Tulungagung, Bhirawa
Operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Mutiara Rawa Selatan di Desa Moyoketen Kecamatan Boyolangu Kabupaten Tulungagung, Selasa (20/1), ditutup sementara. Penonaktifan SPPG tersebut akibat kasus dugaan keracunan Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang menimpa sedikitnya 123 siswa SMKN 3 Boyolangu.
Sekretaris Satgas MBG Kabupaten Tulungagung, Sony Welly Ahmadi, saat melakukan peninjauan di dapur SPPG Yayasan Mutiara Rawa Selatan, Selasa (20/1) siang, mengungkapkan dugaan keracunan MBG yang dialami siswa SMKN 3 Boyolangu itu terungkap setelah mereka mengeluh sakit perut. “Kami mendapat laporan tersebut dan kemudian mendatangi SMKN 3 Boyolangu dan ternyata itu terjadi diduga karena makanan MBG kemasan yang kemarin (Senin, 19/1),” ujarnya.
Menurut dia, gejala sakit perut yang diderita siswa SMKN 3 Boyolangu baru terasa setelah 12 jam mengonsumsi MBG. “Ada 123 siswa yang mengeluh dan dirawat di UKS. Selain juga ada sekitar 70 siswa yang tidak masuk sekolah pada hari ini,” sambungnya.
Sony Welly selanjutnya menyatakan sudah melakukan koordinasi dengan Ketua Satgas MBG Kabupaten Tulungagung dan melaporkannya pada Bupati Tulungagung, Gatut Sunu Wibowo. Bahkan, Satgas MBG Kabupaten Tulungagung berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung untuk menyiagakan puskesmas di seluruh Tulungagung untuk perawatan siswa yang membutuhkan pengobatan lebih lanjut.
“Kalau ada keluhan lanjutan adik-adik siswa yang diduga keracunan bisa mendatangi puskesmas terdekat. Kami sudah koordinasi dengan Dinas Kesehatan,” tuturnya.
Sementara itu, Koordinator SPPG Kabupaten Tulungagung, Sebrina Mahardika, menandaskan untuk sementara SPPG Yayasan Mutiara Rawa Selatan tidak dapat beroperasional. Hal ini karena sedang dilakukan observasi. “Sementara tidak beroperasi sampai ada keputusan pimpinan BGN,” katanya.
Sebrina menyebut untuk produksi MBG pada Selasa (20/1) sempat dilakukan oleh SPPG Yayasan Mutiara Rawa Selatan. Namun karena ada kejadian di SMKN 3 Boyolangu, kemudian ditarik kembali.
Ada pun menu MBG yang didistribusikan oleh SPPG Yayasan Mutiara Rawa Selatan pada Senin (19/1), menurut Sebrina berupa nasi putih, ayam bakar bumbu kecap, tahu kuning dan lalapan tomat, timun, kemangi serta selada. MBG tersebut disalurkan pada 2.819 penerima manfaat, termasuk siswa SMKN 3 Boyolangu.
Sebrina membenarkan jika peristiwa dugaan keracunan MBG saat ini merupakan yang kedua kalinya terjadi di Tulungagung. Sebelumnya menimpa siswa SMPN 1 Boyolangu pada bulan Oktober tahun lalu.
Sedang Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung, dr Aris Setiawan, mengatakan semua sampel makanan yang diberikan pada Senin (19/1), sudah diambil untuk diuji di laboratorium. Sampel makanan tersebut masih ada karena tersimpan di lemari pendingin sesuai SOP BGN.
“Sampel akan kami bawa ke BBLK (Balai Besar Laboratorium Kesehatan) Surabaya. Terkait estimasi keluar hasilnya kapan kami belum bisa memprediksi,” ucapnya.
Sebelumnya, Wakil Kepala SMKN 3 Boyolangu Bidang Kesiswaan, Yuga Hermawan, memaparkan jika sebagian siswa mengeluh diare usai pulang sekolah pada Senin (19/1). Bahkan, pada Selasa (20/1), sejumlah siswa tidak masuk sekolah dengan izin sakit dan ada sebagian lagi yang minta obat diare ke UKS. Termasuk mereka sampai antre di toilet sekolah.
Karena kejadi tersebut, dan diduga akibat keracunan MBG, pihak sekolah kemudian melakukan pelaporan ke SPPG Yayasan Mutiara Rawa Selatan. “Dari pelaporan itu kemudian dilakukan penarikan MBG yang sudah terdistribusi pada hari ini. Dan untuk antisipasi tidak bisa menangani, siswa juga dipulangkan lebih awal,” kata Yuga. [wed.wwn]

