Musim hujan memasuki fase puncak di seantero langit Indonesia, dengan mencurahkan hujan lebih deras, sampai 3000 milimeter. Gejala La-Nina juga membawa badai dan topan siklon, yang sangat membahayakan untuk penerbangan, dan pelayaran di samudera. Sudah banyak penerbanan dibatalkan, ditunda, dan dialihkan. Serta hampir seluruh nelayan menambatkan perahu motor di pinggir pantai. Sedangkan moda transportasi darat terkepung banjir. Tak terkecuali perjalanan keretaapi di Jawa juga dibatalkan, dan dialihkan.
Harga bahan pangan, niscaya naik, sesuai hukum ekonomi supply and demand. Setiap hujan selalu menjadi jeda ke-ekonomian masyarakat. Terutama kalangan grass-root, petani, nelayan, dan pelaku UMKM (Usasa Mikro Kecil, dan Menengah), setrta pelaku usaha ultra mikro. Bahkan banyak petani mengalami kerugian, karena sawah yang mulai memiliki bulir padi, terendam banjir. Gagal panen. Sehingga pemerintah propinsi serta pemerintah kabupaten dan kota, seyogianya memiliki catatan gagal panen.
Kementerian Pertanian menaksir areal terdampak banjir dan longsor di Sumatera bagian utara, seluas 108 ribu hektar. Yang dipastikan gagal panen seluas 45 ribu hektar, dan lahan sawah rusak seluas 78 ribu hektar rusak sedang dan ringan. Serta 29 ribu hektar rusak berat. Diperkirakan akan kehilangan potensi panen sebanyak 500 ribu ton. Bahkan sebagian harus diperbaiki. Namun umumnya memerlukan bantuan benih baru, dan proses tebar pupuk baru.
Lahan di sentra pangan utama (Jawa Timur, Jawa Barat, dan Jawa Tengah), juga terdampak bencana banjir. Kawasan Pantai utara yang subur sudah dikepung banjir, berkali-kali dalam semusim. Seperti Kudus, Pati, Grobokan, dan Demak, hamparan sawah sudah tidak terlihat, karena tertutup banjir. Niscaya menghancurkan tumbuhan padi yang mulai memiliki bulir padi. Usaha pertambakan juga hancur, karena ikan turut habis tersapu aliran banjir.
Di Jawa Timur, areal persawahan yang terdampak banjir bisa mencapai sekitar 3 ribu hektar. Terutama pada daerah yang mengalami cuaca ekstrem, seperti di Sidoarjo, Mojokerto, Madiun, Ngawi, dan Bojonergoro seluruhnya sentra pangan. Begitu pula kawasan pantura, mulai Gresik sampai Tuban, sekaligus sentra ikan budidaya. Sedangkan sentra sayur, seperti Pasuruan, Malang, juga mengalami cuaca buruk. Sayur yang mulai berkembang seketika bisa membusuk karena terendam air.
Suasana keluarga nelayan semakin memprihatinkan. Lebih sebulan perahu ditambatkan lebih dekat dengan tepi jalan raya (supaya tidak terbawa arus ombak besar). Tidak melaut. Kecuali kapal motor dengan bobot di atas 600 ton bisa melaut terbatas, tidak jauh. Khawatir terjebak badai. Niscaya mengurangi hasil tangkapan ikan. Sehingga ketersediaan ikan laut di TPI (Tempat Pelelangan Ikan) susut besar. Harga ikan laut naik drastis. Namun tetap tidak menutup biaya sehari-hari rumahtangga nelayan.
Kenaikan rata-rata sampai Rp 10 ribu per-kilogram, meliputi lemuru, ikan kembung, kakap, tenggiri, dan tuna. Harga kakap merah (paling favorit) berkisar Rp 130 ribu, dan kakap hitam (paling murah) Rp 30 per-kilogram. Harga cumi-cumi naik drastis rata-rata mencapai Rp 110 ribu per-kilogram. Harga ikan tenggiri juga melangit sampai Rp 190 ribu per-kilogram. Menyebabkan industri pengolahan ikan, dan restoran, kelimpungan.
Harga beras premium dan medium, bareng-bareng naik tipis. Berdaasar data Sistem Pemantauan Pasar Kebutuhan Pokok Kementerian Perdagangan (SP2KP), hampir seluruh komoditas bahan pangan mengalami kenaikan. Pada jeda musim cuaca ekstrem diperlukan program karitatif pemerintah (pusat hingga Pemerintah Daerah). Terutama bantuan benih, dan pupuk gratis. Juga meningkatkan kredit usaha rakyat (KUR). Serta BLT (Bantuan Langsung Tunai) pangan di perkampungan nelayan.
——— 000 ———

