24 C
Sidoarjo
Wednesday, January 14, 2026
spot_img

KKN Berdayakan Candiwatu: Melawan Stunting Sejak Dini


Oleh :
Bagus Budhi Dharmawan
Mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, Indonesia

Kesadaran masyarakat akan pentingnya pencegahan stunting terus mengalami peningkatan, terutama di lingkungan pedesaan.Di Desa Candiwatu, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) turut berperan aktif dalam upaya pencegahan stunting melalui kegiatan edukasi kesehatan yang melibatkan kader posyandu dan warga setempat. Kegiatan ini menjadi langkah nyata dalam membangun pemahaman masyarakat mengenai bahaya stunting dan cara pencegahannya sejak dini.

Kegiatan sosialisasi tersebut diikuti oleh warga desa dan kader posyandu yang menunjukkan antusiasme tinggi selama kegiatan berlangsung. Materi yang disampaikan dirancang dengan bahasa sederhana dan mudah dipahami dan praktik secara langsung membuat makanan, sehingga warga tidak hanya menjadi pendengar, tetapi juga terlibat aktif dalam diskusi dan tanya jawab seputar stunting dan kesehatan anak.

Kolaborasi antara mahasiswa KKN, kader posyandu, dan warga menjadi kunci keberhasilan kegiatan ini. Kader posyandu berkontribusi dengan berbagi pengalaman lapangan dalam mendampingi ibu hamil dan balita, sementara warga, khususnya para orang tua, terbuka dalam berbagi pengalaman terkait pola asuh, pemenuhan gizi, serta kebiasaan sehari-hari yang memengaruhi tumbuh kembang anak. Salah satu mahasiswa KKN menjelaskan bahwa metode dialog dipilih agar edukasi yang diberikan lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.

Menurutnya, upaya pencegahan stunting akan lebih efektif apabila dilakukan melalui komunikasi dua arah, sehingga terjadi proses saling belajar antara mahasiswa dan warga desa. Kader posyandu Desa Candiwatu juga menyampaikan apresiasi atas kehadiran mahasiswa KKN. Mereka menilai ide dan pendekatan yang dibawa mahasiswa mampu meningkatkan minat serta kesadaran warga dalam mengikuti kegiatan kesehatan, sekaligus memperkuat pemahaman tentang pentingnya perhatian terhadap gizi dan kesehatan anak sejak usia dini.

Berita Terkait :  400 Tim Genzi Ikuti Olimpiade Vokasi di Universitas Brawijaya

Melalui kegiatan ini, masyarakat diharapkan semakin memahami bahwa pencegahan stunting dimulai dari lingkungan keluarga. Pemenuhan gizi seimbang, penerapan pola asuh yang tepat, serta pemantauan pertumbuhan anak secara rutin menjadi langkah awal dalam menciptakan generasi yang sehat dan berkualitas. Sinergi antara mahasiswa KKN, kader posyandu, dan warga Desa Candiwatu membuktikan bahwa upaya melawan stunting dapat dimulai dari desa. Dengan kerja sama dan kepedulian bersama, harapan untuk mewujudkan generasi yang lebih sehat bukan hanya sekadar wacana, tetapi menjadi tujuan yang dapat dicapai bersama.

Kegiatan sosialisasi di Desa Candiwatu dihadiri oleh lebih dari 30 warga (kebanyakan ibu-ibu) dan seluruh kader posyandu setempat. Kolaborasi dengan kader posyandu berjalan efektif; kader membantu mengorganisir kegiatan dan memperkuat materi penyuluhan berdasarkan pengalamannya mendampingi ibu dan balita sehari-hari. Selama sesi, mahasiswa KKN aktif mendampingi proses posyandu rutin – seperti pendataan hadir, penimbangan berat badan, dan pengukuran tinggi badan anak – sekaligus menyelipkan edukasi gizi dan pencegahan stunting. Misalnya, saat melakukan penimbangan, mahasiswa berinteraksi dengan orang tua tentang arti hasil timbang dan pentingnya pertumbuhan seimbang. Pendekatan dialogis terbukti meningkatkan partisipasi warga. Materi disajikan singkat lalu dilanjutkan diskusi kelompok; ibu-ibu secara aktif bertanya mengenai pola asuh dan gizi anak.

Beberapa orang tua berbagi pengalaman sehari-hari, seperti kesulitan memenuhi menu gizi seimbang, dan mahasiswa memberikan saran praktis berdasarkan prinsip gizi seimbang. Dengan cara ini, masyarakat tidak hanya pasif mendengarkan, tetapi menjadi bagian proses pembelajaran. Observasi dan kuesioner menunjukkan bahwa mayoritas peserta menjadi lebih mengerti tentang cara mencegah stunting setelah sosialisasi. Hasil sosialisasi juga menunjukkan dampak positif pada peningkatan kesadaran. Para peserta memahami bahwa pencegahan stunting dimulai dari lingkungan keluarga dengan pemenuhan gizi ibu hamil dan balita, perawatan yang tepat, serta pemantauan tumbuh kembang rutin. Orang tua diajak memahami tanda-tanda stunting (misalnya anak lebih pendek dari teman sebaya) dan pentingnya asupan makanan bergizi seperti sayur, buah, dan protein hewani.

Berita Terkait :  Sesuaikan Perkembangan dan Kebutuhan Industri, Bekali Keterampilan Berbasis Teknologi

Kader posyandu menyatakan kegiatan ini meningkatkan antusiasme warga untuk datang rutin ke posyandu dan memperhatikan kesehatan anak. Diharapkan, peningkatan pemahaman ini akan berkelanjutan karena kader setempat terus menjadi fasilitator dan motivator kesehatan di desa. Diskusi hasil ini menegaskan pentingnya peran lokal dalam pencegahan stunting. Keterlibatan mahasiswa KKN memberikan energi baru dan media penyampai informasi yang segar bagi masyarakat. Hal ini sejalan dengan strategi nasional pencegahan stunting yang menekankan intervensi pencegahan lewat komunitas (komunikasi perubahan perilaku) dan keterlibatan lintas sektor. Bersama-sama, hasil berbagai program menunjukan bahwa kombinasi edukasi interaktif dan dukungan kader lokal dapat mendorong perubahan perilaku gizi ibu-bayi untuk menekan angka stunting. [*]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru