Surabaya, Bhirawa
Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) PCM Tambaksari gelar Baitul Arqam 2. Kegiatan yang digelar 16–17 Januari 2026 menghadirkan ruang refleksi sekaligus inspirasi bagi 65 peserta dari berbagai unsur persyarikatan. Sekaligus memupukkan semangat ideologis dan pengabdian para kader Muhammadiyah.
Salah satu sesi yang paling menyita perhatian adalah pemaparan dari dr. Hj. Zuhrotul Mar’ah, kader militan Muhammadiyah yang kini mengemban amanah sebagai Anggota DPRD Kota Surabaya. Mengusung tema “Kader Berideologi, Berdaya, dan Berkontribusi”, dr. Zuhro sapaan akrabnya tidak hanya menyampaikan teori, tetapi membagikan perjalanan hidup dan pengalamannya mengimplementasikan ideologi Muhammadiyah di ruang publik.
Di hadapan peserta yang berasal dari unsur PRM, ‘Aisyiyah, AMM, hingga para guru AUM, dr. Zuhro menegaskan bahwa kader Muhammadiyah adalah “anak panah” organisasi yang harus melesat tepat sasaran sesuai kebutuhan zaman.
“Seorang kader Muhammadiyah di ranah publik harus menjadi problem solver. Jabatan di DPRD adalah alat dakwah amar ma’ruf nahi munkar untuk memastikan kebijakan pemerintah selaras dengan kemaslahatan umat,” ungkapnya.
Sebagai sosok yang tumbuh besar dalam lingkungan Persyarikatan, dr. Zuhro memandang peran legislator bukan sekadar jabatan politik, melainkan jalan pengabdian. Ia berbagi pengalaman bagaimana nilai Tajdid (pembaharuan) dan Tarjih (pemurnian) diterjemahkan dalam perjuangan kebijakan, khususnya di bidang kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan sosial di Kota Surabaya.
Tak berhenti di sana, dr. Zuhro juga membekali peserta dengan sejumlah pesan praktis tentang penguatan kapasitas diri kader. Ia menekankan pentingnya menjaga integritas, membangun kemandirian ekonomi dan intelektual, serta menghadirkan aksi nyata di tengah masyarakat.
“Integritas adalah marwah kader. Kita harus terus belajar, beradaptasi dengan teknologi Society 5.0, agar tidak mudah diintervensi kepentingan yang merugikan umat,” tuturnya.
Ia mencontohkan bagaimana koordinasi antara pimpinan cabang dan kader di legislatif mampu mempercepat solusi atas persoalan-persoalan lokal di wilayah Tambaksari. Menurutnya, langkah kecil yang konsisten di tingkat akar rumput justru menjadi kunci keberhasilan dakwah.
“Jangan menunggu kegiatan besar untuk bergerak. Mulailah dari kajian-kajian kecil yang rutin di ranting. Dari sanalah kedekatan emosional dan intelektual dengan warga terbangun,” pesannya.
Kalimat demi kalimat dr. Zuhro kian menggetarkan semangat peserta ketika ia menekankan pentingnya kehadiran nyata Muhammadiyah di tengah masyarakat.
“Kepercayaan masyarakat tidak lahir dari megahnya gedung, melainkan dari istiqamahnya kita hadir melalui ilmu dan solusi. Mari ketuk pintu-pintu rumah warga dengan cahaya kajian, karena ranting yang hidup adalah jantung yang memompa napas kejayaan Muhammadiyah,” tegasnya.
Sebagai penutup, dr. Zuhrotul Mar’ah kembali mengingatkan bahwa kader Muhammadiyah harus memiliki tiga kualifikasi utama: berideologi, berdaya, dan berkontribusi. Pemahaman mendalam terhadap rumusan ideologi Muhammadiyah, kemampuan adaptasi di era modern, serta keberanian menjadi penggerak perubahan menjadi syarat mutlak keberlangsungan organisasi.
“Jadilah kader yang tidak hanya berwacana, tetapi berdaya dan berkontribusi nyata. Dengan integritas yang kokoh dan kemandirian intelektual, kita akan mampu menghadapi tantangan globalisasi sekaligus menjaga relevansi Muhammadiyah,” pungkasnya.
Kegiatan Baitul Arqam 2 ini ditutup dengan diskusi interaktif yang hangat. Para peserta pun pulang membawa satu kesadaran bersama: menjadi kader Muhammadiyah berarti siap menjadi penggerak perubahan, di level dan peran apa pun mereka berada. [ina]

