Situbondo, Bhirawa
Menteri Kebudayaan Fadli Zon bersama Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo dan Wakil Bupati Situbondo Ulfiyah meresmikan Pendopo Pate Alos di kawasan Kota Tua Besuki, Minggu malam (25/1).
Peresmian ini menjadi penanda dimulainya revitalisasi kawasan bersejarah Besuki sebagai kota tua berbasis cagar budaya. Peresmian berlangsung dalam suasana haru. Masyarakat Besuki Raya masih bergulat dengan dampak banjir yang melanda enam kecamatan, yakni Besuki, Banyuglugur, Jatibanteng, Mlandingan, Kendit, dan Bungatan.
Sejumlah wilayah bahkan masih terisolasi. Kondisi tersebut membuat rangkaian acara dirancang secara sederhana, dengan menitikberatkan pada doa, refleksi, dan harapan pemulihan.
Kegiatan diawali dengan doa bersama yang dipanjatkan bagi keselamatan warga Besuki Raya sekaligus permohonan agar Situbondo terhindar dari bencana serupa di masa mendatang.
Usai doa bersama, digelar sarasehan budaya yang diikuti pelajar, mahasiswa, dan pegiat kebudayaan. Dalam forum itu dibahas sejarah Besuki, peran tokoh-tokoh lokal, serta pentingnya pelestarian cagar budaya sebagai fondasi identitas daerah.
Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo menilai pendekatan kebudayaan menjadi penting di tengah situasi bencana. Penguatan nilai sejarah dan spiritual, menurut dia, merupakan bagian dari upaya membangun ketahanan sosial masyarakat.
Baru pada sore harinya, Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon bersama Bupati Situbondo meninjau gedung eks Karesidenan Besuki, bangunan peninggalan kolonial yang dibangun pada tahun 1805 dan memiliki peran penting dalam sejarah kawasan Tapal Kuda.
Fadli Zon menilai bangunan yang usianya telah melampaui 220 tahun itu sangat layak dikembangkan menjadi museum dan pusat kebudayaan. “Kalau kita lihat secara fisik, bangunan ini sangat layak menjadi suatu museum,” ujar Fadli.
Menteri Kebudayaan bahkan membayangkan, gedung tersebut dapat menghadirkan narasi utuh tentang sejarah Karesidenan Besuki, yang pada masanya menaungi lima kabupaten. “Museum ini bisa menjelaskan tentang sejarah Karesidenan Besuki dulu, bagaimana masa-masa itu, dan kelanjutannya sampai sekarang,” ungkap Fadli Zon.
Fadli juga menilai bangunan tersebut berpotensi menjadi pusat budaya yang hidup-bukan hanya ruang pertunjukan sejarah, tetapi juga pusat edukasi, pembelajaran, dan aktivitas seni masyarakat Situbondo. Tingkat keaslian bangunan yang masih tinggi, mulai dari struktur ruang hingga atmosfer heritage, dinilai menjadi kekuatan utama.
“Keasliannya masih ada, auranya juga masih terasa sebagai bangunan heritage,” ujar Fadli.
Fadli juga memastikan Gedung Eks Karesidenan Besuki dapat ditetapkan sebagai cagar budaya tingkat nasional. Dengan status tersebut, pengelolaan dan pengembangannya dinilai dapat dilakukan lebih optimal melalui sinergi pemerintah pusat dan daerah. Sebagai tindak lanjut, ia meminta agar rencana teknis pengembangan dikomunikasikan melalui Balai Kebudayaan Jawa Timur.
Prosesi peresmian Pendopo Pate Alos dilaksanakan pada malam hari melalui penandatanganan prasasti oleh Menteri Kebudayaan Fadli Zon dan Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo serta Wakil Bupati Situbondo Ulfiyah.
Pendopo Pate Alos dinamai dari Kiai Pate Alos atau Raden Bagus Kasim Wirodipuro, Patih pertama Besuki pada abad ke-18. Tokoh ini dikenal sebagai figur pemimpin lokal yang arif, berakar kuat pada nilai budaya dan agama, serta berjasa dalam pembentukan pemerintahan Besuki.
Bupati Mas Rio menegaskan, revitalisasi pendopo tersebut menjadi titik awal pengembangan Wisata Kota Tua Besuki dengan pendekatan pelestarian sejarah, edukasi budaya, dan penguatan ekonomi masyarakat.
“Peresmian ini bukan perayaan, tetapi ikhtiar bersama untuk bangkit, menjaga warisan sejarah, dan menata masa depan Besuki dengan tetap menghormati nilai-nilai kemanusiaan dan kebudayaan,” kata Mas Rio.
Pemerintah Kabupaten Situbondo memastikan agenda-agenda kebudayaan ke depan akan tetap dilaksanakan secara sensitif terhadap kondisi masyarakat, dengan menempatkan empati, doa, dan pemulihan sebagai prioritas utama. [awi.kt]

