Sampang, Bhirawa
Dinas Pendidikan (Disdik) setempat tidak menampik, fakta viralnya sekolah tersebut yang beroperasi tanpa siswa dan aktivitas KBM normal. Kedok “sekolah formalitas” di SDN Batuporo Timur 1, Kecamatan Kedungdung, Kabupaten Sampang, akhirnya terbongkar.
Plt Kepala Dinas Pendidikan Sampang, Nur Alam, tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya setelah memanggil seluruh tenaga pendidik dan kepala sekolah terkait.
Nur Alam membenarkan, aktivitas belajar mengajar di SDN Batuporo Timur 1 tidak berjalan normal seperti sekolah pada umumnya. Berdasarkan hasil klarifikasi, terungkap fakta miris bahwa siswa hanya hadir satu hari dalam seminggu. “Faktanya, siswa itu hanya masuk ke sekolah setiap hari Jumat,” ujar Nur Alam saat dikonfirmasi awak media, Kamis (22/1).
Ironisnya, pada hari selain Jumat, para siswa ini justru bersekolah di Madrasah Ibtidaiyah (MI) swasta sekitar.
Nur Alam menduga praktik ini merupakan sisa-sisa pola belajar masa pandemi yang tidak pernah dibenahi oleh pihak sekolah. “Ini pola pasca pandemi. Saat itu siswa tidak masuk, dan setelah pandemi berakhir, mereka justru melanjutkan di MI,” ungkapnya.
Akan tetapi, administrasi kependudukan seperti KK dan NIK-nya tetap terdaftar resmi di SD tersebut. “Ini yang membuat data Dapodik tetap valid meski lapangan kosong,” ungkap Nur Alam.
Terkait fasilitas Smart Panel bantuan pemerintah yang justru digunakan untuk memutar musik dangdut, Nur Alam memberikan teguran keras. Baginya, kehadiran 7 orang guru di sekolah yang kosong tanpa murid, sebuah ironi besar dalam manajemen pendidikan. “Memang ada tujuh guru yang hadir setiap hari, tapi proses belajar mengajar memang tidak ada,” bebernya.
Soal musik dangdut itu, kata Nur Alam, pihak sekolah mengakui alat tersebut diputar saat waktu senggang. Namun, ia tetap mengecam tindakan tersebut. “Saya tegaskan, alat itu fungsinya menunjang belajar, bukan untuk hiburan pribadi,” jelasnya.
Bahkan terkait biaya listrik akibat penggunaan fasilitas tersebut, Nur Alam langsung menodong pertanggungjawaban pihak sekolah secara administratif. “Soal anggaran listrik dari dana BOS untuk fasilitas itu. Mereka yang lebih tahu anggarannya digunakan untuk apa saja saat murid tidak ada,” tegasnya.
Ia menegaskan, pihaknya tidak mau main-main dengan marwah pendidikan di Kabupaten Sampang. Nur Alam memastikan akan segera melakukan koordinasi lintas instansi dengan Kemenag untuk menyisir dugaan manipulasi data ganda (double data).
“Jika nanti terbukti ada data ganda dan orang tua siswa lebih memilih MI, maka keputusannya jelas: kami siap menutup SDN Batuporo Timur 1 secara permanen,” tegas Nur Alam.
Pihaknya juga telah menyiapkan skema pasca penutupan, agar anggaran negara tidak terus menguap sia-sia untuk sekolah yang tidak produktif. “Jika ditutup, seluruh guru akan kami sebar ke sekolah-sekolah lain yang kekurangan tenaga pengajar,” pungkasnya. [lis.wwn]

