Oleh :
Andriyanto
Kepala BadanRisetdanInovasi Daerah (BRIDA) JawaTimurdan
KetuaPengurusPusatAsosiasiNutrisionis Indonesia (AsNI).
Judul di atas merupakan tema hari gizi nasiona ltahun 2026 dimana perwujudannya harus disertai komitmen yang tinggi.Komitmen mendorong gizi seimbang untuk menghasilkan generasi yang lebihsehat, cerdas, dan produktif. Dan dengankeberlangsungan program MBG dariPemerintah, makaGenerasiEmas Indonesia yang berkualitasakanlebihmudahterwujud.
Pakar gizi Martorell menjelaskan bahwa investasi di sektor sosial (gizi, kesehatan, pendidikan) akan memperbaiki keadaan gizi masyarakat yang merupakan faktor penentu untuk meningkatkan kualitas SDM. Jika kualitas SDM meningkat, maka produktivitas kerja akan meningkat, yang selanjutnya keadaan ekonomi akan meningkat pula. Dengan terjadinya perbaikan ekonomi maka kemiskinan akan menjadi berkurang dan pada akhirnya akan terjadi perbaikan gizi masyarakat, tumbuh kembang, fisik dan mental anak.
Dalam hal kesehatan dan gizi anak adalah bagian dari kesejahtaraan dan perlindungan anak, Indonesia memiliki komitmen yang kuat dan bertekad untuk merealisasikan dokumen New York yang berjudul “a world fit for children” atau dunia yang cocok untuk anak. Dokumen ini dihasilkan dalam sidang khusus majelis umum PBB ke-27 mengenai anak atau United Nations General Assembly Special Session on Children, yang berlangsung di New York, 8 – 10 Mei 2002. Salah satu isi dokumen tersebut adalah “pengutamaan anak di setiap kebijakan pemerintah”.
Indonesia adalah negara dengan banyak penduduk miskin dan masalah gizi, terutama masalah gizi kurang dan stunting, akan senantiasa menjadi problema utama. Kekurangwaspadaan dalam pembangunan gizi akan mengakibatkan tingginya kematian bayi dan balita yang pada gilirannya kita akan menghadapi the lost generation 20 tahun mendatang. Lahirnya generasi bodoh karena kurang gizi dan stunting akan mengakibatkan bangsa ini tetap berkubang dalam kemiskinan, dan sulit mewujudkan generasi emas.
Semangat otonomi daerah seharusnya merupakan peluang dalam percepatan pencapaian program perbaikan gizi termasuk penurunan kasus gizi kurang dan stunting. Adanya kebijakan desentralisasi pemerintahan sejatinya menuntut para Kepala Daerah untuk mengisi pembangunan gizi di daerah masing-masing. Di beberapa negara maju, desentralisasi berarti meningkatnya pemerataan dan kualitas pelayanan, meningkatkan efisiensi dan efektivitas program. Ini bisa dimengerti karena desentralisasi memungkinkan adanya penanganan masalah secara spesifik masalah, spesifik daerah. Desentralisasi pada saat ini perlu disikapi sebagai tantangan. Kendala sumber daya manusia di daerah harus disadari belum sepenuhnya dapat menangkap peluang desentralisasi dalam percepatan pencapaian program. Oleh karena itu, di setiap daerah diharapkan mampu menyusun rencana strategis (strategic plan) program pangan dan gizi sebagai bagian integral program pembangunan daerah.
Kelambanan Indonesia menangani masalah gizi makro dalam bentuk gizi kurang dan stunting ada kaitannya dengan kebijakan program gizi kita yang masih mengedepankan pangan, makanan dan konsumsi sebagai penyebab utama masalah gizi. Kebijakan ini cenderung mengabaikan peran faktor lain sebagi penyebab timbulnya masalah gizi seperti air bersih, kebersihan lingkungan dan pelayanan kesehatan dasar. Akibatnya program gizi lebih sering menjadi program sektoral yang masing-masing berdiri sendiri dengan persepsi berbeda mengenai masalah gizi dan indikatornya. Paradigma input ini tidak mengenal indikator pertumbuhan anak dan status gizi yang mengukur “the real thing”.
Sudah saatnya indikator pertumbuhan dan status gizi anak menjadi salah satu indikator kesejahteraan. Untuk itu program gizi memerlukan pendekatan paradigma baru, yaitu paradigma outcome. Dengan paradigma ini, dalam menangani masalah gizi makro, khususnya gizi kurang, titik tolak kebijakannya terletak pada adanya pertumbuhan dan status gizi anak yang tidak normal. Dengan demikian tujuan program adalah memperbaiki pola pertumbuhan anak dan status gizi anak dari tidak normal menjadi normal atau lebih baik.
Oleh karena pola pertumbuhan dan status gizi anak tidak hanya disebabkan oleh makanan, maka pendekatan ini mengharuskan program gizi dikaitkan dengan kegiatan program lain diluar program pangan secara konvergen seperti dengan program air bersih dan kesehatan lingkungan, imunisasi, penyediaan lapangan kerja dan penanggulangan kemiskinan. Dengan program yang bersifat terintegrasi seperti itu, program gizi akan rasional untuk menjadi bagian dari pembangunan nasional secara keseluruhan.
Hilangnya identitas gizi dalam pembangunan harus dicegah dengan menjadikan gizi sebagai isue politik. Perlu ada komitmen dari birokrat dan politisi sehingga pembiayaan berbagai program pembangunan gizi mempunyai nilai yang signifikan dan dijamin keberlanjutannya. Gizi perlu menjadi indikator keberhasilan pembangunan yang tidak terlepas dari program penghapusan kemiskinan. Dengan cara ini kita akan mampu mengurangi masalah gizi secara nyata.
Menyikapi kecenderungan dan disparitas masalah gizi dan pergeseran paradigma baru di atas, maka kondisi keadaan gizi masyarakat yang optimal harus segera tercapai. Sebagai langkah awalnya bagi penentu kebijakan di daerah adalah penajaman persepsi bahwa identifikasi dan penanganan kasus gizi kurang dan stunting merupakan sesuatu yang tidak terelakkan untuk ikut menentukan nasib bangsa.
Meningkatkan komitmen penentu kebijakan, meningkatkan kegiatan penyuluhan gizi kepada masyarakat, mengembangkan jaringan informasi pangan dan gizi, serta Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi anak-anak keluarga miskin yang menderita gizi buruk terutama yang ditimpa musibah bencana alam merupakan keharusan dan bukanlah langkah yang perlu banyak pertimbangan finansial. Harapan masyarakat, terutama yang tidak mampu, tertuju pada kita semua untuk dapat membantu keluar dari keadaan prihatin ini.
Di sisilain, dalammembantuupayapenanganangizikurangdan stunting, tenagakesehatankhususnyaNutrisionisdapatmemberikaninformasiperubahanperilakugizikepadamasyarakattentanganjuranpemenuhangizi. Mulaidarimemberikaninformasibahanmakanan, carapengolahan, polakonsumsi, dengansemaksimalmungkinmenggunakanbahanmakananbernilaigizibaikdanterjangkau.
Selainitu, masyarakatjugaperluterusdimotivasiuntukmengusahakanpenyediaandankonsumsimakanan yang sehat, bergizi, dantepat.Masyarakatperludiedukasibahwamakanan yang sehatdanbergizibukanmakanan yang mahal.Sehinggamasyarakatperlumengetahuimakananapasaja yang bergizidanterjangkau. Juga, mengajarkankepadaIbu-Ibu di desa/masyarakattentangcaramemilihdanmemilahmakanan; caramemasakmakanan; dancaramenghidangkanataumemberimakananbergiziseimbangkepadaanak-anakkita.
Memang, investasi gizi untuk penanganangizikurangdan stunting ini harus dipandang sebagai bagian investasi untuk menanggulangi kemiskinan melalui peningkatan pendidikan dan kesehatan.Perbaikan gizi pada kelompok 1.000 HariPertamaKehidupan akan menunjang proses tumbuh kembang janin, bayi dan anak sampai usia 2 tahun, sehingga siap dengan baik memasuki dunia pendidikan. Sehinggapadagilirannya, perbaikan gizi dengan pemberian gizi optimal kepada masyarakat, betul-betul akan mewujudkan generasi emas yang membuat Indonesia semakin maju. SelamatHariGiziNasional.
————- *** —————-

