datang. Walau suasana stadion utama GBK tetap penuh, diperkirakan dihadiri sekitar 80 ribu jamaah. Bisa jadi, saat itu baru sehari pasca Ishlah. Ketua Umum PBNU baru saja “di-maaf-kan” dalam Rapat Pleno PBNU, 30 Januari 2026. Bagai memasuki hari-hari transisi, setelah usainya pemberhentian Ketua Umum.
Berdasar catatan pergerakan sosial, perayaan Harlah NU ke-100 secara Hijriyah, menjadi pengumpulan masa paling kolosal. Harlah dilaksanakan di GOR Delta Surya, Sidoarjo, Jawa Timur, pada 7 Pebruari tahun 2023 (1444 H). Perhelatan super kolosal. Bahkan ruas tol Waru-Gempol, menjadi area parkir (ratusan) mobil peserta. Area radius 5 kilometer disesaki jamaah yang duduk bersimpuh. Sehingga Menteri anggota Kabinet Jokowi, harus berjalan kaki rata-rata sejauh 2 kilometer.
Peringatan Harlah se-abad NU (secara Masehi) sudah komplet dihadiri Rais Aam, dan Ketua Umum. Sesuai tema “Mujahadah Kubro,” bermakna berjuang serentak bersama semua komponen. Presiden Prabowo, yakin NU akan menjadi “mentor” perdamaian.
–——– 000 ———

