Petugas Dinkes Kabupaten Malang saat melakukan fogging sebagai upaya memberantas sarang nyamuk di salah satu toko pertanian, di wilayah Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang. foto: cahyono/Bhirawa
Kab Malang, Bhirawa.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malang terus berupaya untuk menekan angka penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD). Meski penderita DBD di kabupaten setempat terjadi penurunan, namun tetap perlu diwaspadai, karena saat ini curah hujan cukup tinggi.
Jumlah penderita tahun 2026 ini, kata Sub Koordinator Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Dinkes Kabupaten Malang Chairiyah, Minggu (25/1), kepada wartawan, bisa saja meningkat drastis dengan tingkat fatalitas lebih tinggi, jika tidak diantisipasi. Sementara, dari data Dinkes Kabupaten Malang jumlah penderita DBD pada 2024 lalu mencapai 4.175 orang. Kemudian tahun 2025 menurun drastis, yakni hanya 1.823 orang. “Namun, di tahun ini, belum genap satu bulan sudah tercatat 30 orang penderita terjangkit penyakit DBD,” terangnya.
Menurut dia, penderita DBD, salah satunya dipengaruhi oleh Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Selain itu, DBD juga dipengaruhi faktor lingkungan seperti cuaca dan kelembaban. Seperti diketahui, intensitas hujan di Kabupaten Malang pada awal tahun cukup tinggi. Akibatnya banyak air menggenang yang berpotensi menjadi sarang nyamuk sebagai tempat berkembang biaknya. Sedang sarang nyamuk bertempat di genangan air pada barang-barang bekas seperti ban bekas, pot-pot tanaman, serta botol atau wadah plastik yang terbuka. Dan nyamuk juga menyukai area gelap dan lembab seperti gantungan pakaian atau kolong tempat tidur.
Untuk itu, lanjut Chairiyah, agar tidak terjangkit penyakit DBD, maka masyarakat harus hidup bersih, dan selalu melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN). Hal ini sebagai upaya pencegahan penyakit tular nyamuk seperti DBD dengan cara memutus siklus hidup nyamuk di tempat perkembangbiakannya melalui gerakan (3M) Plus, yakni Menguras tempat penampungan air, Menutup rapat tempat air, dan Mendaur ulang barang bekas, ditambah tindakan Plus. “Seperti menabur bubuk larvasida (abate), memelihara ikan pemakan jentik, serta menjaga kebersihan lingkungan dengan gotong royong rutin,” jelasnya.
Dengan begitu, dia menegaskan, agar bisa memutus siklus hidup nyamuk, terutama nyamuk Aedes aegypti, Dan untuk mencegah penyebaran penyakit seperti DBD, Chikungunya, dan Zika, maka harus diciptakan lingkungan sehat dan aman. Dan jika sudah terkena DBD, yang jelas tidak bisa diremehkan, dan segera mencari pertolongan ke Fasilitas Kesehatan (Faskes) terdekat. Penyakit DPD sendiri tidak bisa diremehkan, sebab pembuluh darah rentan pecah. Oleh karena itu, pengobatan harus dilakukan secara intensif, dan pasien juga jangan sampai kekurangan cairan.
Gejala DBD, terang Chairiyah, salah satunya mengalami demam dengan bercak-bercak merah di tubuh atau bahkan sampai mengeluarkan darah dari hidung (mimisan). Sedangkan untuk mengantisipasi penyakit DBD, maka kita terus menggalakkan gerakan PSN 3M Plus yang rutin dilaksanakan setiap Minggu untuk pencegahan. Kegiatan tersebut meliputi menguras dan menyikat penampungan air yang tidak tertutup. Seperti bak, tampungan air dispenser, tempayan, dan gentong. Kemudian mengganti air vas bunga dan tempat minum hewan peliharaan.
“Kami juga menerapkan Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik (G1R1J) ) yang melibatkan setiap keluarga untuk melaksanakan pemantauan jentik nyamuk secara rutin dan berkala di rumah masing-masing,” tandas dia. (cyn.hel).

