In Memoriam Profesor Bustami Rahman (2): Menjadi Benchmark Akademis
Berbeda dengan perjalanan sosoknya sebagai akademisi-aktivis, kiprah Pak Bustami Rahman sebagai akademisi-intelektual justru berjalan mulus. Bahkan, kiprahnya di bidang keilmuan ini bisa dikatakan moncer.Sesaat setelah jadi Dosen di FISIP, persisnya tahun 1984, Pak Bus mulai studi Magister. Untuk mendapatkan beasiswa, ia mengirim scholarship application-nya ke Rockefeller foundation, sebuah lembaga filantropi prestisius yang berbasis di kota New York, USA.
Oleh:
Himawan Bayu Patriadi, PhD.,
Dosen Hubungan Internasional, Fisipol Universitas Jember.
Dalam proses seleksi Rockefeller scholarship tersebut, Pak Bus mampu menunjukkan dirinya sebagai kandidat penerima beasiswa yang potensial.
Bahkan, dalam sesi wawancara, interviewers sempat dibuatnya terkesima dengan berbagai jawaban dan argumennya.
Walhasil, ia lolos seleksi dengan kriteria yang sangat memuaskan. Tak pelak, untuk studi lanjutnya, Rockefeller foundation mempersilahkannya untuk memilih universitas mana saja di dunia yang ia suka.
Sayangnya, Pak Bus tak bisa menjalaninya karena masalah keluarga. Ia lebih memilih untuk studi lanjut di Indonesia. Tapi, Rockefeller foundation yang secara akademis sudah terlanjur terpikat kepadanya, tetap membujuknya untuk mau studi ke mancanegara. Sebagai kompromi, akhirnya Pak Bus bersedia mengambil progran Magister di Asia Tenggara.
Dengan hasratnya untuk menekuni Sosiologi Pertanian, Rockefeller foundation merekomendasikannya mengambil program Magister di Universiti Pertanian Malaysia (UPM-sekarang bernama Universiti Putra Malaysia), Kuala Lumpur.
Selain itu, atas anjuran Rockefeller foundation pula, ia juga disponsori untuk memperdalam bidang studinya di The University of the Philippines at Los Baños (UPLB), Manila. Tahun 1986, Pak Bus berhasil meraih gelar Magister of Science (M.Sc.)
Bagi saya, perjuangan Pak Bus meraih beasiswa untuk studi Magister punya makna. Pasalnya, saya juga mempunyai pengalaman serupa dalam berburu beasiswa luar negeri, baik untuk tingkat Master (MA) maupun studi Doktoral (PhD).
Pengalaman Pak Bus telah mengkonfirmasi pengalaman saya dalam berburu beasiswa. Storytelling tentang pengalamannya telah membuat pengalaman pribadi saya menjadi shared experience.
Terdapat lesson learned dalam proses transformative experienceini. Keberhasilan meraih beasiswa seringkali ditentukan oleh kemampuan pelamar beasiswa meyakinkan pemberi beasiswa, bahwa ia memang sosok yang layak mendapatkannya. Pasalnya, narasi “why should we give you a scholarship?”; nyaris selalu hadir dalam setiap seleksi penawaran beasiswa.
Lima tahun setelah lulus Magister, persisnya tahun 1991, Pak Bus mengambil studi lanjut lagi.
Kali ini, ia menempuh program Doktoral di Universitas Gajah Mada (UGM). Jika pada jenjang Magister, saya terkesan dengan perjuangannya dalam memperoleh beasiswa; pada studi Doktoral-nya, yang menarik adalah pergumulan teoritis yang dilakukannya. Disertasinya (lulus tahun 1996) menguji teori Clifford Geertz, antropolog Amerika ternama; tentang dikotomi religio-kultural masyarakat Jawa, yakni kaum ‘Abangan’ versus ‘Santri’.
Ia melakukan studi kompratif di dua desa, satu di Jawa Tengah dan satunya lagi di Jawa Timur. Guna memperdalam kajian penelitiannya, ia berhasil mendapatkan sponsorship untuk menjalani sandwich program di Universtat Bielefeld, Jerman; dan juga di Universiteit van Amsterdam (AvA), Belanda.
Sambil senyum kepada saya, Pak Bus sempat menceritakan sesuatu yang lucu kala di Belanda, yang mana kisah ini dipicu oleh kekritisan sendiri. Suatu saat, di sela kesibukan library research -nya, ia mengunjungi salah satu museum di Amsterdam.
Di dalam museum tersebut, ia mendapati sebuah lukisan dengan tajuk berbahasa Belanda: ‘Samenwerking’ (kerjasama). Lukisan itu menggambarkan seorang petani negara jajahan non-Eropa yang sedang berkerja di sawah.
Tapi, anehnya, di belakang sang petani berdiri tuannya berpenampilan Belanda yang mengawasinya dengan membawa cemeti. “Ini merupakan lukisan tipikal kolonial”, pikirnya dalam benak.
Tak pelak, Pak Bus sangat berhasrat untuk mendomentasinya. Tapi, penjaga museum sigap bereaksi. Sang penjaga bukan hanya melarangnya, tapi kemudian juga mengusirnya. Dalam konteks ilmu Sosial, fragmen cerita sederhana ini mencerminkan kontestasi teori, khususnya bagaimana sudut pandang kolonial hampir selalu berhadapan secara diametral dengan perspektif Post-Colonial.
Seperti telah disinggung sebelumnya, disertasi Pak Bus berupaya mengkritisi dikotomi Abangan-Santri dari Geertz. Dari hasil library research dan fieldwork-nya, Pak Bus menilai bahwa dikotomi dari Geertz ini sebenarnya masih bersifat umum dan tidak detail.
Argumennya, setiap kelompok religio-kultural, baik kaum Abangan maupun Santri, bukanlah entitas yang homogen, karena di dalamnya masih ada varian atau diferensisasi nilai kepercayaan. Bagi saya, yang menarik adalah cara Pak Bus menguji kebaruan (noverty) teoritis disertasinya ini.
Apa yang dilakukannya tak sebatas bergulat dengan fakta empiris dan berdialog dengan literatur. Ia bahkan juga membenturkan hasil temuan disertasinya tersebut dengan cara berkorespodensi langsung kepada Clifford Geertz, sang empunya teori yang dikritisinya; sesuatu yang sangat jarang dilakukan oleh seorang kandidat Doktor.
Pak Bus sempat cerita kepada saya, bahwa pada awal 1996, tak dinyana ia menerima balasan surat. Isinya, Geertz gembira dengan penelitian dan temuan teoritis disertasinya.
Tapi, antropolog Amerika ini memberi catatan. Pertama, fokus penelitiannya di Modjokuto (Pare-Jawa Timur) pada tahun 1950-an agak berbeda dengan disertasi itu.
Kedua, untuk menguji temuan disertasinya, kata Geertz; Pak Bus perlu melanjutkan penelitian di Modjokuto. Tujuannya, untuk menguji apakah hasil temuan disertasinya juga terjadi di tempat di mana konsep dikotomis Abangan-Santri untuk pertama kalinya dibangun.
Saran Clifford Geertz kepada Pak Bus di atas, secara implisit, mengarisbawahi tuntutan tentang pentingnya tertib metodologi dalam riset sosial.
Kejelasan metodologi ini sangat penting, khususnya bagi penelitian yang bertujuan untuk testing theory, seperti yang dilakukan Pak Bus dengan disertasinya.
Pasalnya, metodologi penelitian yang eksplisit, detail, dan transparan dalam prosesnya; akan memungkinkan peneliti lain untuk bisa mereplikanya guna menjamin realibitas penelitian sekaligus mampu memverifikasi hasil temuan risetnya.
Dalam disertasinya, Pak Bus mengadopsi pendekatan antropologis ala Geertzian dengan menggunakan tehnik ‘Deskripsi Mendalam’ _(Thick Description).
Metode penelitian ini pertama kali dikenalkan oleh Gilbert Ryle tahun 1971, yang kemudian secara sistematis dikembangkan oleh Clifford Geertz melalui bukunya The Interpretation of Cultures (1973). Thick Description, tegas Geertz, bukanlah sekedar deskripsi tentang fenomena; tetapi juga sebuah ‘upaya intelektual’ (a kind of intellectual effort)l yang mengurai secara mendalam konteks fisik dan sosial-budaya di mana fenomena sosial itu muncul, serta tentang individu atau kelompok baik yang secara aktif maupun tidak aktif, langsung maupun tidak langsung terlibat dalam situasi yang sedang diteliti.
Dengan kata lain, guna memahami fenomena, metode penelitian ini mencermati konteks yang kompleks dari fenomena, dengan cara menganalisa kaitan antara simbol, heroes (tokoh), ritual, dan nilai-nilai sosial (social values). Tujuannya, bisa meraih sekaligus mampu menyajikan ‘rasa kemiripan’ (a sense of verisimilitude) dengan dunia empiris
Walhasil, disertasi Pak Bus berhasil lolos ujian dengan pujian. Memang, novelty disertasinya tidak serta merta meruntuhkan teori Clifford Geertz. Salah satu Co-promotor-nya sendiri, Pak Nasikun (PhD. MA.), mengakui bahwa theoretical finding dari disertasi tersebut ‘tidak bisa disebut mengubah teori Geertz’. Namun, tak bisa disangkal bahwa temuan teoritis-nya telah memperkaya teori Geertz. Tak pelak, konstribusi akademis disertasi Pak Bus ini mendapatkan rekognisi tinggi.
Syahdan, beberapa waktu kemudian, ada seorang mahasiswa Doktoral yang tema disertasinya juga berkaitan dengan teori Geertz.
Kala mahasiswa itu pertama kali menemui Pak Nasikun, guna mendapatkan bimbingannya, beliau segera menjatuhkan perintah kepadanya: “Temui dan diskusi dulu dengan Bustami, orang yang secara pribadi telah berani berhadapan dengan Clifford Geertz!”.
Tak pelak, perintah ini merupakan wujud pengakuan; bahwa Pak Bustami Rahman merupakan sosok yang telah menjadi benchmark akademis, khususnya bagi mahasiswa program Doktoral ilmu Sosial di Universitas Gadjah Mada. Wallahua’lam (bersambung)
–————— *** ——————-

