26.3 C
Sidoarjo
Tuesday, January 20, 2026
spot_img

Benar, Viral, Eksposur : Mana Yang Lebih Laku ?

Oleh :
Tun Ahmad Gazali
Pensiunan PNS PemProv. Jawa Timur

Di berbagai linimasa media sosial akhir-akhir, kebenaran “tampak” sering kalah cepat dari cerita yang terasa indah. Yang viral melesat tanpa menunggu bukti, sementara yang benar tertatih mencari perhatian. Kita hidup di zaman ketika satu unggahan emosional mampu mengalahkan klarifikasi panjang, dan satu harapan yang dibungkus simpati terasa lebih meyakinkan daripada data yang disusun dengan tenang. Kebenaran butuh waktu, data, kesabaran yang berjalan pelan sambil membawa catatan dan sumber validnya sehingga sering tertinggal di belakang cerita yang terasa menyentuh.?Sementara viral melesat tanpa menunggu bukti, hanya butuh emosi, satu klik, dan harapan yang terdengar indah.

Hal diatas terasa relevan ketika media sosial beberapa hari ini dipenuhi kabar tentang Nisya. Nama yang sebelumnya dikenal sebagai pramugari gadungan tiba-tiba disebut telah diterima bekerja di Garuda Indonesia. Narasinya menyentuh. Dari jatuh bangun. Dari kesalahan menuju kesempatan kedua. Banyak orang membagikannya dengan mata berbinar, seolah inilah bukti bahwa dunia masih selalu memberi ruang bagi harapan.

Penulis pun terpanggil untuk mencermatinya ulang sambil menyeruput coklat hangat di suhu minus dua derajat sore ini. Ada rasa penasaran. Ada keinginan untuk percaya atau nggak. Sebab kisah seperti ini memang terasa hangat. Namun justru karena itulah penulis memilih berhenti sejenak. Membaca ulang. Mencari sumber. Melakukan crosscheck dan pemeriksaan ulang. Bukan untuk mencurigai, melainkan untuk setia pada akal sehat.

Hasilnya, Penulis mendapat 1 hal penting yang perlu diletakkan secara jernih serta 1 hal tambahan yang meski sedikit tapi perlu disimak.

Pertama adalah yang patut diduga sebagai hoaks tentang Nisya yang menjadi pramugari sebuah institusi penerbangan besar di tanah air. Dan agar pembaca tahu aja, hingga coretan sederhana ini dibuat, tidak ada satu pun pernyataan resmi dari institusi penerbangan besar yang saya temukan yang bias mengonfirmasi kabar tersebut. Yang ada adalah harapan kolektif diberbagai media social yang dibungkus narasi viral. Penulis tidak melihatnya sebagai salah paham, melainkan contoh nyata bagaimana informasi yang belum diverifikasi bisa naik kelas menjadi “kebenaran publik” hanya karena dibagikan berulang kali. Namun fenomena ini bukanlah kasus tunggal, masih banyak kok beberapa postingan media sosial lain yang juga cenderung viral, dan kasus Nisya ini tampaknya nyaman diotak atik sebagai contoh pembelajaran nyata dan aplikatif. Kisahnya diputar ulang. Diberi bumbu harapan. Dibuatkan video serta foto AI nya. Disajikan sebagai narasi penebusan yang manis. Padahal kebenaran tidak selalu semanis dan sebenar seperti yang dinarasikan.

Berita Terkait :  Lampu Lentera Meriahkan Malam Kemerdekaan Ke-80 RI di Bojonegoro

Di titik inilah persoalan menjadi lebih besar dari satu nama. Mengapa kita begitu mudah percaya. Mengapa cerita yang menyentuh perasaan sering kali mengalahkan kebutuhan akan verifikasi. Hingga Penulis menemukan unsur kedua yang perlu dicermati pula, yaitu bagaimana publik Indonesia menyikapi berita viral. Di sinilah cermin terbesar diarahkan ke kita semua. Publik Indonesia dikenal hangat, empatik, dan cepat tersentuh. Namun empati tanpa verifikasi mudah berubah menjadi amplifikasi hoaks. Viral sering dianggap valid. Padahal kebenaran tidak pernah diukur dari jumlah likes atau shares. Budaya crosscheck, membaca sumber, dan menahan jempol masih kalah cepat dibanding dorongan emosional untuk membagikan cerita yang terasa baik.

Berbagai riset internasional memberi jawabannya. Studi besar oleh Vosoughi, Roy, dan Aral pernah menganalisis sekitar 126 ribu cerita yang dibagikan oleh lebih dari 3 juta pengguna Twitter. Hasilnya jelas. Berita palsu menyebar lebih cepat dan lebih luas dibandingkan berita benar. Bukan karena lebih akurat, tetapi karena lebih baru dan lebih menggugah emosi. Temuan lanjutan menunjukkan bahwa berita palsu juga lebih mungkin mencapai audiens yang jauh lebih besar dalam waktu singkat karena memicu keterkejutan dan resonansi emosional.

Di sebuah penelitian lain juga memperkuat temuan ini. Secara konsisten ditunjukkan bahwa emosi bekerja lebih cepat daripada rasionalitas dalam konsumsi informasi digital. Fakta membutuhkan waktu untuk dipahami, sementara emosi bekerja seketika dan mendorong impuls berbagi.

Berita Terkait :  Politik Komunikasi Ala Arek Suroboyo dalam Mengakhiri Ketegangan

Kondisi ini menjadi semakin relevan di Indonesia. Laporan Digital 2025 dari DataReportal mencatat bahwa pada awal 2025 terdapat sekitar 143 juta identitas pengguna media sosial di Indonesia, setara dengan lebih dari separuh populasi. Jutaan orang menghabiskan berjam jam setiap hari di ruang digital. Ekosistem ini sangat dinamis, tetapi juga rentan terhadap misinformasi bila tidak dibarengi literasi digital yang memadai.

Pun analisis bibliometrik dalam berbagai jurnal menunjukkan bahwa literasi informasi dan literasi digital memiliki korelasi kuat dengan kemampuan seseorang mengenali berita palsu. Artinya, melawan hoaks bukan soal kepintaran semata, melainkan kebiasaan berpikir kritis yang terus dilatih. Di sinilah empati dan asumsi kerap bercampur. Kita ingin percaya karena ceritanya baik. Kita ingin membagikan karena terasa menyentuh. Padahal tidak semua kabar baik adalah kabar benar. Viral tidak pernah menjadi ukuran validitas.

Ada hal lain yang saya cermati pula, yaitu sisi eksposur tak sengaja dimana adanya sebuah lembaga pendidikan awak kabin yang memberi kesempatan belajar gratis, dan kemungkinan bisa jadi ikut diuntungkan. Lho kok bias begitu? Secara langsung, memang tidak ada bukti keuntungan finansial atau promosi berbayar. Namun secara tidak langsung, itu adalah dalam bentuk eksposur, penguatan citra, dan meningkatnya kesadaran publik. Ini bukan kesalahan kok melainkan realitas era digital dimana setiap tindakan empatik di ruang viral hampir pasti akan berjejak publikasi meskipun akhirnya yang menentukan etis atau tidaknya bukan eksposurnya, melainkan kejujuran informasi yang disampaikan.

Berita Terkait :  Siapkan SDM Unggul di Era Human Capital, Rancang Inovasi Program Aplikasi CORE Path

Coklat hangat manis di “gelas beling bergambar ayam jago” yang dibuatkan istri saya sejam lalu hampir habis dan saya menarik napas lega ketika bisa menarik garis simpul yang lebih jelas sekarang; bahwa Nisya diterima sebagai pramugari Garuda Indonesia sangat mungkin merupakan hoaks atau setidaknya informasi tak berdasar. Ia lebih menyerupai harapan kolektif yang diviralkan, bukan fakta yang dikonfirmasi. Kisah Nisya bukan sekadar cerita tentang seseorang yang pernah salah lalu diberi kesempatan. Penulis lebih suka menamainya sebagai potret zaman. Tentang bagaimana hoaks bisa terdengar lebih meyakinkan daripada fakta, bagaimana empati bisa bercampur promosi tanpa disadari, dan bagaimana publik sering lupa bahwa kebenaran butuh waktu untuk diverifikasi. Empati tetap perlu dijaga. Namun di era banjir informasi, verifikasi adalah bentuk kepedulian tertinggi. Ruang publik yang sehat tidak dibangun dari cerita yang cepat dipercaya, melainkan dari kebiasaan berpikir jernih dan keberanian untuk bertanya, “Apakah ini benar atau hanya ingin cepat dipercaya?”.

Menahan jempol kadang lebih mulia daripada ikut membagikan. Bukan karena kita dingin, tetapi karena kita peduli. Bukan karena kita sinis, melainkan karena kita ingin ruang publik tetap waras. Di tengah dunia yang berlomba menjadi yang tercepat viral, mungkin yang paling dibutuhkan justru mereka yang bersedia berjalan pelan. Bertanya. Memastikan. Dan menjaga akal sehat tetap hidup. (CTun)

———— *** ————-

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru