Oleh :
Akhmad Faishal
Penulis bekerja sebagai pengelola perpustakaan di SMAN 15 Surabaya.
Bagaimana kalau program Makan Bergizi Gratis untuk jenjang SMP dan SMA diubah? Menjadi, program Memberi Buku Gratis? Sama-sama disingkat MBG, tetapi beda wujudnya.Hal ini mengacu pada tujuan sebenarnya dari MBG itu sendiri. Yakni, mengurangi angka malnutrisi dan stunting yang masih menjadi permasalahan serius di Indonesia. Khususnya, pada kelompok rentan yang terdiri dari balita, anak-anak, ibu hamil dan menyusui. Hanya saja entah mengapa tiba-tiba sasaran yang menjadi program ini akhirnya meluas dan mencakup remaja SMP dan SMA.
Padahal berdasarkan survei yang dilakukan oleh pihak Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) melalui Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) pada tahun 2024, ada 6 provinsi yang menjadi prioritas terkait stunting. Yakni, Sumatera Utara, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Nusa Tenggara Timur (NTT).
Jumlahnya diatas dua ratus ribu lebih dan semuanya balita. Artinya, seharusnya fokus program MBG menyasar ke sana, terutama ke ibu menyusui yang mana bersentuhan langsung dengan sang bayi untuk memberikan ASI eksklusif. Paling tidak, yang jelas jenjang usia anak-anak yang seharusnya mendapat MBG berkisar 3 hingga 13 tahun. Jenjang Play Group hingga SD kelas 6.
Lantas, bagaimana untuk jenjang usia 14 tahun hingga 18 tahun? Jenjang SMP dan SMA?
Mereka memerlukan lebih dari sekadar makanan, yakni gizi dalam bentuk bacaan. Mereka memerlukan buku-buku berkualitas untuk mengisi pemikirannya. Sebagaimana yang telah ditulis di awal bahwasanya jenjang SMP dan SMA memerlukan program Memberi Buku Gratis. Buku-buku tersebut akan didistribusikan dari pemerintah yang bekerja sama dengan penerbit kepada perpustakaan-perpustakaan sekolah.
Buku-buku berkualitas ini terdiri dari fiksi atau non-fiksi. Dan, melihat animo yang besar dari pelajar-pelajar sekolah seharusnya buku-buku bergenre fiksi menjadi prioritas dan jumlah judulnya diperbanyak. Tentu, dengan mempertimbangkan kualitas fiksi itu akan melahirkan karakter-karakter pelajar yang kritis, cakap berkomunikasi dan memunculkan kepercayaan diri. Ditambah para pelajar itu akan memiliki kekayaan kosakata serta pengetahuan yang secara tidak langsung muncul dari dalam genre fiksi itu.
Dengan beragam judul yang demikian banyak itu perpustakaan sekolah akan dipenuhi dengan koleksi-koleksi bervariasi yang tidak diragukan lagi kualitasnya. Beragam bacaan seperti itu, terutama buku bergenre fiksi atau novel, termasuk roman, akan meningkatkan daya tarik serta meningkatkan minat baca siswa-siswi. Serta memancing kerajingan mereka untuk mendatangi perpustakaan sekolah. Selain itu, perpustakaan sekolah dapat menjadi pelopor untuk program “Baca Buku Selama 30 menit hingga 1 jam” sebelum dimulai mata pelajaran utama. Atau dilakukan pada saat setelah istirahat.
Ada alasan mengapa program ‘MBG’ ini diperlukan untuk jenjang SMP dan SMA. Pertama, mendorong agar siswa-siswi sering mendatangi perpustakaan. Selama ini, sudah ada berapa banyak siswa-siswi yang mendatangi perpustakaan sekolah. Bahkan, sekadar untuk istirahat, selonjoran, atau tidur-tiduran?
Beberapa perpustakaan sekolah mungkin saja ada yang tidak didatangi oleh siswa-siswi sama sekali. Perpustakaan sekolah sekadar ruangan sepi yang rak-raknya penuh dengan koleksi novel lama dan tidak ditambahi dengan koleksi-koleksi baru. Mengenaskan, bukan?
Kedua, agar siswa-siswi yang mendatangi perpustakaan sekolah tidak sekadar selonjoran atau tidur-tiduran. Namun, mereka juga mengambil salah satu koleksi lantas membacanya. Seringkali, di beberapa sekolah siswa-siswi datang dan memanfaatkan hanya untuk tidur-tiduran. Koleksi-koleksi yang berkualitas, terutama bergenre fiksi, dapat menarik perhatian mereka untuk membacanya. Atau bacaan lain yang ditulis oleh para pakar dengan gaya tulisan remaja untuk menarik minat perhatian mereka. Bukankah, setidaknya bagi pengelola perpustakaan akan senang hatinya, kalau ada siswa-siswi yang datang ke perpustakaan sekolah untuk membaca buku?
Ketiga, untuk membentuk budaya baru yang sampai saat ini sulit untuk diwujudkan, yakni “Budaya Baca Buku”. Dimulainya membentuk budaya ini lahir dari dorongan diri sendiri untuk meminjam buku. Bukan datang dari keinginan yang dipaksakan oleh lingkungan sekitar. Dengan keinginan yang datang dari diri sendiri akan memunculkan kesadaran diri terkait begitu penting kegiatan membaca. Setidaknya, mereka akan membaca kalau ada waktu kosong yang mubadzir. Daripada joget medsos, bukankah lebih baik membaca buku?
Keempat, tentu saja program ‘MBG’ ini akan berpengaruh besar dalam upaya meningkatkan ranking Indonesia di ranah PISA (Progamme for International Student Assesment). Selama ini, Indonesia seringkali menempati posisi papan bawah. Bahkan, untuk di ranah ASEAN pun, Indonesia masih berada di bawah Thailand, Vietnam dan Singapura. Padahal, Indonesia merupakan negara kepulauan besar, tetapi hanya unggul dalam hal jumlah penduduk. Bukan, pada kualitas penduduknya.
Jadi, program MBG yang seharusnya diterima jenjang SMP dan SMA tidaklah sama dengan yang diberikan pada kelompok balita, TK dan SD. Apalagi, tanpa ada perencanaan yang matang dan kemampuan yang memadai menyebabkan seringkali muncul berita-berita buruk seperti keracunan.
Hal ini disebabkan pengawasan terhadap kualitas sajian makanan yang rendah. Secara kuantitas, jumlah yang banyak itu terkadang membuat luput untuk memeriksa apakah makanan itu sudah aman atau belum. Jumlah pekerja dari pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi barangkali belum mencukupi, termasuk memasak makanan belum dengan cara yang baik dan benar.
Oleh sebab itu, untuk mengurangi beban masak dan memaksimalkan fokus kepada makanan sehat dan bergizi jumlah penerima haruslah dikurangi. Untuk jenjang SMP dan SMA tidak memerlukan MBG berbentuk makanan. Namun, dalam bentuk MBG berwujud buku bacaan. Hal ini dapat meminimalisir terjadinya keracunan akibat makanan yang dikonsumsi siswa-siswi. Kualitas makanan menjadi lebih baik. Tentu, memang tidak disarankan untuk melakukan sesuatu yang dipaksakan mengingat yang menjadi objek MBG, yakni makanan dan siswa-siswi.
Berdasarkan data dari Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia sampai tanggal 13 Januari kemarin, ada 1.242 siswa-siswi yang keracunan dari berbagai daerah. Angka tersebut dapat bertambah. Inilah yang mendorong, mengapa diperlukan perubahan terutama untuk jenjang SMP dan SMA. Tentu agar dapat meminimalisir maupun menekan angka keracunan dimana korban terbesar ada di siswa-siswi kita.
————— *** ——————-

