Tulungagung, Bhirawa
Tim Satgas Makanan Bergizi Gratis (MBG) Kabupaten Tulungagung melakukan survei epidemologi di SMKN 3 Boyolangu, Rabu (21/1). Survei ini menyasar seluruh siswa dan guru yang mengonsumsi MBG di sekolah tersebut pada Senin (19/1) lalu.
Sekretaris Satgas MBG Kabupaten Tulungagung, Sony Welly Ahmadi, saat di SMKN 3 Boyolangu mengatakan survei epidemologi dilakukan untuk mencari siswa atau guru yang masih ada keluhan terkait dugaan keracunan menu MBG. “Survei epidemologi dilakukan dengan barcode untuk diisi pertanyaannya dan apa masih ada keluhan atau yang menjadi keluhan,” ujarnya.
Sony menyebut survei epidemologi di SMKN 3 Boyolangu dilakukan oleh dua puskesmas sekaligus. Yakni, Puskesmas Boyolangu dan Puskesmas Beji. “Sasarannya ada 2.000 an siswa dan guru. Jumah kelasnya saja ada 51 kelas,” terangnya.
Selanjutnya, pria yang menjabat sebagai Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Tulungagung ini berharap semua siswa dan guru di SMKN 3 Tulungagung kondisinya sehat semua. Meski pada hari Rabu (21/1), masih ada 70 siswa yang tidak masuk sekolah karena izin sakit.
“Secara visual siswa yang masuk hari ini kelihatan sehat semua. Sempat ada laporan jika satu siswa memeriksakan diri ke praktik dokter secara mandiri. Tetapi setelah ditelusuri yang bersangkutan hanya memeriksakan diri kemudan pulang,” ucapnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung, dr Aris Setiawan, menyatakan survei epidemologi akan dilakukan pula pada siswa yang tidak masuk sekolah karena izin sakit.
“Mereka akan tetap kami ikutkan survei epidemologi. Kami sudah mencari kontak atau nomor telepon mereka,” katanya.
Ia menyebut siswa yang tidak masuk sekolah pada Selasa (20/1) dan Rabu (21/1), belum bisa dipastikan sakitnya karena mengonsumsi MBG. “Jadi belum tentu. Mungkin ada penyakit lain,” tuturnya.
Saat ini menurut dia, Satgas MBG Kabupaten Tulungagung masih sebatas melakukan survei epidemologi untuk pengumpulan data awal. Memantau dengan pertanyaan-pertanyaan melalui barcode yang di antaranya pertanyaannya adalah mengonsumsi apa saja dan apakah ada rasa yang mencurigakan atau bau.
“Pertanyaan (survei epidemologi) ini memperkuat dari pemeriksaan lab kemarin yang diambil sampelnya,” tandasnya.
Sebelumnya, Bima, siswa kelas X Teknik Kelistrikan SMKN 3 Boyolangu mengaku sempat mengalami sakit perut pada malam harinya usai mengonsumsi MBG di sekolahnya. Tetapi, sakit perut itu ia tahan dan tidak sampai membuatnya memeriksakan diri ke dokter atau puskesmas.
“Saya tetap masuk sekolah pada keesokan harinya. Sekarang pun saya tetap masuk sekolah,” pungkasnya. [wed.kt]

