26 C
Sidoarjo
Wednesday, January 14, 2026
spot_img

Cegah Radikalisme dan Pornografi, Pemkot Surabaya Batasi Penggunaan HP di Sekolah


Surabaya, Bhirawa
Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menggelar Sosialiasi atas kebijakan pembatasan penggunaan telepon seluler (HP) bagi pelajar di Convention Hall Arif Rahman Hakim Surabaya.

Langkah tegas tersebut diambil menyusul temuan mengkhawatirkan terkait dampak negatif gadget terhadap karakter dan keselamatan anak-anak, mulai dari paparan konten radikalisme hingga pornografi. Rabu, (14/1/2026)

Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi mengukapkan informasi mengejutkan dari pihak Densus 88 mengenai adanya anak sekolah yang terindikasi terpapar paham radikal melalui HP. Anak – anak tersebut mempelajari cara menyakiti orang lain hingga rencana tindakan berbahaya hanya dengan melihat tutorial di internet saat orang tua sibuk bekerja.

“Informasi dari Densus 88 ada anak terpapar radikal melalui HP, yang menyebabkan anak tersebut belajar ingin membunuh, belajar ingin menyakiti, melihat dari mana Melihat dari Gadget, Selain itu, ia juga menyoroti tingginya angka akses konten pornografi di kalangan pelajar yang ditemukan saat dilakukan pengecekan gawai,” jelasnya.

Lanjut Eri, menekankan HP tidak boleh digunakan selama proses belajar mengajar berlangsung agar siswa dapat berkonsentrasi penuh.

“Terdapat beberapa poin utama aturan tersebut meliputi, dimana siswa diperbolehkan membawa HP ke sekolah, namun harus disimpan di loker selama jam pelajaran, selanjutnya HP hanya boleh dikeluarkan jika ada instruksi dari guru untuk kebutuhan pembelajaran digital dan para guru dilarang menggunakan HP di dalam kelas saat mengajar agar dapat menjadi contoh kedisiplinan bagi siswa,” tutur Eri.

Berita Terkait :  BPBD Jatim Bersama 38 Kabupaten/Kota Siap Tingkatkan IKD Jatim

Wali Kota juga menginstruksikan Dinas Pendidikan (Dispendik) mengumpulkan orang tua murid guna diberikan edukasi mengenai cara memantau aktivitas digital anak, beliau menilai banyak orang tua yang kurang mengawasi karena kesibukan, sehingga kasih sayang mereka kurang.

“Jangan disalahkan anak-anaknya kalau orang tuanya tidak pernah mengecek, Pemkot Surabaya ingin menghidupkan kembali permainan tradisional untuk meningkatkan interaksi sosial anak-anak di dunia nyata dan mengurangi ketergantungan pada game online,” terang Eri.

Sementara itu, Kepala Dispendik Surabaya, Febrina Kusumawati menyampaikan Surabaya tengah mematangkan rencana besar untuk melindungi pelajar dari bahaya radikalisme, terorisme, dan konten negatif di media sosial.

“Langkah tersebut dilakukan dengan memberikan edukasi teknis kepada orang tua siswa mengenai cara mengawasi penggunaan gadget milik anak-anak mereka, rencana ini muncul sebagai respons atas arahan Wali Kota Surabaya guna meningkatkan kewaspadaan terhadap situasi keamanan dan pengaruh buruk dunia digital,” pungkasnya.

Febrina menekankan suoaya orang tua tidak lagi menjadikan ponsel sebagai alat untuk sekadar membuat anak diam agar tidak merepotkan, tanpa pengawasan ketat, anak-anak rentan terpapar pengaruh buruk yang dapat mengancam masa depan mereka.

“Hp ada sisi positif dan negatifnya, kalau dikelola dengan baik akan menjadi tajam dan positif, tetapi kalau tidak bisa dirawat serta diawasi, orang tua sendiri yang akan kesulitan ke depannya,” imbuh Febrina. [ren.gat]

Berita Terkait :  Sumenep Investment Summit 2024, Upaya Tarik Investor Bangun Kota Keris

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru