25 C
Sidoarjo
Thursday, February 5, 2026
spot_img

Mahasiswa Teknik Industri UMM Gagas Teknologi Pengering Gabah Portabel


Kota Malang, Bhirawa
Ketergantungan petani terhadap sinar matahari dalam proses pasca-panen seringkali menjadi kendala besar, terutama saat cuaca tidak menentu. Kondisi ini memicu penurunan kualitas gabah akibat proses pengeringan yang tidak sempurna.

Menjawab tantangan tersebut, tim mahasiswa Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan inovasi bed dryer, sebuah teknologi pengeringan gabah portabel yang dirancang efektif menjaga mutu hasil panen.

Inovasi ini digarap oleh Malikul Arifin, mahasiswa Teknik Industri angkatan 2022, bersama timnya. Ia menceritakan bahwa ide ini lahir dari keprihatinan saat melihat langsung kesulitan petani di Desa Ampeldento, Karangploso, Kabupaten Malang.

“Kami melihat langsung saat musim hujan, pengeringan manual memakan waktu lama dan hasilnya tidak merata. Inilah yang mendorong kami menciptakan bed dryer agar petani tidak lagi bergantung sepenuhnya pada cuaca,” ungkap Malikul, Kamis (5/2).

Salah satu keunggulan alat ini terletak pada efisiensi energinya. Bed dryer rakitan mahasiswa UMM ini memanfaatkan panas dari pembakaran minyak jelantah. Penggunaan limbah dapur ini dikombinasikan dengan kain dan tisu sebagai media bakar untuk menghasilkan suhu yang stabil.

Selain untuk padi, alat ini memiliki fleksibilitas tinggi. “Sistemnya bisa digunakan untuk komoditas biji-bijian lain, seperti jagung dan kopi. Jadi manfaatnya bisa dirasakan lebih luas oleh pelaku UMKM pertanian,” tambahnya.

Meski saat ini masih dalam bentuk prototipe berskala 1:10, hasil uji coba menunjukkan performa yang presisi. Alat ini mampu menekan kadar air gabah hingga menyentuh angka 12-14 persen, yang merupakan standar ideal kualitas gabah nasional. Dalam rancangan skala penuh, alat ini diproyeksikan mampu mengolah 500 kilogram gabah hanya dalam waktu delapan jam dengan suhu terjaga di kisaran 40°C hingga 50°C.

Berita Terkait :  Polda Jatim Amankan Komplotan Curanmor Wilayah Jawa Timur

Dosen pembimbing, Dr. Thomy Eko Saputro, S.T., M.Sc., memberikan apresiasi tinggi terhadap karya Capstone Design ini. Menurutnya, inovasi ini membuktikan mahasiswa mampu mengintegrasikan kompetensi teknik untuk memberikan solusi nyata di masyarakat.

“Mahasiswa berhasil mengidentifikasi masalah, memilih material yang tepat, hingga menguji fungsi alat. Inilah peran engineer sesungguhnya, menjadi penyelesai masalah (problem solver),” tegas Thomy.

Ia berharap, karya ini tidak hanya berhenti di lingkungan kampus, tetapi dapat masuk ke tahap hilirisasi melalui kerja sama dengan mitra industri atau inkubasi produk. “Harapan kami ada dukungan untuk pengembangan dari sisi efisiensi energi dan ergonomi, sehingga siap digunakan secara luas oleh petani untuk mendukung ketahanan pangan kita,” pungkasnya. [mut.wwn]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru