26 C
Sidoarjo
Wednesday, January 14, 2026
spot_img

Geopolitik Global Memanas, Jawa Timur Tak Boleh Sekadar Menonton

Oleh :
Munari Kustanto
Peneliti Muda Bappeda Sidoarjo ; Wakil Ketua Divisi Organisasi dan Penguatan Daerah Perhimpunan Periset Indonesia Provinsi Jawa Timur Periode 2022-2025

Ketegangan geopolitik global yang kita saksikan hari ini bukan lagi cerita jauh di ruang diplomasi.Rivalitas kekuatan besar, konflik kawasan, hingga gangguan rantai pasok dunia telah merembes ke ruang paling dekat dengan masyarakat.Hal ini terlihat dari harga bahan pokok, ketersediaan lapangan kerja, dan arah investasi di daerah.Bagi provinsi dengan basis industri dan logistik yang kuat seperti Jawa Timur, perubahan ini menjadi ujian sekaligus peluang.

Dalam perspektif sosiologi pembangunan, perubahan global tidak pernah berdiri sendiri.Ia membentuk struktur peluang dan risiko bagi masyarakat lokal. Immanuel Wallerstein, melalui world-systems theory, menjelaskan bahwa dunia tersusun atas relasi “pusat” dan “pinggiran”.

Arus modal, teknologi, dan produksi bernilai tinggi cenderung terkonsentrasi pada wilayah yang siap dan stabil. Daerah yang tidak siap tentu akan tertinggal dan hanya menjadi pemasok tenaga kerja murah atau pasar pasif. Artinya, posisi suatu wilayah dalam peta global tidak ditentukan semata oleh geografi, melainkan oleh kapasitas kebijakan dan kelembagaan.

Data nasional menunjukkan bahwa Indonesia masih menjadi magnet investasi di tengah ketidakpastian global.Realisasi investasi tahun 2024 menembus lebih dari Rp1.700 triliun dengan sektor manufaktur sebagai kontributor terbesar.Kondisi ini menandakan pergeseran rantai pasok dunia, di mana perusahaan global mencari lokasi produksi yang aman, efisien, dan berdaya saing. Provinsi Jawa Timur, dengan kawasan industri, pelabuhan, dan jejaring logistik tentu berada di garis depan dalam menangkap peluang tersebut.

Berita Terkait :  Aksi Cepat JSC Dinsos Jatim, Jangkau Lansia Penjual Parfum Viral di Lamongan

Kabupaten Sidoarjo, sebagai bagian dari Gerbangkertosusila dapat menjadi contoh nyata. Kedekatannya dengan pusat perdagangan dan industri nasional menjadikannya simpul penting dalam arus produksi dan distribusi.Meski demikian, peluang tentu tidak datang otomatis.Tanpa kesiapan kebijakan, relokasi industri justru berisiko memunculkan tekanan sosial.Mulai dari persaingan tenaga kerja, keterpinggiran UMKM, hingga ketimpangan baru di tingkat lokal.

Pada sisi lain, sosiologi mengajarkan bahwa globalisasi bukan sekadar soal arus barang dan modal, melainkan proses sosial yang mengubah relasi kuasa, struktur kerja, dan identitas komunitas. Anthony Giddens menyebutnya sebagai “penjarakan ruang-waktu” (time-space distanciation).Sebuah keputusan di belahan dunia lain dapat mengubah hidup masyarakat di desa atau kota kita. Karena itu, geopolitik global seharusnya dibaca sebagai variabel perencanaan daerah, bukan sekadar isu luar negeri.

Apa yang perlu dilakukan? Pertama, pemerintah daerah perlu mengintegrasikan dinamika global ke dalam kebijakan ekonomi dan tata ruang.Penyiapan kawasan industri siap investasi, kepastian regulasi, serta perizinan yang cepat dan transparan menjadi prasyarat. Dalam situasi dunia yang tidak pasti, investor akan memilih wilayah yang menawarkan kepastian dan efisiensi.

Kedua, penguatan UMKM harus menjadi arus utama. Pertumbuhan industri besar tanpa keterhubungan dengan usaha lokal hanya akan menciptakan pulau-pulau kemakmuran. Daerah perlu memfasilitasi kemitraan UMKM dengan industri dan logistik agar manfaat ekonomi menyebar dan berkelanjutan.

Ketiga, kualitas sumber daya manusia menjadi kunci.Perubahan geopolitik menggeser jenis industri dan kebutuhan keterampilan.Pendidikan vokasi, pelatihan kerja, dan sertifikasi berbasis kebutuhan pasar harus diperkuat agar tenaga kerja lokal tidak tersisih di tanahnya sendiri.Tanpa intervensi, bonus demografi bisa berubah menjadi beban sosial.

Berita Terkait :  Atlet Disabilitas SMP PGRI 1 Buduran Sidoarjo Melaju ke Peparda Jatim

Keempat, stabilitas ekonomi lokal tidak boleh diabaikan.Pengendalian inflasi, ketahanan pangan, dan perlindungan daya beli masyarakat adalah fondasi. Pertumbuhan tanpa stabilitas sosial hanya akan menumpuk masalah baru.

Geopolitik global memang tidak dapat dikendalikan oleh daerah. Namun, cara merespon sepenuhnya berada dalam ruang kebijakan pemerintah daerah. Dengan perencanaan yang adaptif, berbasis data, dan terkoordinasi lintas sektor.Dinamika global dapat dikonversi menjadi peluang untuk memperkuat struktur ekonomi lokal.

Jawa Timur-termasuk Sidoarjo-memiliki modal untuk tidak sekadar menjadi penonton.Di tengah dunia yang kian tak pasti akhir-akhir ini, daerah yang mampu membaca arah perubahan dan bertindak cepat justru berpeluang keluar sebagai pemenang pembangunan. Geopolitik boleh memanas, tetapi masa depan daerah tetap bisa ditentukan dari sini.

————- *** ————–

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru