24 C
Sidoarjo
Wednesday, February 4, 2026
spot_img

Ruwah Deso Balongrawe, Doa, Budaya, dan Gotong Royong yang Menjaga Harmoni Kota Mojokerto


Oleh:
Oky Abdul Soleh, Kota Mojokerto

Malam itu, suara gamelan berpadu dengan lantunan selawat yang mengalun syahdu di Lingkungan Balongrawe, Kelurahan Balongsari, Kecamatan Magersari. Cahaya lampu temaram menerangi panggung wayang kulit yang berdiri di tengah permukiman warga.

Anak-anak duduk bersila di pangkuan orang tuanya, sementara para sesepuh tampak khusyuk mengikuti setiap rangkaian acara. Tradisi Ruwah Deso kembali digelar, menjadi ruang perjumpaan antara spiritualitas, budaya, dan kebersamaan warga, pada 22-23 Januari 2026.

Bagi masyarakat Balongrawe, Ruwah Deso bukan sekadar agenda tahunan. Ia adalah ritual kolektif yang menyatukan doa, rasa syukur, dan harapan. Melalui pagelaran wayang kulit dan pembacaan selawat, warga memanjatkan permohonan keselamatan, keberkahan, serta perlindungan dari mara bahaya bagi diri mereka dan Kota Mojokerto.

Di tengah suasana yang penuh kekhidmatan itu, kehadiran Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari menjadi simbol dukungan pemerintah terhadap pelestarian tradisi lokal. Dengan balutan busana sederhana,

Ning Ita, sapaan akrabnya, menyapa warga satu per satu, menyalami para tokoh masyarakat, serta berbincang ringan dengan anak-anak yang tampak antusias menunggu pertunjukan wayang dimulai.

Dalam sambutannya, Ning Ita menyampaikan apresiasi kepada warga Balongrawe yang dinilai konsisten menjaga tradisi warisan leluhur di tengah derasnya arus modernisasi. Menurutnya, Ruwah Deso bukan hanya ritual spiritual, melainkan juga cerminan identitas kultural masyarakat Mojokerto.

“Tradisi seperti ini adalah bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas keberlimpahan yang kita terima, sekaligus doa agar pada tahun-tahun mendatang kita senantiasa dijaga, dilindungi, dan dijauhkan dari bala musibah serta bencana,” tutur Ning Ita, Jumat (23/1).

Berita Terkait :  Tingkatkan Daya Saing Rumah BUMN, SIG Dukung Pemasaran Produksi UMKM Rembang

Ia menekankan bahwa di tengah Kota Mojokerto yang semakin plural dengan beragam latar belakang suku, budaya, dan agama, masyarakat Balongrawe mampu menunjukkan bahwa perbedaan bukanlah penghalang untuk hidup rukun dan saling menguatkan.

“Ini menjadi kebanggaan bagi Kota Mojokerto. Kota kecil yang harmonis, rukun, dan tetap menjunjung tinggi nilai Bhineka Tunggal Ika,” ungkapnya.

Lebih jauh, Ning Ita mengingatkan bahwa makna Ruwah Deso tidak boleh berhenti pada seremoni semata. Di balik panggung wayang dan meriahnya perayaan, terdapat nilai-nilai sosial yang sangat berharga: gotong royong, kebersamaan, dan solidaritas sosial.

Sejak jauh hari, warga Balongrawe telah bergotong royong menyiapkan seluruh rangkaian acara. Ada yang menyumbang dana secara urunan, ada yang menyediakan konsumsi, ada pula yang mengatur teknis panggung dan tata suara. Semua terlibat tanpa memandang latar belakang ekonomi maupun status sosial.

“Kekompakan warga, urunan bersama, saling berbagi tanpa membedakan siapa yang mampu dan tidak, itulah kekuatan sosial yang sesungguhnya. Kesamaan rasa ini yang harus terus kita jaga,” tambah Ning Ita.

Dalam kesempatan itu, Ning Ita juga mengajak warga untuk mensyukuri kondisi Kota Mojokerto yang relatif aman dan kondusif di tengah berbagai bencana yang melanda sejumlah daerah di Indonesia.

Ia menilai, doa-doa yang dipanjatkan dalam Ruwah Deso menjadi bagian dari ikhtiar spiritual bersama agar Mojokerto senantiasa dilindungi dari musibah.

Berita Terkait :  BPJS Kesehatan Pastikan Transformasi Digital di Rumah Sakit Lavalette Kota Malang

“Semoga doa panjenengan semua diijabah oleh Allah SWT, dan kita tetap diberikan hati yang rukun, kompak, untuk bersama-sama membangun Kota Mojokerto,” ucapnya.

Tak hanya menjadi ajang spiritual dan budaya, Ruwah Deso juga menjadi ruang interaksi sosial lintas generasi. Anak-anak belajar mengenal wayang sebagai warisan budaya, remaja terlibat dalam kepanitiaan, sementara para orang tua dan sesepuh menjadi penjaga nilai dan tradisi.

Bagi sebagian warga, momen ini juga menjadi ajang temu kangen. Warga perantauan pulang kampung, menyempatkan diri hadir untuk bersilaturahmi dan ikut berdoa bersama. Suasana hangat dan penuh keakraban pun tercipta, mempertegas bahwa Ruwah Deso adalah milik bersama.

Menutup sambutannya, Ning Ita menyampaikan terima kasih kepada seluruh elemen masyarakat, Forkopimcam, dan Forkopimda yang terus bersinergi menjaga stabilitas dan kebersamaan di wilayah Kecamatan Magersari.

“Tanpa peran masyarakat, pemerintahan tidak akan berjalan utuh. Sinergi inilah yang menguatkan langkah kita dalam membangun Kota Mojokerto dan menyejahterakan seluruh warganya,” pungkasnya.

Tradisi Ruwah Deso Balongrawe kembali membuktikan bahwa budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan kekuatan hidup yang terus relevan di masa kini. Di tengah perubahan zaman, doa-doa yang dipanjatkan, gamelan yang ditabuh, dan kebersamaan yang dirajut warga Balongrawe menjadi penyangga harmoni sosial Kota Mojokerto-sebuah harmoni yang lahir dari syukur, gotong royong, dan cinta pada tradisi. [oky.gat]

Berita Terkait :  GastroFest Jawa Timur 2025: Eksplorasi Rasa, Budaya, dan Kreativitas Kuliner Daerah

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru