Kota Probolinggo, Bhirawa
Pemkot Probolinggo menjajaki kerja sama dengan Balai Besar/Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur dalam pengembangan, pembinaan, dan perlindungan bahasa. Hal tersebut dibahas dalam audiensi antara Wali Kota Probolinggo dr. Aminuddin dengan Kepala Balai Bahasa Jawa Timur, Puji Retno Hardiningtyas, di Ruang Transit Kantor Wali Kota, Kamis (22/1).
Dalam pertemuan tersebut, Balai Bahasa Jawa Timur memaparkan sejumlah program yang berpotensi disinergikan dengan pemerintah daerah. Di antaranya Program Peningkatan Kemahiran Berbahasa Indonesia (PKBI) yang menyasar pelajar dan masyarakat umum, program Lisan Pahlawan yang mengangkat tokoh-tokoh lokal sebagai media literasi anak, serta program penyegaran penggunaan bahasa Indonesia bagi aparatur sipil negara (ASN), khususnya dalam penyusunan surat dan dokumen kedinasan.
Puji Retno Hardiningtyas menyampaikan, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa melalui Balai Bahasa Jawa Timur juga membuka peluang kerja sama formal dengan pemerintah daerah melalui nota kesepahaman (MoU).
“Tugas kami adalah memasyarakatkan sekaligus melindungi bahasa di daerah. Untuk kerja sama ini tentu akan kami koordinasikan lebih lanjut, termasuk hingga ke tingkat kementerian,” ujarnya.
Selain program pembinaan, Balai Bahasa Jawa Timur juga telah mengembangkan sejumlah produk digital kebahasaan, di antaranya kamus tiga bahasa yang dapat dimanfaatkan di lingkungan sekolah. Kamus tersebut memuat bahasa daerah seperti Kasada, Jawa, Madura, hingga Jawa-Osing sebagai bagian dari upaya pelestarian bahasa lokal.
Menanggapi paparan tersebut, Wali Kota Probolinggo dr. Aminuddin menyambut positif peluang sinergi yang ditawarkan. Menurutnya, karakter Kota Probolinggo sebagai wilayah Pendalungan dengan latar belakang masyarakat yang beragam justru menjadi ruang strategis bagi penguatan bahasa Indonesia tanpa mengabaikan bahasa daerah.
“Kota Probolinggo ini unik. Keberagaman masyarakatnya menjadi tantangan sekaligus peluang untuk memperkuat penggunaan bahasa Indonesia yang baik, sekaligus menjaga kekayaan bahasa dan literasi lokal,” ujar Aminuddin.
Ia juga menyinggung potensi sejarah dan literasi yang dimiliki Kota Probolinggo, mulai dari inisiatif warga dalam mendirikan pojok literasi sejarah, motif batik Probolinggo yang tersimpan di luar negeri sejak akhir abad ke-19, hingga berbagai hikayat lokal yang berpeluang dikembangkan sebagai bahan pustaka dan literasi baru.
“Ini menjadi harapan kita bersama. Prinsipnya kami terbuka, bukan hanya untuk pengembangan budaya, tetapi juga sebagai investasi sebesar-besarnya di bidang pendidikan dan perpustakaan,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Probolinggo, Siti Romlah, menyampaikan bahwa Pemkot Probolinggo telah membentuk Tim Penggunaan Bahasa Indonesia. Ke depan, tim tersebut akan diperkuat peran dan kapasitasnya seiring dengan rencana kolaborasi bersama Balai Bahasa Jawa Timur. [fir.wwn]

