29 C
Sidoarjo
Wednesday, January 14, 2026
spot_img

Di Balik Seragam TNI, Babinsa di Kota Kediri Sukses Ternak Kenari Merah

Kota Kediri, Bhirawa
Di balik seragam loreng yang dikenakannya setiap hari, Sertu Supriadi menyimpan ketekunan lain di rumahnya. Babinsa Kelurahan Tinalan, Kota Kediri ini berhasil mengembangkan ternak Kenari Merah Lokal hingga bernilai ekonomi, tanpa mengesampingkan tugas utamanya sebagai prajurit TNI.

Di sela kesibukan menjalankan tugas kewilayahan, Supriadi memiliki rutinitas yang dijalani dengan disiplin. Setiap pagi dan sore, ia meluangkan waktu untuk merawat puluhan ekor Burung Kenari Merah Lokal atau Kenari Merlok, di rumahnya yang berada di Perumahan Doko Sragi, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri.

Dengan telaten, pria 45 tahun itu memberikan pakan berupa campuran sawi segar dan telur puyuh untuk menjaga kesehatan serta kualitas warna bulu kenari. Sementara untuk anakan, ia menerapkan perawatan khusus dengan tambahan telur puyuh rebus guna menunjang pertumbuhan.

”Untuk anakan memang perlu perhatian ekstra, terutama dari sisi makanan. Biasanya saya beri telur puyuh supaya cepat tumbuh dan warnanya bisa keluar,” ujar Supriadi di kediamannya, Selasa (13/1).

Ketertarikan Supriadi terhadap Kenari Merlok bermula pada 2009, saat dirinya masih bertugas di Malang dan tinggal di asrama TNI. Awalnya, ia hanya memelihara beberapa ekor sebagai hobi. Namun seiring waktu, ketertarikan itu berkembang menjadi keahlian beternak yang ditekuni secara serius.

Pengalaman selama 11 tahun di Malang menjadi bekal berharga ketika ia pindah tugas ke Kediri pada 2020. Di tengah meningkatnya tanggung jawab kedinasan, Supriadi kembali menata kandang dan menekuni ternak Kenari Merlok secara lebih terarah.

Berita Terkait :  Rumah Tua Roboh di Lawang Kabupaten Malang, Timpa Penghuni

”Awalnya ini murni hobi. Saya suka warna kenari Merlok karena terlihat beda dan lebih indah,” ceritanya.

Seiring bertambahnya jumlah ternak, minat dari rekan dan warga sekitar pun mulai muncul. Permintaan terus berdatangan. Pada awalnya, Supriadi hanya mematok harga seadanya, sekadar menutup biaya pakan dan perawatan.

””Yang penting dulu bisa buat ganti ongkos makan burung. Lama-lama kok makin banyak yang pesan,” katanya.

Kini, Supriadi memiliki puluhan ekor Kenari Merlok dengan berbagai usia dan kualitas. Setiap bulan, ia mampu menjual belasan ekor, mulai dari anakan usia satu bulan, burung tembean usia enam hingga delapan bulan, hingga pejantan berkualitas tinggi.

Harga jual Kenari Merlok pun bervariasi. Anakan usia satu bulan dibanderol mulai Rp250 ribu per ekor, sementara pejantan dengan warna merah pekat dan merata dapat mencapai Rp2 juta per ekor. Kepekatan serta pemerataan warna bulu menjadi faktor utama penentu nilai jual.

”Semakin merah dan rata warnanya, harganya juga semakin tinggi. Itu yang paling dicari,” jelasnya.

Meski usaha ternaknya kini terbilang menjanjikan, Supriadi menegaskan seluruh aktivitasnya itu tetap dijalankan di sela tugas sebagai Babinsa. Ia mengatur waktu dengan ketat agar kewajiban sebagai prajurit TNI tetap menjadi prioritas utama.

Bagi Supriadi beternak Kenari Merlok bukan sekadar sumber penghasilan tambahan, melainkan cerminan keseimbangan antara tugas, hobi dan dedikasi. [van.nov.fen]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru