Oleh :
Maulana Ikhrom Ababil, Muhammad Hafidz Syarifudin, Thiara Fulgentya Putri Djendy Febri Aditya Kurniawan, Bagus Budhi. D
Di banyak daerah Jawa Timur, umbi-umbian seperti singkong, ubi, dan talas bukan sekadar hasil panen, melainkan salah satu penopang hidup masyarakat. Umbi-umbian ini kerap diolah menjad olahani keripik, produk pangan sederhana yang memiliki nilai ekonomi cukup tinggi. Namun, di balik popularitas keripik sebagai camilan favorit lintas usia, masih tersimpan persoalan mendasar dalam proses produksinya rendahnya efisiensi pada tahap pemotongan bahan baku singkong.
Bagi sebagian pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), pemotongan umbi-umbian masih dilakukan secara manual. Pisau dapur atau alat potong sederhana menjadi pilihan utama, meskipun memakan waktu, tenaga, dan berisiko menghasilkan irisan yang tidak seragam. Padahal, dari sudut pandang produksi pangan, keseragaman irisan sangat menentukan kualitas akhir produk, mulai dari tingkat kematangan saat digoreng hingga kerenyahan keripik yang dihasilkan.
Secara akademis, efisiensi produksi merupakan salah satu indikator penting dalam penguatan sektor agroindustri skala kecil. Efisiensi tidak hanya dimaknai sebagai penghematan waktu, tetapi juga sebagai upaya mengoptimalkan sumber daya agar menghasilkan output maksimal dengan biaya minimal. Dalam konteks ini, penggunaan alat pemotong umbi-umbian yang efisien dan presisi menjadi bentuk penerapan teknologi tepat guna yang relevan dan realistis bagi UMKM pangan.
Teknologi sederhana berupa pemotong umbi yang mampu menghasilkan irisan seragam sesungguhnya membawa dampak berlapis. Pertama, dari aspek teknis, alat ini mempercepat proses produksi dan mengurangi kelelahan kerja. Kedua, dari aspek kualitas, ketebalan irisan yang konsisten memungkinkan proses penggorengan lebih merata, sehingga produk lebih stabil dan bernilai jual lebih tinggi. Ketiga, dari sisi ekonomi, efisiensi ini berpotensi meningkatkan kapasitas produksi tanpa harus menambah biaya tenaga kerja secara signifikan.
Lebih jauh, inovasi kecil seperti alat pemotong umbi-umbian mencerminkan bagaimana pengembangan teknologi tidak selalu harus rumit atau mahal. Pengalaman berbagai program pemberdayaan masyarakat menunjukkan bahwa teknologi tepat guna yang dirancang sesuai kebutuhan lokal justru lebih berkelanjutan. Ketika alat tersebut mudah digunakan, dirawat, dan direplikasi, maka peluang adopsinya di tingkat masyarakat menjadi jauh lebih besar.
Di sinilah peran perguruan tinggi, pemerintah, dan komunitas menjadi krusial. Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat, riset terapan, maupun program seperti KKN tematik, mahasiswa dan akademisi dapat berkontribusi langsung dalam merancang, menguji, dan menyempurnakan alat pemotong umbi-umbian yang sesuai dengan kondisi lapangan. Kolaborasi semacam ini tidak hanya menghasilkan solusi praktis, tetapi juga menjembatani pengetahuan akademik dengan kebutuhan riil masyarakat.
Pada akhirnya, efisiensi pemotong umbi-umbian bukan semata persoalan teknis produksi keripik. Ia adalah bagian dari upaya lebih besar untuk memperkuat ekonomi lokal, meningkatkan daya saing UMKM pangan, serta mendorong kemandirian masyarakat desa. Dari irisan umbi yang seragam, lahir harapan akan sistem produksi yang lebih adil, produktif, dan berkelanjutan. Inovasi memang sering lahir dari hal-hal sederhana. Namun ketika inovasi itu menyentuh kebutuhan dasar masyarakat, dampaknya bisa jauh lebih besar dari yang dibayangkan. [*]

