Surabaya, Bhirawa
Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Surabaya (FK Ubaya) merespon isu mengenai GERD tidak menyebabkan serangan jantung secara instan.
Beberapa pekan ini ramai penjelasan dari dokter spesial jantung yang memberi tweet tentang penyakit ‘GRED gak bikin sakit jantung’, tetapi netizen membalas dengan komentar yang mana bahwa stepmen dari dokter tersebut salah, Kamis (29/1).
Dosen FK Ubaya, dr. Jordan Bakhriansyah, Sp.JP mengukapkan bahwa GERD secara langsung nyaris bukan merupakan pemicu serangan jantung, tapi bisa meningkatkan risiko gejala serangan jantung.
“Penyakit GERD bukan pemicu serangan jantung, tetapi meningkatkan resiko gejala serangan jantung, kedua organ tersebut berbeda, namun tetap terhubung karena berada dalam satu tubuh yang sama,” jelasnya.
Lanjut dr. Jordan menyampaikan GERD dapat meningkatkan risiko gangguan jantung apabila didukung oleh berbagai faktor risiko dan telah melewati serangkaian proses yang panjang.
“GERD ditandai oleh inflamasi pada lambung, meningkatkan tekanan darah karena saraf simpatik bekerja lebih keras, Dampaknya detak jantung jadi lebih cepat dan memicu respons tubuh yang lebih sensitif, jika berlangsung dalam jangka waktu yang cukup lama serta didukung faktor risiko, jantung bisa mengalami pembengkakan dan menimbulkan serangan atau gagal jantung,” tuturnya.
dr. Jordan mengatakan kesamaan profil sering didapati pada pasien GERD dan gangguan jantung, tidak menjadi dasar pengambilan kesimpulan yang akurat, sebab itu ketika terdapat gejala serupa, khususnya nyeri pada bagian dada, penegakan diagnosis harus dilakukan di fasilitas kesehatan melalui anamnesis dan rangkaian pemeriksaan khusus.
“Kita harus Kenali faktor risikonya, anda sudah sadar terkait faktor risiko yang melekat pada diri Anda, memiliki akses terhadap tahap pencegahan untuk memperlambat proses memburuknya kondisi, kita tidak dapat mengendalikan usia, namun dapat mencegah akselerasi kerusakannya,” ucapnya.
dr. Jordan mengingatkan permasalahan kardiovaskular yang sangat tinggi di seluruh dunia, tidak cuman mengajak masyarakat untuk mengenal faktor risiko secara pribadi. “Berharap masyarakat aktif melakukan upaya pada faktor-faktor risiko yang dapat dikendalikan melalui gaya hidup yang sehat, seperti mengontrol stres, berolahraga secara rutin, tidak merokok, beristirahat yang cukup, dan melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin,” tutur dr. Jordan.
dr. Jordan mendorong masyarakat supaya segera mendatangi tenaga medis profesional terdekat apabila muncul gejala dan gangguan kesehatan, tidak ada pasien yang melakukan diagnosis secara mandiri, sehingga pemburukan kondisi dan penanganan yang tidak tepat dapat dihindari. [ren.wwn]

