Oleh:
Rokim, Kabupaten Gresik
Koleksi 16 umpak kuno, yang menjadi saksi perkembangan teknologi konstruksi dan nilai budaya masyarakat nusantara masa lampau. Museum Sunan Giri, menyimpan kekayaan sejarah yang tidak hanya bernilai arkeologis, tetapi juga sarat makna filosofis dan edukatif.
Budayawan Eko Jarwanto mengatakan, bahwa dalam objek kajian bertajuk umpak sebagai tinggalan sejarah. Kajian arkeologis dan makna kultural, dengan menggunakan metode historis. Menelusuri fungsi, makna, serta relevansi umpak dalam lintasan sejarah hingga arsitektur modern.
Untuk istilah umpak berasal dari bahasa Jawa yang berarti alas, landasan, atau pondasi. Dalam arsitektur tradisional Jawa, umpak berfungsi sebagai batu atau alas penopang tiang (saka) bangunan.
Ke 16 koleksi umpak kuno berbahan kayu yang berasal dari kompleks makam Sunan Giri, khususnya dari bangunan pendapa. Kondisinya beragam, ada yang masih utuh dan ada pula yang berupa fragmen. Ukuran umpak berkisar antara 20 hingga 60 sentimeter, dengan tinggi sekitar 10 sampai 18 sentimeter.
“Umpak merupakan salah satu bentuk teknologi konstruksi tradisional, yang menunjukkan kecerdasan lokal masyarakat Nusantara dalam membangun struktur yang kokoh. Secara filosofis, umpak melambangkan pondasi kehidupan yang kokoh, hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan.”ujarnya.
Dalam kosmologi Jawa, umpak dipandang sebagai titik pertemuan dunia bawah (bumi) dan dunia atas (langit). Sehingga memiliki nilai simbolik yang kuat terkait kesucian, dan keseimbangan hidup.
Dari sisi bentuk dan klasifikasi, umpak koleksi Museum Sunan Giri terbagi dalam dua model utama. Model pertama berbentuk persegi dengan motif surya atau flora bersudut delapan, memiliki struktur tiga tingkat, dan terbuat dari kayu.
Sementara model kedua berbentuk bintang segi delapan menyerupai padma, atau lotus dengan motif geometris dan struktur tiga tingkat. Ditinjau dari fungsi sosialnya, umpak kuno terbagi menjadi tiga jenis, yakni umpak rakyat, umpak bangsawan, dan umpak religius.
“Koleksi Museum Sunan Giri didominasi umpak dengan fungsi religius. Ditinjau dari unsur motif relief, bentuk padma/lotus yang melambangkan kesucian, juga bintang segi delapan arah mata angin. Motif flora (daun stylir surya/cahaya) melambangkan keselarasan dengan alam dan Sang Pencipta,”ungkapnya.
Dalam perspektif teknologi konstruksi, umpak kuno mencerminkan kecerdasan lokal dalam menghadapi tantangan lingkungan tropis seperti kelembapan tinggi dan pergerakan tanah.Menariknya, dalam sudut pandang arsitektur modern, sistem umpak dapat disamakan dengan konsep isolasi struktural atau pondasi tapak.
Namun lebih adaptif karena tidak menggunakan semen atau beton, melainkan mengandalkan gravitasi dan distribusi beban alami.
Ditambahkan Eko Jarwanto, bahwa dari kajian sejarah dan arkeologi dua model umpak tersebut mengindikasikan adanya perbedaan periode pembuatan. Model pertama diduga lebih tua dengan ornamen yang kaya dan simbolik, mirip dengan motif Surya Majapahit,
Sementara model kedua lebih sederhana dan geometris. Sejalan dengan catatan sejarah dalam naskah Babad Gresik, adanya dua fase penting perbaikan bangunan di kompleks makam Sunan Giri. Pada abad ke-17 atas prakarsa Sunan Prapen, dan pada abad ke-19 oleh Bupati Gresik Raden AdipatiSuryowinoto. [kim.gat]

