Oleh:
Maulana Ikhrom Ababil – mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Aktivitas ekonomi di Desa Candiwatu, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, tidak selalu berlangsung di pasar besar atau pusat perbelanjaan. Di desa yang berada di lereng Pacet ini, denyut ekonomi justru tumbuh dari dapur rumah warga dan lahan pertanian yang dikelola secara sederhana namun berkelanjutan.
Sejumlah warga Desa Candiwatu memanfaatkan hasil pertanian lokal untuk dikembangkan menjadi produk UMKM bernilai jual. Mulai dari olahan pangan rumahan hingga produk khas desa, kegiatan ini menjadi alternatif penghasilan sekaligus upaya menjaga keberlanjutan ekonomi keluarga. Meski dijalankan dengan peralatan terbatas, kualitas produk terus ditingkatkan melalui proses belajar bersama.
Peran perempuan desa menjadi salah satu kekuatan utama penggerak UMKM. Kelompok ibu rumah tangga aktif memproduksi makanan olahan dengan mengedepankan cita rasa lokal. Bagi mereka, UMKM bukan sekadar usaha tambahan, melainkan ruang untuk mandiri secara ekonomi tanpa meninggalkan peran domestik.
Pemerintah Desa Candiwatu mendorong pertumbuhan UMKM melalui pendekatan partisipatif. Pendampingan dilakukan secara bertahap, mulai dari pengemasan sederhana, pencatatan keuangan, hingga pengenalan pemasaran digital. Langkah ini bertujuan agar pelaku UMKM mampu bersaing tanpa kehilangan identitas lokalnya.
Keterlibatan pemuda desa turut memperkuat ekosistem UMKM. Mereka berperan dalam promosi produk melalui media sosial dan membantu memperluas jejaring pemasaran. Sinergi lintas generasi ini menciptakan suasana kolaboratif yang jarang terlihat namun berdampak nyata bagi perkembangan usaha kecil di desa.
Bagi Desa Candiwatu, UMKM bukan hanya soal peningkatan pendapatan, tetapi juga tentang menjaga kearifan lokal dan membangun ekonomi desa dari bawah. Dari dapur dan lahan sendiri, warga Candiwatu membuktikan bahwa kemandirian ekonomi dapat tumbuh dari desa, untuk desa. [*]

